Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Cadangan Hanya 45 Hari, Filipina Aktifkan Dana Darurat untuk Amankan Pasokan BBM

Cadangan Hanya 45 Hari, Filipina Aktifkan Dana Darurat untuk Amankan Pasokan BBM Kredit Foto: Sufri Yuliardi
Warta Ekonomi, Jakarta -

Filipina mengaktifkan dana darurat sebesar ₱20 miliar atau sekitar Rp5,58 triliun untuk memperkuat ketahanan energi dan menjaga stok dari Bahan Bakar Minyak (BBM). Negara itu diketahui terdampak gangguan pasokan energi dari Timur Tengah.

Kementerian Energi Filipina menyatakan langkah ini merupakan upaya tegas untuk melindungi masyarakat dari guncangan pasokan eksternal sekaligus memastikan ketersediaan bahan bakar yang cukup dan stabil.

Baca Juga: BlackRock Peringatkan Ancaman Resesi Global Jika Iran Tetap Jadi Ancaman di Timur Tengah

Dalam program tersebut, pemerintah berencana membeli hingga dua juta barel bahan bakar guna menopang pasokan domestik. Filipina juga akan meningkatkan pembelian produk minyak olahan serta gas petroleum cair (LPG).

Sebelumnya, Presiden Filipina Ferdinand Marcos Jr. mengatakan bahwa saat ini negaranya hanya memiliki cadangan minyak sekitar 45 hari. Hal tersebut membuat negaranya rentan terhadap gangguan pasokan global.

Ketergantungan tinggi terhadap impor energi menjadi salah satu faktor utama kerentanan tersebut. Filipina diketahui mengimpor hampir seluruh kebutuhan minyak mentahnya dari Timur Tengah.

Sebelumnya, Marcos Jr. sendiri telah menetapkan status darurat energi nasional sebagai respons terhadap konflik antara Amerika Serikat, Israel dan Iran. Konflik terkait diketahui telah menimbulkan ancaman serius terhadap pasokan energi dunia.

International Energy Agency bahkan menyebut gangguan yang terjadi sebagai yang terbesar dalam sejarah, mencerminkan skala dampak terhadap pasar energi global.

Adapun Amerika Serikat baru-baru ini menyebut bahwa pembicaraan negosiasi damai masih berlangsung dengan Iran. Washington menyebut bahwa pembicaraan bersifat produktif dan  bisa berujung kesepakatan dengan Teheran.

Menurut laporan, proposal ini sendiri berisi lima belas poin yang telah diajukan oleh Presiden Amerika Serikat, Donald Trump. Menurut laporan, proposal terkait menekankan pentingnya penghentian pengembangan teknologi nuklir oleh Iran.

Trump ingin negara tersebut untuk menghancurkan stok uranium yang diperkaya tinggi dan menghentikan program pengayaan uranium. Iran juga diminta untuk membatasi program rudal balistik dan menghentikan dukungan mereka terhadap sekutu regional di Timur Tengah.

Iran sendiri dilaporkan masih meninjau proposal untuk mengakhiri konflik dengan Israel dan Amerika Serikat. Sebelumnya, Teheran memberikan respons yang negatif dan menyatakan tidak ada negosiasi dengan Washington.

Baca Juga: Taiwan Waspadai China Manfaatkan Perang Amerika Serikat dan Iran

Laporan terkait sempat membuat harga minyak turun, namun ketidakpastian yang tinggi membuat pasar masih sensitif terhadap setiap perkembangan geopolitik, terutama terkait potensi eskalasi lanjutan.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Editor: Aldi Ginastiar