Iran Desak Amerika Serikat Tinggalkan Wilayah Timur Tengah
Kredit Foto: Istimewa
Iran mengatakan bahwa kunci stabilitas kawasan berada dalam tangan dari Amerika Serikat. Menurutnya, negara tersebut harus mundur dan merelakan kepentingannya di Timur Tengah.
Dikutip dari Iranian Students' News Agency (ISNA), Direktur Jenderal Urusan Parlemen dan Hukum Kementerian Luar Negeri Iran, Hossein Noushabadi, menyatakan bahwa kenyamanan, kesejahteraan, dan kemajuan negara-negara dalam kawasan bergantung pada perginya pihak dari Washington.
Baca Juga: Amerika Serikat Sita Hampir US$500 Juta Aset Kripto Iran
Noushabadi mengatakan pihak asing selama ini selalu berupaya menguasai kawasan strategis dari Timur Tengah. Padahal menurutnya, kawasan tersebut memiliki identitas masing-masing, termasuk identitas dan peradaban dari Iran.
Kehadiran Amerika Serikat menurutnya adalah salah satu faktor yang mengganggu stabilitas kawasan. Iran menegaskan akan terus menolak keberadaan kekuatan asing, khususnya dalam kawasan dari Timur Tengah.
Noushabadi menyebut hal tersebut sebagai bagian perjuangan dari Iran. Ia merujuk pada sejarah bagaimana negaranya mengusir kekuatan kolonial seperti Portugal, Belanda dan Inggris dari Teluk Persia.
Ia juga menyatakan bahwa pihaknya siap menghadapi apa yang disebutnya sebagai ekspedisi militer dari Amerika Serikat. Pernyataan ini menegaskan posisi keras negara tersebut terhadap Washington.
Pernyataan Iran muncul di tengah konflik yang belum mereda antara kedua negara, termasuk blokade dan gangguan jalur pelayaran dari Selat Hormuz. Ia merupakan jalur vital bagi perdagangan minyak dan gas dunia.
Sebelumnya, Amerika Serikat melakukan pertemuan dengan sejumlah petinggi perusahaan energi terkait dengan gejolak harga minyak akibat perangnya dengan Iran. Hal ini terjadi setelah adanya pengumuman negara itu akan menekan pasokan minyak dari Teheran.
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump baru-baru ini dilaporkan menggelar pertemuan tersebut untuk membahas sejumlah aspek penting, mulai dari produksi minyak, kontrak berjangka (oil futures), pengiriman (shipping) hingga gas alam.
“Mereka membahas langkah yang telah diambil presiden untuk menstabilkan pasar minyak global serta opsi jika blokade perlu dilanjutkan selama berbulan-bulan, sambil meminimalkan dampaknya bagi konsumen dari Amerika Serikat,” kata Gedung Putih.
Pertemuan itu sendiri dihadiri oleh sejumlah pihak yang memiliki posisi penting, misalnya Bos Chevron, Mike Wirth. Adapun pertemuan tersebut juga dihadiri sejumlah pejabat tinggi, antara lain Scott Bessent, Susie Wiles, Steve Witkoff hingga Jared Kushner.
Baca Juga: Uni Eropa: Konflik Iran-Amerika Serikat Akan Berdampak Panjang
Gedung Putih sendiri mengatakan bahwa pihaknya akan terus melakukan blokade terhadap Iran. Ia akan menjadi alat utama tekanan terhadap Teheran. Washington percaya langkah tersebut memberi leverage maksimal bagi Amerika Serikat.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Editor: Aldi Ginastiar
Tag Terkait: