Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Produksi Listrik Pertamina Geothermal (PGEO) Naik 15,22% di Kuartal I 2026

        Produksi Listrik Pertamina Geothermal (PGEO) Naik 15,22% di Kuartal I 2026 Kredit Foto: PGE
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO) mencatat kinerja positif pada kuartal I 2026 dengan pertumbuhan produksi listrik sebesar 15,22% secara tahunan (YoY) menjadi 1.370 gigawatt hour (GWh). Kinerja tersebut disampaikan manajemen dalam paparan earnings call pada Selasa (5/5/2026).

        Direktur Operasi PGEO, Andi Joko Nugroho mengatakan bahwa sejalan dengan peningkatan produksi, perusahaan membukukan pendapatan sebesar US$116,56 juta, naik 14,82% dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar US$101,51 juta.

        Baca Juga: Kinerja Terjaga, Produksi Migas Pertamina Hulu Energi (PHE) Capai 956 Ribu BOEPD pada Triwulan I 2026

        Laba bersih perusahaan juga melonjak signifikan sebesar 40% menjadi US$43,899 juta, dari sebelumnya US$31,352 juta. Peningkatan ini mencerminkan optimalisasi operasional.

        “Tren positif ini mencerminkan kinerja operasional yang semakin optimal, seiring dengan terjaganya keandalan aset dan peningkatan efisiensi produksi,” ujarnya.

        Ia menambahkan kontribusi utama berasal dari sejumlah wilayah kerja seperti Kamojang (483 GWh), Lahendong (213 GWh), Ulubelu (408 GWh), Lumut Balai (240 GWh), dan Karaha (26 GWh). “Peningkatan ini turut diperkuat oleh beroperasinya PLTP Lumut Balai Unit 2 berkapasitas 55 MW sejak pertengahan 2025,” katanya.

        Dari sisi operasional, PGEO juga mencatat peningkatan capacity factor sebesar 5,03% menjadi 90,77% serta availability factor naik menjadi 99,63%, menegaskan keandalan energi panas bumi sebagai sumber energi baseload nasional.

        Untuk 2026, PGEO menargetkan produksi listrik dan uap terkonsolidasi mencapai 5.255 GWh. Perusahaan juga terus mengakselerasi sejumlah proyek strategis, termasuk pengembangan PLTP Hululais Unit 1 & 2 dengan kapasitas total 110 MW serta proyek co-generation hingga 230 MW.

        Dalam jangka panjang, PGEO menargetkan kapasitas terpasang mencapai 1 gigawatt (GW) pada 2028 dan meningkat menjadi 1,8 GW pada 2034, dengan potensi pengembangan hingga 3 GW.

        Beberapa proyek yang tengah dikembangkan antara lain Ulubelu Binary Unit (30 MW) yang ditargetkan beroperasi pada 2027, serta sejumlah proyek lain yang direncanakan commercial operation date pada 2028, termasuk Kamojang LP, Lahendong LP, dan Lumut Balai BU.

        Selain itu, perusahaan juga menyiapkan pengembangan PLTP Lumut Balai Unit 3 (55 MW) yang ditargetkan beroperasi pada 2030.

        Dari sisi keberlanjutan, PGEO mencatat penghindaran emisi sebesar 1,16 juta ton CO2e hingga Maret 2026 dibandingkan pembangkit berbasis batu bara.

        Saat ini, PGEO mengelola 15 Wilayah Kerja Panas Bumi (WKP) dengan total kapasitas terpasang 1.932 MW, terdiri dari 727 MW yang dioperasikan langsung dan 1.205 MW melalui skema Kontrak Operasi Bersama.

        Baca Juga: Kinerja Terjaga, Produksi Migas Pertamina Hulu Energi (PHE) Capai 956 Ribu BOEPD pada Triwulan I 2026

        Kinerja ini memperkuat posisi PGEO sebagai salah satu pemain utama dalam transisi energi bersih di Indonesia serta mendukung target net zero emission 2060.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Editor: Aldi Ginastiar

        Bagikan Artikel: