Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        China Mulai Tertekan, Evaluasi Regulasi Barat Dorong Diversifikasi Pasokan Rare Earth

        China Mulai Tertekan, Evaluasi Regulasi Barat Dorong Diversifikasi Pasokan Rare Earth Kredit Foto: Istimewa
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Perubahan regulasi di Amerika Serikat dan Uni Eropa mulai mendorong pergeseran besar dalam rantai pasok global mineral langka (rare earth). Hal ini ditandai dengan beralihnya pembeli dari China ke pemasok alternatif.

        Chief Executive Officer (CEO) Lynas Rare Earths, Amanda Lacaze mengatakan kebijakan baru tersebut memengaruhi keputusan pembelian pelanggan global.

        Baca Juga: GoPay Dukung Ekspansi QRIS Antarnegara ke China, Permudah Transaksi WNI di Luar Negeri

        “Kami melihat perubahan keputusan pembelian agar konsumen dapat mematuhi regulasi baru,” ujarnya.

        Selama ini, China merupakan produsen terbesar dan termurah untuk logam tanah jarang serta magnet yang digunakan dalam industri otomotif, teknologi, hingga pertahanan. Namun, pembatasan ekspor oleh Beijing tahun lalu menyebabkan gangguan pada rantai pasok global dan meningkatkan kekhawatiran industri.

        Sebagai respons, Amerika Serikat berkomitmen mendukung harga yang lebih tinggi untuk mendorong produksi di luar China. Namun, upaya ini menghadapi tantangan karena banyak pembeli masih tergoda oleh harga yang lebih murah dari pemasok China.

        Ke depan, Washington akan memberlakukan aturan pengadaan baru yang membatasi penggunaan material tertentu seperti magnet, tantalum, dan tungsten dari sumber tertentu.

        Sementara itu, Uni Eropa juga memperketat aturan melalui kerangka critical raw materials untuk mengurangi ketergantungan pada satu negara pemasok.

        Lacaze menilai langkah ini mulai mengubah perilaku pasar, meski ia mendorong pemerintah untuk lebih agresif dalam mendukung industri rare earth di luar China, termasuk dengan menetapkan harga dasar (floor price).

        Di sisi lain, Australia tengah memperkuat posisinya sebagai pemasok utama mineral kritis bagi negara-negara sekutu. Canberra bahkan mempertimbangkan pembentukan cadangan strategis yang kemungkinan akan mencakup mekanisme harga minimum.

        Baca Juga: Kunjungan Turis China Naik 13,55 Persen

        Langkah-langkah ini mencerminkan pergeseran geopolitik dalam sektor sumber daya strategis, di mana keamanan pasokan kini menjadi prioritas utama di tengah meningkatnya rivalitas global dan kebutuhan terhadap teknologi energi bersih serta kendaraan listrik.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Editor: Aldi Ginastiar

        Bagikan Artikel: