Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Dahlan Iskan Manajemen Krisis, Senggol Pembangunan IKN

Dahlan Iskan Manajemen Krisis, Senggol Pembangunan IKN Kredit Foto: Istimewa
Warta Ekonomi, Jakarta -

Mantan Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Dahlan Iskan, menyoroti pentingnya kepekaan seorang pemimpin dalam menghadapi krisis organisasi.

Di samping membagikan strategi manajemen manajerial, ia juga melontarkan kritik terhadap efisiensi investasi pada sejumlah proyek infrastruktur raksasa di Indonesia, termasuk pembangunan Ibu Kota Negara (IKN).

Terkait manajemen krisis, Dahlan menyebut bahwa kegagalan banyak organisasi sering kali bermula dari ketidakmampuan pemimpin dalam mendeteksi sinyal bahaya sejak dini.

Menurutnya, seorang pemimpin yang tanggap bahkan harus berani 'menciptakan' kesadaran krisis di lingkungan internalnya apabila melihat para bawahan terlalu terlena dalam situasi normal atau zona nyaman.

Untuk bisa membawa perusahaan keluar dari badai krisis, Dahlan menekankan bahwa setiap organisasi wajib memiliki skala prioritas yang disusun secara sistematis, bukan sekadar retorika belaka. Ia menyarankan agar seluruh masalah diinventarisasi secara terbuka dan dirumuskan secara padat menjadi satu kalimat yang konklusif.

"Tidak semua persoalan harus diselesaikan. Dari situ lahir skala prioritas berdasarkan kemampuan dan pembiayaan,” jelas Dahlan.

Ia juga menegaskan bahwa eksekusi dari prioritas tersebut menuntut alokasi sumber daya yang optimal dan tanpa pandang bulu.

Baca Juga: IKN Tak Bisa Dibatalkan, Pembukaan Kampus PTN dan Alih Fungsi Bandara Jadi Solusi

"Kalau itu prioritas nomor satu, maka orang terbaik harus ditempatkan di situ. Tidak boleh ada kompromi karena kepentingan,” paparnya.

Pembahasan tidak hanya berhenti pada level korporasi. Dahlan turut menyinggung isu makro ekonomi nasional, khususnya menyoroti rendahnya efektivitas pendanaan proyek-proyek infrastruktur besar seperti IKN. Proyek bernilai fantastis tersebut dinilai belum memberikan imbal hasil yang optimal bagi negara.

Kritik ini dikaitkan dengan memburuknya angka Incremental Capital Output Ratio (ICOR) Indonesia. ICOR merupakan indikator ekonomi yang mengukur seberapa efisien investasi yang ditanamkan mampu menghasilkan pertumbuhan ekonomi yang nyata.

“Kita mengeluarkan ratusan triliun, tapi dapat apa? Belum dapat apa-apa, itu tidak ilmiah,” kritik Dahlan dengan tajam.

Ia pun mengingatkan kembali prinsip dasar efisiensi anggaran negara yang seharusnya terukur dengan jelas. “Setiap satu rupiah yang dikeluarkan harus menghasilkan berapa rupiah. Itu prinsip ICOR, dan kita buruk sekali di situ,” pungkasnya.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Editor: Ferry Hidayat