Minat Bertani Tumbuh Berkat Program MBG dan KDMP, Zulhas: Petani Milenial Bisa Cuan Rp60 Juta per Hektare
Kredit Foto: Rahmat Saepulloh
Dunia pertanian kini tak lagi identik dengan pekerjaan tradisional dan kotor. Berkat perkembangan teknologi dan dukungan program pemerintah seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) serta Koperasi Desa Merah Putih (KDMP), sektor pertanian justru mulai dilirik generasi muda karena dinilai mampu menghasilkan keuntungan besar.
Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan menilai hadirnya program MBG menjadi angin segar bagi petani milenial karena pasar hasil panen kini semakin jelas dan menjanjikan.
“Apalagi dengan ada MBG tadi ya, sekarang anak muda ikut. Kedua pasar, kan? Nah sekarang ada MBG. Jualan banyak,” ujar Zulhas di Bandung, Minggu (10/5/2026).
Menurutnya, saat ini semakin banyak anak muda tertarik masuk ke dunia pertanian karena hasil panen lebih mudah dipasarkan. Dukungan teknologi modern juga membuat pekerjaan bertani jauh lebih praktis, efisien, dan menguntungkan dibanding sebelumnya.
Zulhas mengaku senang melihat banyak petani muda mulai memanfaatkan teknologi canggih dalam mengelola lahan pertanian. Ia menilai generasi muda lebih cepat beradaptasi dengan perkembangan teknologi dibanding petani generasi lama.
“Saya senang sekali dan mengapresiasi ini anak-anak muda dengan kecerdasannya ya, dengan memanfaatkan teknologi,” tuturnya.
Kini, berbagai teknologi pertanian modern mulai digunakan para petani milenial. Mulai dari sensor tanah untuk mendeteksi unsur hara, sistem penyiraman otomatis, hingga pemantauan kondisi lahan melalui aplikasi di telepon genggam.
“Ini sudah pakai pemanfaatan teknologi, nyiram sudah ada alat apa, sensornya, sudah ada alat cek lahannya, kemudian bisa integrasi, dan yang lebih hebat lagi bisa dicek dari handphonenya,” kata Zulhas.
Ia menjelaskan, penggunaan teknologi mampu memangkas biaya produksi sekaligus mempercepat proses kerja petani. Bahkan proses panen kini bisa dilakukan lebih efisien menggunakan mesin modern.
Karena itu, pemerintah terus mendorong keterlibatan generasi muda dalam sektor pertanian agar Indonesia tidak tertinggal dalam pemanfaatan teknologi pertanian modern.
“Jadi memang kita perlu anak-anak muda yang paham teknologi sehingga kita bisa memanfaatkan teknologi pertanian agar tidak ketinggalan,” jelasnya.
Zulhas bahkan optimistis profesi petani akan semakin diminati karena hampir semua komoditas pertanian kini memiliki nilai ekonomi tinggi. Ditambah lagi dengan rencana program Etanol 20 (E20) dari Presiden Prabowo Subianto yang diyakini membuka peluang besar bagi petani Indonesia.
Menurut perhitungan Zulhas, petani bisa memperoleh penghasilan hingga Rp60 juta per hektare per tahun hanya dari menanam komoditas seperti singkong, jagung, tebu, sayuran, hingga buah-buahan.
“Kalau E20 jalan, nanti bensin itu kan campuran E20. Jadi tanam apa saja dapat kira-kira sudah saya hitung Rp 60 juta per hektare,” katanya.
Ia bahkan membandingkan potensi pendapatan petani dengan pekerja pabrik. “Milih mana, Rp60 juta atau milih jadi buruh pabrik?” ujar Zulhas.
Sementara itu, transformasi pertanian modern juga diperlihatkan oleh startup pertanian asal Bandung, Habibi Garden. Pendiri Habibi Garden, Irsan, menjelaskan bahwa perusahaannya fokus mengembangkan teknologi pertanian presisi berbasis Internet of Things (IoT) dan Artificial Intelligence (AI).
Sejak 2017, Habibi Garden mengembangkan berbagai sensor pintar untuk membantu petani memantau kondisi tanah, menghemat penggunaan pupuk, hingga menjalankan sistem penyiraman otomatis berbasis aplikasi.
Baca Juga: Tak Paksa Anak Orang Kaya Ikut, Prabowo Tegaskan MBG untuk yang Membutuhkan
“Jadi kami mengembangkan sensor untuk mendeteksi unsur hara pada petani, dan kita membantu petani untuk efisiensi pupuk, kemudian penyiraman otomatis berbasis aplikasi,” ujar Irsan.
Seluruh pengembangan teknologi tersebut dilakukan di Kota Bandung. Saat ini, Habibi Garden telah bekerja sama dengan sekitar 600 petani di berbagai daerah Indonesia, mulai dari Aceh hingga Maluku.
Di Jawa Barat sendiri, pengguna teknologi pertanian modern dari Habibi Garden disebut sudah mencapai ratusan petani, terutama di kawasan Lembang dan Kabupaten Bandung Barat.
Fenomena ini menjadi tanda bahwa pertanian dengan dukungan teknologi digital, pasar yang jelas, dan peluang keuntungan besar, menjadi sektor masa depan menjanjikan bagi generasi muda Indonesia.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Rahmat Saepulloh
Editor: Amry Nur Hidayat
Tag Terkait: