Dokter AS Terinfeksi Ebola Dirujuk ke Isolasi Rumah Sakit Paling Canggih di Berlin
Kredit Foto: AP Photo/Shiraaz Mohamed
Kekhawatiran dunia terhadap ancaman Ebola kembali mengemuka setelah seorang dokter asal Amerika Serikat yang terinfeksi virus mematikan itu diterbangkan ke Berlin, Jerman, untuk menjalani perawatan intensif di fasilitas isolasi berteknologi tinggi.
Dokter Peter Stafford tiba di Jerman menggunakan penerbangan medis khusus sebelum dibawa dengan pengamanan ketat menuju Charité, rumah sakit yang memiliki salah satu unit isolasi epidemi paling canggih di Eropa.
Fasilitas tersebut dirancang khusus untuk menangani penyakit sangat menular dengan sistem ventilasi khusus, jalur akses tertutup, penyaringan udara, hingga pengolahan limbah yang terpisah dari operasional rumah sakit umum.
Kasus ini menjadi sorotan internasional karena muncul di tengah meningkatnya penyebaran Ebola varian langka Bundibugyo di kawasan Afrika Tengah. Situasi semakin memicu kewaspadaan setelah Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menetapkan wabah Ebola kali ini sebagai darurat kesehatan global.
Wabah tersebut dilaporkan telah menewaskan sedikitnya 80 orang. Sementara itu, ratusan kasus suspek terus bermunculan di Kongo dan Uganda. Kementerian Kesehatan Kongo mencatat lebih dari 513 kasus dugaan Ebola serta 131 dugaan kematian yang berkaitan dengan wabah tersebut.
Peter Stafford diketahui tertular saat menangani pasien di Rumah Sakit Nyankunde dekat Bunia, wilayah timur Republik Demokratik Kongo. Ia bersama istrinya, Rebekah Stafford, telah menjalankan misi kemanusiaan medis di Afrika sejak 2019 melalui organisasi Kristen Serge.
Meningkatnya ancaman penyebaran lintas negara juga mulai mendorong langkah pencegahan lebih ketat. Pemerintah Amerika Serikat memperketat pembatasan perjalanan bagi sejumlah pelancong dari wilayah terdampak guna mengurangi risiko penyebaran internasional.
Pengamat epidemiologi dari Johns Hopkins Bloomberg School of Public Health, Amesh Adalja, menilai pemindahan pasien ke fasilitas isolasi khusus mencerminkan tingginya tingkat kewaspadaan dunia terhadap Ebola.
Baca Juga: WHO Nyalakan Alarm, Wabah Ebola Ditetapkan sebagai Darurat Internasional
“Begitu ada risiko penyebaran lintas negara, respons global biasanya langsung ditingkatkan karena Ebola memiliki tingkat kematian tinggi,” ujarnya.
Virus Ebola diketahui menyebar melalui kontak langsung dengan cairan tubuh penderita dan memiliki tingkat fatalitas tinggi apabila tidak segera ditangani.
Ancaman Ebola juga membangkitkan kembali ingatan dunia terhadap wabah besar varian Zaire di Afrika Barat pada 2014–2015 yang menewaskan lebih dari 11 ribu orang. Trauma epidemi tersebut kini kembali menghantui seiring munculnya wabah baru yang mulai melintasi batas wilayah.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Editor: Amry Nur Hidayat
Tag Terkait: