Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Heboh Rupiah Sengaja Dilemahkan, Akademisi: Keliatan Sekali Nggak Ngerti Ekonomi

        Heboh Rupiah Sengaja Dilemahkan, Akademisi: Keliatan Sekali Nggak Ngerti Ekonomi Kredit Foto: Antara/Indrianto Eko Suwarso
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Pelemahan nilai tukar rupiah belakangan ramai menjadi perdebatan di media sosial. Di tengah menguatnya dolar AS, muncul sejumlah konten kreator yang justru menilai rupiah yang melemah bisa menguntungkan Indonesia dan disebut sebagai bagian dari strategi ekonomi nasional.

        Narasi tersebut langsung mendapat sorotan dari Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (FEB UI), Rhenald Kasali. Ia menilai anggapan bahwa pelemahan rupiah merupakan strategi ekonomi yang disengaja adalah pemahaman yang keliru.

        “Makin banyak influencer yang belakangan ini membenarkan rupiah kita semakin lemah dan katanya itu bagian dari strategi,” ujar Rhenald Kasali.

        Ia kemudian menyinggung pernyataan salah satu konten kreator, Bennix, yang menyebut Indonesia justru akan mendapat keuntungan jika rupiah terus melemah.

        “Ternyata ketika rupiah melemah, Indonesia diuntungkan. Kalau Indonesia mau jadi negara maju, ya rupiah harus melemah. Simple aja. Kenapa Cina bisa sebegitu powerful, ekonominya bangkit? Simple, karena yuan lemah. Sengaja bahkan dilemahkan sama pemerintahnya,” ujar Bennix dalam kontennya.

        Baca Juga: Rupiah Keok, Anies Baswedan: Berhentilah Beri Obat Tidur kepada Publik!

        Menurut Bennix, mata uang yang lebih lemah membuat harga barang ekspor menjadi lebih murah sehingga lebih kompetitif di pasar internasional.

        “Kenapa sengaja dilemahkan? Supaya barang-barang made in China harganya lebih murah. Kompor made in China lebih murah dibanding kompor made in Amerika Serikat,” kata Bennix.

        Ia bahkan meminta masyarakat tidak panik apabila rupiah menyentuh level Rp17 ribu hingga Rp18 ribu per dolar AS.

        “Jadi lu gak usah panik kalau rupiah naik ke 17.000, 18.000. Panik gak? Nggak, gak usah panik. Kenapa? Indonesia bisa tambah cuan,” ujarnya.

        Namun, pandangan tersebut dibantah tegas oleh Rhenald Kasali. Menurutnya, strategi pelemahan mata uang seperti yang pernah dilakukan China, Jepang, Korea Selatan, hingga Taiwan tidak bisa disamakan begitu saja dengan kondisi Indonesia saat ini.

        “Ini kelihatan sekali, nggak ngerti teori ekonomi, nggak ngerti bagaimana ekonomi bekerja,” tegasnya.

        Rhenald menjelaskan, strategi pelemahan mata uang hanya dapat berhasil apabila ditopang banyak faktor penting, seperti cadangan devisa besar, surplus perdagangan yang kuat, hingga rantai produksi nasional yang matang.

        “Nah, jadi kalau strategi pelemahan mata uang rupiah itu sebagai strategi untuk menguasai pasar internasional, ada syaratnya. Syaratnya cadangan devisa kita harus besar, surplus perdagangan kita sudah besar,” katanya.

        Ia juga menyoroti langkah Bank Indonesia yang terus melakukan intervensi demi menahan tekanan terhadap rupiah dalam beberapa bulan terakhir. Menurutnya, tindakan itu justru membuktikan pelemahan rupiah bukan bagian dari strategi pemerintah.

        “Kan sering kita lihat tuh, hari Jumat harganya udah 16.800, ditahan oleh BI menjadi 16.600. Hari Senin udah naik lagi di atas 17.000. Begitu, akhirnya BI harus gelontorkan lagi, gelontorkan lagi. Setiap bulan, 2 sampai 3 miliar USD,” ujarnya.

        Selain itu, Rhenald menilai narasi bahwa rupiah sengaja dilemahkan juga bertentangan dengan pernyataan pemerintah sendiri. Ia menyinggung pernyataan Ketua Dewan Ekonomi Nasional Purbaya Yudhi Sadewa yang pernah menyebut rupiah bisa kembali ke level Rp15 ribu per dolar AS.

        Ia juga mengingat pidato Presiden Prabowo Subianto yang menyebut asumsi kurs rupiah berada di kisaran Rp16.800 hingga Rp17.500 per dolar AS.

        Baca Juga: Rupiah Jebol Lagi ke Rekor Terlemah, Purbaya: Nggak Apa-apa...

        Menurut Rhenald, kondisi Indonesia saat ini masih sangat bergantung pada impor, mulai dari bahan mentah hingga bahan baku industri. Karena itu, pelemahan rupiah justru dapat menambah tekanan terhadap biaya produksi dan ekonomi nasional.

        Di akhir pernyataannya, Rhenald meminta para influencer lebih berhati-hati ketika membahas isu ekonomi karena masyarakat kini semakin kritis dalam menyerap informasi.

        “Jadi bagi mereka yang ngomong sebagai influencer, agak berhati-hati, masyarakat kita semakin pandai dan ekonomi tidak bisa dilihat sepotong-potong,” katanya.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Belinda Safitri
        Editor: Belinda Safitri

        Tag Terkait:

        Bagikan Artikel: