Kredit Foto: Kementerian Keuangan
Dalam waktu kurang dari tiga minggu, Beijing menerima empat kunjungan pentingdari arah ketegangan dunia yang berbeda: Iran datang sebelum Amerika Serikat, Rusia menyusul setelah Amerika Serikat, lalu Pakistan hadir setelah Rusia. Urutan ini rasanya sulit dibaca sebagai kebetulan kalender semata.
Yang terlihat adalah kalkulasi Beijing yang makin jelas: posisi diplomatik tidak cukup hanya lahir dari bobot ekonomi. Ia harus dibangun, dipentaskan, dan dikelola secara aktif.
China tampaknya sedang mencoba sesuatu yang lebih besar daripada sekadar memperluas pengaruh. Beijing ingin mengubah lalu lintas diplomatik menjadi posisi yang lebih menentukan— agar berbagai pihak merasa perlu membaca sikap China sebelum mengambil keputusan besar, baik mereka mitra, pesaing, maupun pihak yang berada di antaranya.
Urutan sebagai Strategi
Kedatangan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi sebelum Trump memberi Beijing keuntungan awal. China mendapat akses langsung kepada kalkulasi Teheran sebelum percakapan penting dengan Washington berlangsung. Beijing tidak perlu menjadi mediator formal untuk memperoleh manfaat dari posisi itu. Cukup dengan memahami batas kompromi masing-masing pihak, China sudah dapat memperkuat posisi tawarnya dalam percakapan berikutnya.
Kedatangan Trump menjadi lapisan kedua. Beijing ingin menunjukkan bahwa rivalitas AS–China dapat dikelola tanpa harus diselesaikan sepenuhnya. Ketiadaan kepercayaan strategis tidak otomatis harus berubah menjadi ketidakstabilan permanen.
Pesan itu penting bukan hanya untuk Washington, tetapi juga untuk negara-negara Global South. China ingin dilihat bukan semata sebagai kekuatan perubahan yang ingin merombak tatanan lama, melainkan sebagai aktor yang mampu berbicara langsung dengan Amerika Serikat. Dengan kata lain, Beijing ingin menunjukkan bahwa ia dapat ikut menstabilkan rivalitas terbesar dunia tanpa harus kembali menerima hierarki Amerika.
Kunjungan Putin setelah Trump memperlihatkan dimensi lain. Beijing perlu memastikan bahwa upaya stabilisasi dengan Washington tidak dibaca Moskow sebagai pergeseran arah strategis. Namun pada saat yang sama, China juga tidak ingin terlihat terlalu bergantung pada Rusia.
Tidak tercapainya kesepakatan final Power of Siberia 2 memperlihatkan keseimbangan itu. Rusia membutuhkan China lebih mendesak daripada China membutuhkan Rusia. Beijing dapat memberi sambutan hangat diplomatik kepada Moskow tanpa harus memberikan konsesi ekonomi yang berlebihan. Di sini terlihat posisi China yang khas: mitra strategis Rusia, tetapi sekaligus mitra dagang yang tough. Dua posisi itu biasanya sulit dipertahankan sekaligus.
Kunjungan Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif menutup rangkaian ini dengan logikanya sendiri. Pakistan memang bukan kekuatan global. Namun Islamabad adalah penghubung strategis yang relevan bagi Teheran, Beijing, Washington, dan Asia Tengah. Dalam krisis Iran–AS, jalur tidak langsung seperti itu dapat menjadi penting, terutama ketika pihak-pihak utama tidak mudah lagi berbicara secara terbuka dan langsung.
Convening Power atau Mediating Power?
Rangkaian kunjungan ini menunjukkan apa yang sedang dibangun Beijing: posisi sebagai switchboard diplomatik, yaitu simpul tempat berbagai arus kepentingan bertemu, dibaca, lalu diarahkan ulang.Dalam arsitektur diplomasi lama, krisis besar hampir selalu melewati Washington, London, atau Paris. Beijing ingin menunjukkan bahwa jalur itu tidak lagi tunggal. Dunia kini memiliki pusat percakapan lain, dan pusat itu berada di China.
Namun di sinilah perbedaannya perlu dibuat jelas. Ada jarak antara convening power dan mediating power. Yang pertama adalah kemampuan mengundang, mempertemukan, dan membuat berbagai pihak merasa perlu hadir. Yang kedua adalah kemampuan dipercaya sebagai penengah oleh pihak-pihak yang sedang bersengketa.
Beijing sudah memiliki yang pertama. Yang kedua masih harus dibuktikan.
China terlalu dekat dengan Rusia untuk dapatefektif dalam isu Ukraina. China juga terlalu dekat dengan Iran untuk sepenuhnya dipandang seimbang dalam krisis Iran–AS. Di Asia, Beijing memiliki kepentingan langsung di Taiwan, Laut China Selatan, dan arsitektur keamanan kawasan. Karena itu, menjadi tuan rumah diplomasi tidak otomatis berarti dipercaya sebagai penengah.
Tetapi mungkin Beijing memang tidak sedang mengejar posisi sebagai wasit netral. Yang lebih realistis, China ingin menjadi pihak yang tidak bisa diabaikan. Bukan selalu menjadi penyelesai krisis, tetapi menjadi aktor yang harus dibaca sebelum krisis bergerak ke tahap berikutnya.
Untuk menjadi convening power, China membutuhkan bobot ekonomi, akses politik, dan keberanian memainkan panggung diplomasi. Semua itu sudah dimiliki Beijing. Tetapi untuk menjadi pusat penyelesaian krisis, China membutuhkan kepercayaan.
Di situlah letak ambisi sekaligus tantangan diplomasi Beijing saat ini. Semakin China berhasil menjadi simpul diplomasi global, semakin besar pula tuntutan agar ia bukan hanya didengar, tetapi juga dipercaya.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Editor: Annisa Nurfitri
Tag Terkait: