Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Pakar Energi UI soal PLTS 100 GW: Butuh Lahan Setara 70 Ribu Lapangan Bola

        Pakar Energi UI soal PLTS 100 GW: Butuh Lahan Setara 70 Ribu Lapangan Bola Kredit Foto: Rahmat Dwi Kurniawan
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Ambisi pemerintah membangun Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) hingga 100 gigawatt (GW) dinilai bukan pekerjaan mudah. Selain membutuhkan jutaan panel surya, proyek energi raksasa itu juga memerlukan lahan sangat luas hingga sistem baterai dalam skala masif.

        Pakar Energi Universitas Indonesia (UI), Eko Adhi Setiawan, mengatakan kebutuhan lahan untuk proyek tersebut diperkirakan setara 70.000 lapangan sepak bola.

        "(Butuh) Luas lahannya itu setara dengan 70.000 lapangan sepak bola. Itu baru untuk panel suryanya saja," ujar Eko dalam diskusi yang diselenggarakan oleh IESR, di Jakarta, Jumat (29/5/2026).

        Menurut dia, target 100 GW membutuhkan sedikitnya 167 juta keping panel surya dengan asumsi kapasitas standar 600 Watt-peak (Wp).

        Namun tantangannya bukan hanya soal panel dan lahan. Agar listrik PLTS tetap bisa digunakan saat malam hari maupun ketika cuaca mendung, Indonesia juga membutuhkan sistem penyimpanan energi atau Battery Energy Storage System (BESS) berkapasitas besar.

        Eko menyebut target BESS sebesar 320 gigawatt-hour (GWh) diperkirakan membutuhkan sekitar 64.000 kontainer baterai raksasa.

        "Lahan untuk baterainya saja setara 133 lapangan bola. Itu belum termasuk gudang dan fasilitas pendukung lainnya," katanya.

        Ia menilai target tersebut akan sangat berat jika dipaksakan selesai dalam waktu empat tahun. Sebab, pembangunan diperkirakan harus berjalan di sekitar 55 desa setiap hari.

        "Kalau mau dibangun di 80.000 desa, berarti sekitar 55 desa harus jadi per hari dalam waktu 4 tahun. Ini adalah ambisi yang sangat-sangat besar," ujarnya.

        Menurut Eko, laju pembangunan tersebut bahkan dinilai lebih agresif dibanding fase awal pengembangan energi surya di China maupun Vietnam.

        Baca Juga: Target PLTS 100 GW Dinilai Terlalu Ambisius, Akademisi UI Usulkan Mulai dari 10 GW.

        Baca Juga: IESR Bongkar Tantangan PLTS 100 GW Era Prabowo

        Karena itu, ia menyarankan pemerintah memulai dengan target yang lebih realistis melalui tahap pembuktian atau proof of concept.

        Eko mengusulkan target awal sebesar 10 GW hingga 2029 agar pembangunan lebih terukur sekaligus menjadi model implementasi sebelum proyek diperluas secara nasional.

        "Indonesia itu butuh satu role model, percontohan yang benar-benar jalan dan bisa diproses. Kita buktikan dulu 10 GW ini," pungkasnya.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Rahmat Dwi Kurniawan
        Editor: Dwi Aditya Putra

        Bagikan Artikel: