Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Indonesia Menata Ulang Masa Depan Energi melalui Energi Terbarukan dan Hidrogen Hijau

Indonesia Menata Ulang Masa Depan Energi melalui Energi Terbarukan dan Hidrogen Hijau Kredit Foto: PLN
Warta Ekonomi, Jakarta -

Indonesia tengah memasuki fase penting dalam transformasi sektor energi. Sebagai negara dengan kebutuhan listrik yang terus meningkat, populasi besar, dan aktivitas industri yang berkembang, Indonesia menghadapi tantangan untuk menjaga ketahanan energi sekaligus mempercepat transisi menuju sumber energi yang lebih bersih. Dalam konteks ini, energi terbarukan tidak lagi menjadi agenda tambahan, tetapi semakin menjadi bagian utama dari arah pembangunan energi nasional.

Perubahan ini terlihat dari meningkatnya perhatian terhadap tenaga surya, panas bumi, hidro, bioenergi, hingga potensi hidrogen hijau. Pemerintah juga mulai memperkuat perencanaan kelistrikan jangka panjang melalui RUPTL PLN 2025–2034 yang menargetkan tambahan kapasitas pembangkit sekitar 69,5 GW (source: Kementerian ESDM/Ditjen Ketenagalistrikan), termasuk pengembangan energi terbarukan, fasilitas penyimpanan energi, dan jaringan transmisi untuk mendukung sistem kelistrikan yang lebih rendah karbon.

Dilansir dari Market Research Indonesia, Indonesia menargetkan produksi listrik dari sumber energi terbarukan mencapai 63,21 miliar kWh pada 2025, dengan pertumbuhan yang diproyeksikan berlanjut hingga 2029. Target ini menunjukkan bahwa energi bersih mulai ditempatkan sebagai bagian penting dari strategi ketahanan energi dan pembangunan ekonomi nasional.

Arah ini juga tercermin dalam RUPTL 2025–2034, di mana Indonesia merencanakan tambahan kapasitas listrik sebesar 69,5 GW, dengan 76% berasal dari energi terbarukan dan penyimpanan energi. Target tersebut memperlihatkan bahwa transisi energi tidak hanya berfokus pada pengurangan emisi, tetapi juga pada pembangunan sistem kelistrikan yang lebih tangguh dan berkelanjutan.

“Transformasi energi Indonesia bukan hanya tentang menambah kapasitas pembangkit terbarukan. Ini adalah perubahan struktural yang mencakup investasi, infrastruktur, regulasi, teknologi, dan kesiapan pasar untuk mendukung sistem energi yang lebih tangguh," jelas Damien Duhamel, Managing Partner untuk Timur Tengah dan Asia di Eurogroup Consulting, dalam keterangan resmi di Jakarta, rabu (20/5/2026).

Salah satu perkembangan penting dalam transisi energi Indonesia adalah munculnya proyek tenaga surya terapung. Teknologi ini relevan karena Indonesia memiliki banyak waduk dan sumber daya air yang dapat dimanfaatkan tanpa menimbulkan konflik penggunaan lahan yang besar. PLTS Terapung Cirata di Jawa Barat menjadi contoh utama dari arah baru ini.

PLTS Terapung Cirata memiliki kapasitas 192 MW dan diperkirakan mampu menghasilkan 300.000 MWh listrik per tahun. Proyek ini juga disebut dapat memenuhi kebutuhan listrik sekitar 50.000 rumah dan mengurangi konsumsi batu bara sebesar 117.000 ton per tahun. Kolaborasi antara PLN dan Masdar dalam proyek ini memperlihatkan pentingnya kemitraan internasional dalam mempercepat transfer teknologi dan pembiayaan energi bersih.

Potensi tenaga surya terapung Indonesia juga jauh lebih besar dibandingkan proyek yang sudah berjalan. Kementerian Pekerjaan Umum telah mengidentifikasi 109 bendungan dengan potensi gabungan sekitar 13,89 GW untuk pengembangan surya terapung. Angka ini setara dengan sekitar 81% dari target pengembangan tenaga surya nasional sebesar 17,1 GW untuk periode 2025–2034.

Meski peluangnya besar, investasi energi terbarukan Indonesia masih perlu dipercepat. Untuk mencapai target bauran energi terbarukan 23% pada 2025, Indonesia membutuhkan investasi besar dalam pembangkit, jaringan, teknologi penyimpanan, dan proyek pendukung lainnya. Kesenjangan pembiayaan masih menjadi tantangan, terutama terkait bankability proyek, kepastian regulasi, perizinan, dan pembagian risiko bagi investor.

“Indonesia memiliki sumber daya energi terbarukan yang sangat besar, tetapi potensi tersebut membutuhkan eksekusi yang konsisten. Investor perlu melihat kepastian regulasi, proyek yang bankable, dan infrastruktur yang siap agar modal dapat mengalir lebih cepat ke sektor energi bersih," tambah Duhamel.

Baca Juga: PLN IP Pangkas 41 Ton Emisi CO2 Lewat Program Clean Energy Day 2026

Baca Juga: PLN Indonesia Power Bidik Proyek PLTS 495 MW di Bangladesh

Selain energi terbarukan konvensional, Indonesia juga mulai menempatkan hidrogen hijau sebagai bagian dari strategi energi jangka panjang. Dengan potensi energi terbarukan yang diperkirakan mencapai 3.687 GW, Indonesia memiliki basis yang kuat untuk mengembangkan hidrogen hijau melalui proses elektrolisis berbasis energi bersih. Pengembangan hidrogen hijau dapat membuka peluang baru bagi sektor industri, transportasi, kelistrikan, dan kebutuhan energi masa depan.

Transformasi energi Indonesia membutuhkan pendekatan yang menyeluruh. Penambahan kapasitas pembangkit terbarukan harus berjalan bersama dengan penguatan transmisi, penyimpanan energi, pembiayaan proyek, kesiapan teknologi, dan peningkatan kapasitas sumber daya manusia. Jika fondasi kebijakan, investasi, dan infrastruktur terus diperkuat, Indonesia berpeluang bergerak dari sekadar pasar energi besar menjadi salah satu pusat pertumbuhan energi bersih di Asia Tenggara.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Editor: Annisa Nurfitri