Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Target PLTS 100 GW Dinilai Terlalu Ambisius, Akademisi UI Usulkan Mulai dari 10 GW

Target PLTS 100 GW Dinilai Terlalu Ambisius, Akademisi UI Usulkan Mulai dari 10 GW Kredit Foto: Rahmat Dwi Kurniawan
Warta Ekonomi, Jakarta -

Target pembangunan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) 100 gigawatt (GW) yang tengah disiapkan pemerintah dinilai terlalu ambisius.

Dosen Departemen Teknik Sistem Energi Fakultas Teknik Universitas Indonesia (FT UI), Eko Adhi Setiawan, mengusulkan agar pemerintah terlebih dahulu membuktikan keberhasilan pengembangan PLTS berkapasitas 10 GW sebelum melanjutkan ke target 100 GW yang telah dicanangkan.

Menurut Eko, kapasitas 10 GW sudah cukup menjadi lompatan besar bagi Indonesia sekaligus menjadi tahap pembuktian untuk menguji kesiapan ekosistem pendukung, mulai dari tata kelola, operasi dan pemeliharaan (O&M), hingga sumber daya manusia (SDM) yang akan mengelola sistem tersebut.

“Saya terus terang senang kalau 100 gigawatt dan 320 gigawatt hour baterai. Tapi saya mencoba untuk menurunkannya menjadi 10 gigawatt saja,” kata Eko dalam diskusi yang diselenggarakan Institute for Essential Services Reform (IESR) di Jakarta, Jumat (29/5/2026).

Usulan tersebut muncul seiring besarnya tantangan yang akan dihadapi Indonesia dalam mengejar target PLTS 100 GW. Selain itu, hingga saat ini belum terdapat benchmark negara lain yang melakukan percepatan pengembangan PLTS dalam skala serupa.

“Kalau Anda lihat ini tanjakan-tanjakannya (tantangan) gimana? Curam banget itu. Tidak ada negara di dunia yang punya strategi (seperti RI), boleh baca di literatur apa pun,” ujarnya.

Ia menegaskan, tantangan pengembangan PLTS nasional tidak hanya berada pada aspek teknologi maupun pembiayaan, tetapi juga pada tata kelola, terutama untuk sistem yang akan tersebar di berbagai wilayah.

“Oke teknologinya ada, finansialnya ada. Yang ketiga tata kelola. Nah ini yang paling penting,” tegasnya.
Karena itu, Eko menilai pengembangan 10 GW dapat menjadi fase pembelajaran sekaligus pembuktian sebelum Indonesia masuk ke tahap ekspansi yang lebih besar. Tahap ini juga dinilai penting untuk menguji efektivitas model pengelolaan, kesiapan SDM, serta dampak ekonomi di tingkat lokal.

“Lokasi, SDM, O&M itu lebih terkendali. Potensi ekonominya pun bisa lebih terfokus,” ujarnya.

Eko juga mencontohkan Vietnam yang kerap dijadikan acuan pengembangan PLTS di kawasan ASEAN. Negara tersebut berhasil meningkatkan kapasitas PLTS dari sekitar 86 megawatt pada 2018 menjadi lebih dari 16 gigawatt dalam waktu dua tahun.

Baca Juga: IESR Bongkar Tantangan PLTS 100 GW Era Prabowo

Baca Juga: Pemerintah Siap Bangun 17 GW PLTS di Jawa, Luasnya 24 Hektare

Namun demikian, ia menilai kondisi Vietnam tidak dapat disamakan dengan Indonesia karena memiliki sistem kelistrikan yang lebih terintegrasi serta tidak menghadapi tantangan geografis sebagai negara kepulauan.

Eko menekankan perlunya proyek percontohan yang benar-benar berhasil sebelum Indonesia melangkah ke skala yang lebih besar.

“Saya cuma ingin mengingatkan, membuktikan sebelum 100 gigawatt. Jadi kita pembuktian dulu 10 gigawatt. Karena Indonesia itu butuh satu role model percontohan yang jalan, yang benar, yang bisa diproses,” tutupnya.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Rahmat Dwi Kurniawan
Editor: Dwi Aditya Putra