Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Pilihan Politik Jadi Dosa? Fenomena Maaf Pemilih Prabowo-Gibran

        Pilihan Politik Jadi Dosa? Fenomena Maaf Pemilih Prabowo-Gibran Kredit Foto: Sekretariat Kabinet
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Pegiat media sosial Ariyo Bimmo menyoroti fenomena permohonan maaf dari pemilih pasangan Prabowo Subianto–Gibran Rakabuming Raka di Pilpres 2024 yang sempat ramai di media sosial.

        Tren permintaan maaf tersebut muncul salah satunya karena kekecewaan terhadap kondisi ekonomi Indonesia yang dinilai carut-marut. 

        Namun menurut Ariyo, fenomena ini mencerminkan persoalan yang lebih serius: sebagian orang mulai memandang pilihan politik orang lain sebagai kesalahan moral.

        "Nah, yang menarik, fenomena permohonan maaf pemilih presiden sebenarnya memperlihatkan masalah yang lebih dalam. Sebagian orang tidak lagi sekadar mengkritik pemerintah, tapi mulai memandang pilihan politik orang lain sebagai kesalahan moral. Seolah-olah memilih kandidat tertentu adalah dosa publik yang harus ditebus dengan surat pertobatan," ucapnya, dikutip dari YouTube COKRO TV, Sabtu (30/5).

        Ariyo mengingatkan bahwa demokrasi bukanlah agama, dan pemilu bukan perang suci. Perbedaan pilihan adalah hal wajar dalam sistem demokrasi.

        "Padahal demokrasi bukan agama, pemilu bukanlah perang suci. Dalam demokrasi, orang boleh berbeda pilihan, dan setelah pemilu selesai, yang dibutuhkan adalah kemampuan untuk hidup berdampingan," imbuhnya.

        Baca Juga: Wapres Gibran Sambut Kepulangan Presiden Prabowo ke Tanah Air Usai Lawatan Kerja ke Perancis

        Ia menilai masalah terbesar demokrasi Indonesia saat ini bukan sekadar perbedaan pilihan politik, melainkan ketidakmampuan sebagian elit dan pendukungnya untuk hidup berdampingan setelah pemilu. 

        Setiap kontestasi politik selalu menyisakan delegitimasi berkepanjangan, pihak yang kalah merasa demokrasi runtuh, sementara yang menang merasa terus diserang. Akibatnya, publik dipelihara dalam suasana perang politik permanen.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Ulya Hajar Dzakiah Yahya
        Editor: Ulya Hajar Dzakiah Yahya

        Bagikan Artikel: