Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Indonesia Masih Rendah Konsumsi Susu, BGN Siapkan Strategi Baru

        Indonesia Masih Rendah Konsumsi Susu, BGN Siapkan Strategi Baru Kredit Foto: Dokumentasi Kemenko Pangan
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Membangun budaya gemar minum susu di kalangan anak-anak Indonesia ternyata bukan perkara mudah yang bisa dilakukan secara instan. Badan Gizi Nasional (BGN) mengakui perlunya strategi psikologis dan visual agar minuman bergizi tersebut dapat diterima dengan sukarela oleh anak-anak.

        Lembaga yang bertanggung jawab terhadap program pemenuhan gizi nasional itu memilih pendekatan persuasif ketimbang mengandalkan instruksi atau paksaan. Pelaksana Tugas (Plt.) Deputi Bidang Promosi dan Kerja Sama BGN Gunalan mengatakan pihaknya tidak hanya memastikan ketersediaan susu bagi anak-anak, tetapi juga mengedukasi mereka agar gemar mengonsumsinya.

        "Nah yang kami sebut dengan nudging technique, di mana anak-anak itu biasanya diberikan edukasi kemudian diberikan cara halus untuk membantu anak memilih perilaku tanpa paksaan," ujar Gunalan dalam konferensi pers Hari Susu Nusantara 2026 di Kantor Kementerian Koordinator Bidang Pangan, Selasa (2/6/2026).

        Pendekatan tersebut dilakukan dengan menciptakan lingkungan yang mendorong anak-anak memilih minuman sehat secara alami. Tampilan kemasan yang menarik serta kemudahan akses menjadi faktor penting untuk meningkatkan minat konsumsi susu di lingkungan sekolah.

        Gunalan menjelaskan bahwa metode tersebut berangkat dari pemahaman bahwa anak-anak lebih mudah memilih makanan atau minuman sehat ketika tampilannya menarik, mudah dijangkau, disertai pesan positif, dan selalu tersedia di lingkungan mereka.

        Baca Juga: Demi Swasembada Susu, Kementan Dorong Ekspansi Peternakan ke Subang dan Brebes

        Baca Juga: Modal Di Bawah Rp5 Miliar, Kementan Gagas Program DASI Untuk Pasok Susu Makan Bergizi Gratis

        Baca Juga: Kebutuhan Susu Program MBG Meledak, BGN Cari Solusi Jangka Panjang

        "Nah pendekatan ini berangkat dari pemahaman bahwa anak-anak cenderung lebih mudah memilih makanan atau minuman sehat ketika tampilannya menarik, mudah dijangkau, kemudian diberi pesan yang positif dan menjadi pilihan yang selalu tersedia di lingkungan mereka," katanya.

        Menurut dia, paparan yang berulang terhadap produk sehat diyakini dapat membentuk kebiasaan dan memori positif secara bertahap dalam pola konsumsi anak-anak. Karena itu, BGN berharap pendekatan serupa dapat diterapkan oleh berbagai kementerian dan lembaga dalam kampanye kesehatan nasional.

        Kolaborasi lintas kementerian juga dinilai penting untuk menyusun desain kampanye yang ramah anak guna meningkatkan konsumsi protein hewani secara berkelanjutan.

        "Nah inilah Bapak Ibu sekalian yang kami harapkan nanti ketika Kemenko Pangan mungkin bisa bekerja sama dengan BGN bagaimana kita membuat satu model atau satu skenario mengajak anak-anak kita untuk lebih gemar atau lebih senang dengan minum susu tersebut," tegas Gunalan.

        Sementara itu, tingkat konsumsi susu masyarakat Indonesia masih tergolong rendah dibandingkan negara-negara tetangga di Asia Tenggara.

        Direktur Industri Minuman, Hasil Tembakau, dan Bahan Penyegar Kementerian Perindustrian Merrijantij Punguan Pintaria mengatakan Indonesia masih termasuk negara dengan tingkat konsumsi susu yang rendah di kawasan ASEAN.

        "Menurut World Population Review pada tahun 2022, tingkat konsumsi susu per kapita masyarakat Indonesia masih sebesar 17,76 liter per kapita per tahun," ujar Merrijantij.

        Baca Juga: Ramai Isu MBG Bagikan Susu Formula Bayi, Pemerintah Langsung Revisi Pedoman

        Baca Juga: BGN Tegaskan Tidak Buka Opsi Susu Formula Bayi dalam Program Makan Bergizi Gratis

        Angka tersebut masih berada di bawah sejumlah negara ASEAN lainnya, menunjukkan bahwa budaya minum susu belum sepenuhnya mengakar di masyarakat.

        "(Indonesia) ini di bawah Malaysia yang sudah mencapai 42,49 liter per kapita per tahunnya, dan Singapura sebesar 46,1 liter per kapita per tahun, dan Vietnam juga di atas kita dengan konsumsi sebesar 37,21 liter per kapita per tahun," katanya.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Muhammad Farhan Shatry
        Editor: Annisa Nurfitri

        Bagikan Artikel: