Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Terapkan Tata Kelola Antargenerasi di Malut, Sherly Tjoanda: Ramah Lingkungan Bukan Hanya Soal Tekan Emisi Karbon

        Terapkan Tata Kelola Antargenerasi di Malut, Sherly Tjoanda: Ramah Lingkungan Bukan Hanya Soal Tekan Emisi Karbon Kredit Foto: Istimewa
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Gubernur Maluku Utara, Sherly Tjoanda, menegaskan bahwa keberhasilan hilirisasi nikel tidak seharusnya hanya diukur dari peningkatan produksi maupun investasi. 

        Menurutnya, keberhasilan pengelolaan sumber daya mineral harus tercermin dalam meningkatnya kesejahteraan masyarakat, kualitas pendidikan, layanan kesehatan, serta terjaganya kelestarian lingkungan.

        Pandangan tersebut disampaikan Sherly saat memberikan pidato utama dalam Indonesia Critical Minerals Conference & Expo 2026 di Hotel Pullman Central Park, Rabu (3/6/2026).

        Pernyataan itu disampaikan di tengah besarnya potensi nikel yang dimiliki Maluku Utara. Provinsi tersebut menyimpan 35 persen cadangan nikel Indonesia atau sekitar 10 persen cadangan dunia. 

        Maluku Utara juga memiliki cadangan bijih nikel dan logam nikel terbesar di Indonesia, masing-masing mencapai 1,86 miliar ton dan 19,09 juta ton. Adapun sumber daya bijih dan logam nikelnya tercatat sebesar 5,71 miliar ton dan 72,03 juta ton.

        Potensi tersebut menjadikan Maluku Utara sebagai salah satu wilayah strategis dalam mendukung transisi energi global. Nikel merupakan bahan baku penting dalam pembuatan baterai penyimpan energi listrik yang ramah lingkungan. 

        Namun, Sherly mengingatkan bahwa keberlanjutan sebuah produk tidak hanya ditentukan oleh manfaatnya dalam menekan emisi karbon, melainkan juga oleh proses produksinya yang memperhatikan kesejahteraan masyarakat dan kelestarian lingkungan.

        Karena itu, Pemerintah Provinsi Maluku Utara mengadopsi konsep “tata kelola antargenerasi” dalam pengelolaan sumber daya alam. Melalui pendekatan tersebut, sumber daya mineral dipandang sebagai amanah yang harus dikelola secara bijaksana demi kepentingan generasi mendatang.

        Dalam perspektif Environmental, Social, and Governance (ESG), Sherly menilai keberhasilan hilirisasi tidak dapat diukur hanya dari peningkatan volume produksi mineral maupun masuknya investasi. Dampak nyata terhadap masyarakat dan lingkungan di daerah penghasil tambang harus menjadi indikator utama keberhasilan.

        Menurutnya, sejumlah ukuran yang perlu diperhatikan antara lain meningkatnya pendapatan masyarakat lokal, terciptanya lapangan kerja yang berkualitas, membaiknya akses pendidikan dan layanan kesehatan, tumbuhnya kelas menengah, meningkatnya kualitas lingkungan hidup, serta menurunnya angka kemiskinan.

        Baca Juga: Sherly Tjoanda Ingin Anak SD di Maluku Utara Sudah Paham Taekwondo

        Sherly juga mengingatkan bahwa sumber daya mineral merupakan kekayaan yang terbatas dan pada akhirnya akan habis dieksploitasi. Oleh sebab itu, industri pertambangan harus mampu meninggalkan warisan pembangunan yang berkelanjutan bagi masyarakat di daerah penghasil.

        “Warisan terbesar dari hilirisasi bukanlah nikel ataupun pertumbuhan ekonomi semata, melainkan pembangunan manusia yang mampu bertahan lintas generasi,” tegasnya.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Editor: Amry Nur Hidayat

        Tag Terkait:

        Bagikan Artikel: