Kredit Foto: Rahmat Dwi Kurniawan
Anggota Dewan Ekonomi Nasional (DEN), Septian Hario Seto, menyebut sejumlah investor asal Cina berencana menutup sebagian operasional smelter Nickel Pig Iron (NPI) di kawasan industri Weda Bay, Maluku Utara, dan mengalihkan kapasitasnya untuk pengembangan industri aluminium.
Langkah ini dilakukan di tengah pengetatan pasokan bijih nikel serta prospek pasar aluminium global yang dinilai lebih menjanjikan.
"Saya kemarin di Cina baru ketemu juga dengan beberapa investor mereka bilang ya ya dia akan turunin beberapa NPI (Nickel Pig Iron) smelter-nya, NPI smelter-nya dia akan shut down emm dan dialihkan ke aluminium. Mereka sedang membangun di sana sekitar 1,2 juta aluminium," ujarnya dalam pelatihan jurnalistik From Mine to Market di Jakarta, Rabu (3/6/2026).
Menurut Seto, salah satu faktor yang mendorong perubahan strategi investasi tersebut adalah keterbatasan pasokan bijih nikel di kawasan Weda Bay. Bahkan sebelum pemerintah melakukan penyesuaian RKAB, kawasan tersebut telah menghadapi defisit bahan baku untuk memenuhi kebutuhan smelter yang terus bertambah.
Selain faktor pasokan, investor juga melihat peluang yang lebih menarik pada industri aluminium yang saat ini menikmati prospek pasar lebih kuat dibandingkan nikel.
Seto menjelaskan, industri aluminium sangat bergantung pada ketersediaan listrik. Karena itu, penghentian sebagian operasi smelter NPI memungkinkan investor memanfaatkan kapasitas listrik yang sudah tersedia untuk proyek aluminium baru.
"Kalau aluminium itu sekitar 50 persen biaya produksinya listrik. Jadi ketika mereka mematikan beberapa NPI, listrik yang tadinya dipakai NPI bisa langsung digunakan untuk aluminium," jelasnya.
Ia mengungkapkan, strategi tersebut sebenarnya sudah mulai terlihat sejak tahun lalu ketika investor di Weda Bay membangun smelter aluminium berkapasitas 300 ribu ton. Tahun ini, fokus investasi bergeser pada penambahan kapasitas aluminium baru yang secara total mencapai sekitar 1,2 juta ton.
Berbeda dengan nikel yang masih menghadapi tekanan akibat potensi kelebihan pasokan global, aluminium justru berada dalam kondisi defisit. Permintaan dunia terus tumbuh sekitar 1,5 juta hingga 2 juta ton per tahun, sementara China membatasi pembangunan smelter baru karena tingginya kebutuhan energi.
Baca Juga: Smelter Nikel Terintegrasi RI Serap 24,9 Juta Ton Bijih per Tahun
Baca Juga: Gak Main-main! Ada 14 Smelter Mineral di RI, Investasi Tembus US$7,8 Miliar
"Harga aluminium sekarang sekitar US$2.700 per ton. Dengan harga seperti itu, payback period-nya bisa hanya dua sampai tiga tahun," kata Seto.
Pemerintah memperkirakan kapasitas smelter aluminium yang sedang dibangun di Indonesia dapat mencapai 6 juta hingga 9 juta ton dalam dua hingga tiga tahun mendatang, tersebar di Weda Bay, Morowali, Kalimantan Utara, dan Kalimantan Barat.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Rahmat Dwi Kurniawan
Editor: Dwi Aditya Putra
Tag Terkait: