Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Dituntut Mundur karena Rupiah Melemah, Gubernur BI Perry Warjiyo: Kita Bicara Stabilitas, Bukan Level

        Dituntut Mundur karena Rupiah Melemah, Gubernur BI Perry Warjiyo: Kita Bicara Stabilitas, Bukan Level Kredit Foto: Antara/Galih Pradipta
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Melemahnya nilai tukar rupiah hingga sempat menembus Rp18.036 per dolar AS pada Kamis (4/6/2026) kembali menempatkan Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo, dalam sorotan publik. Sebagai otoritas yang bertanggung jawab atas kebijakan moneter, Bank Indonesia menjadi pihak yang paling mendapat perhatian di tengah pelemahan mata uang nasional yang mencapai level terendah sepanjang sejarah.

        Pemerintah sendiri menegaskan bahwa upaya menjaga stabilitas nilai tukar merupakan kewenangan utama Bank Indonesia. Menteri Keuangan Purbaya menyatakan pemerintah akan memberikan ruang bagi bank sentral untuk menjalankan tugasnya sebelum melakukan pembahasan lebih lanjut dalam forum koordinasi rutin.

        "Pertama itu kan yurisdiksi Bank Sentral untuk menjaga nilai tukar. Itu biar mereka jalan dulu. Nanti kita lakukan rapat berkala secara normal aja," kata Purbaya di Kompleks Parlemen, Rabu (3/6/2026).

        Kekhawatiran terhadap pelemahan rupiah sebenarnya telah terlihat sejak Presiden Prabowo Subianto memanggil sejumlah menteri dan Gubernur Bank Indonesia ke Istana Negara pada 18 Mei 2026. Pertemuan tersebut berlangsung ketika nilai tukar rupiah berada di kisaran Rp17.600 per dolar AS, yang saat itu sudah menjadi titik terlemah dalam sejarah.

        Meski Presiden Prabowo berulang kali berupaya menenangkan pasar terkait pergerakan rupiah, tekanan terhadap Bank Indonesia terus meningkat. Dengan kurs yang kini telah menembus level lebih dari Rp18.000 per dolar AS, posisi jajaran pimpinan bank sentral dinilai menghadapi tekanan yang semakin besar.

        Desakan terhadap Perry Warjiyo bahkan telah muncul beberapa pekan sebelumnya. Dalam rapat kerja bersama Bank Indonesia di DPR pada 18 Mei 2026, anggota Komisi XI DPR RI dari Fraksi PAN, Primus Yustisio, melontarkan kritik keras terhadap kinerja bank sentral.

        Menurut Primus, pelemahan rupiah tidak hanya terjadi terhadap dolar AS, tetapi juga terlihat dari kenaikan nilai tukar euro yang menurutnya telah melonjak drastis dibandingkan dua dekade lalu.

        "Anda sebagai pimpinan Bank Indonesia, sebagai tokoh utamanya, harus gentleman, Pak. Harus berani melawan. Saya berikan contoh, mungkin saatnya sekarang Bapak mengundurkan diri. Itu bukan sikap penghinaan, Anda akan lebih dihormati seperti di Korea atau di Jepang jika tidak bisa melakukan tugas dengan baik," ujar Primus dalam rapat tersebut.

        Menanggapi kritik tersebut, Perry menegaskan bahwa fokus Bank Indonesia bukan mempertahankan kurs pada level tertentu, melainkan menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. 

        Menurutnya, stabilitas diukur dari tingkat volatilitas atau fluktuasi pergerakan rupiah dalam periode tertentu, bukan dari posisi nilai tukar semata.

        "Kata-katanya adalah stabilitas nilai tukar rupiah, bukan tingkat nilai tukar rupiah. Kita bicara stabilitas, bukan level. Nah, ini yang kita jabarkan. Nah, yang kami dekati sekarang adalah yang kita sebut stabilitas. Ini adalah volatilitas nilai tukar rupiah yang average-nya 20 hari," kata Perry dalam rapat kerja dengan Komisi XI DPR RI di Kompleks Parlemen, Jakarta Pusat, Senin (18/5/2026).

        Baca Juga: 'Purbaya Bakal Dicopot dan Pindah Urusi Bank Indonesia', Rupiah Melemah dan Isu Makin Liar

        Perry menjelaskan, Bank Indonesia menggunakan rata-rata pergerakan nilai tukar selama 20 hari untuk mengukur apakah fluktuasi rupiah masih berada dalam batas yang terkendali. Dengan pendekatan tersebut, bank sentral menilai kondisi yang perlu dijaga adalah stabilitas pergerakan kurs, bukan mempertahankan angka tertentu terhadap dolar AS.

        Di tengah tekanan yang terus meningkat, Perry juga menyampaikan keyakinannya bahwa rupiah akan kembali menguat pada periode Juli hingga Agustus 2026. Ia menilai pelemahan yang terjadi sepanjang April hingga Juni merupakan pola musiman yang kerap berulang setiap tahun.

        Namun, dengan rupiah yang kini telah menembus Rp18.036 per dolar AS, perdebatan mengenai efektivitas kebijakan Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas nilai tukar diperkirakan akan terus mengemuka dalam beberapa waktu ke depan.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Editor: Amry Nur Hidayat

        Tag Terkait:

        Bagikan Artikel: