Penembakan di Sekolah Thailand Tewaskan 9 Orang, Pelaku Diduga Siswa dan Bunuh Diri
Kredit Foto: Reuters/Poppy McPherson
Sedikitnya sembilan orang tewas dan 15 lainnya terluka dalam penembakan di Debsirin Nonthaburi School, Thailand, Jumat (7/8/2026). Pelaku diduga merupakan siswa sekolah tersebut dan mengakhiri hidupnya setelah melakukan penembakan di ruang komputer.
Juru Bicara Kepolisian Nasional Thailand Trairong Phiwphan mengatakan, insiden terjadi di distrik Bang Kruai, wilayah pinggiran barat laut Bangkok. Polisi menyebut pelaku sebelumnya juga menembak hingga tewas kakek dan neneknya di rumah mereka sebelum menuju sekolah.
Setibanya di sekolah, pelaku melepaskan sedikitnya 26 tembakan. Polisi juga menemukan 34 butir amunisi tambahan yang dibawa oleh terduga pelaku.
Trairong mengatakan senjata yang digunakan dalam aksi tersebut merupakan milik kakek pelaku. Polisi kemudian menemukan pelaku tewas setelah menembakkan senjata ke dirinya sendiri di ruang komputer.
Identitas pelaku disebut sebagai seorang siswa, tetapi kepolisian belum memberikan informasi lebih jauh mengenai motif maupun latar belakang aksinya. Sejumlah siswa di lokasi juga mengidentifikasi pelaku sebagai remaja yang terdaftar di sekolah tersebut.
Laporan Thai PBS menyebut tiga guru dan tiga siswa termasuk di antara korban tewas. Sementara itu, total korban luka dalam insiden tersebut mencapai 15 orang dan langsung mendapatkan penanganan medis.
Kesaksian siswa di lokasi menggambarkan situasi mencekam saat penembakan terjadi. Seorang siswa berusia 18 tahun mengatakan kepada Reuters bahwa ia sempat mengira suara yang terdengar merupakan petasan atau suara seseorang memukul benda.
"Awalnya saya tidak mengira itu suara tembakan," ujarnya.
Siswa tersebut kemudian mendengar rentetan suara tembakan kembali terdengar setelah sempat terjadi keheningan. "Ada banyak suara tembakan: Bang bang bang. Lalu suasana menjadi sunyi. Kemudian suara itu terdengar lagi," katanya.
Perdana Menteri Thailand Anutin Charnvirakul menyampaikan belasungkawa kepada para korban. Ia juga memerintahkan pejabat terkait untuk menangani para korban serta memastikan penanganan insiden dilakukan.
Debsirin Nonthaburi School diketahui memiliki sekitar 3.100 siswa dan 147 guru berdasarkan data pada tahun ajaran 2025. Besarnya jumlah siswa membuat insiden tersebut menjadi perhatian serius, terutama karena pelaku diduga merupakan bagian dari lingkungan sekolah.
Penembakan tersebut kembali menyoroti persoalan kepemilikan senjata api di Thailand. Meski aturan kepemilikan senjata tergolong ketat dan kepemilikan ilegal dapat dikenai hukuman penjara hingga 10 tahun, jumlah senjata api yang beredar di negara tersebut tetap tinggi.
Al Jazeera melaporkan, diperkirakan terdapat sekitar 10,3 juta senjata api di Thailand. Sekitar 40 persen di antaranya disebut tidak terdaftar sehingga persoalan pengendalian senjata kembali menjadi perhatian setelah tragedi terbaru ini.
Baca Juga: Tujuh Orang Tewas dalam Penembakan di Sekolah Thailand, Pelaku Siswa SMA
Insiden tersebut juga menambah daftar kasus kekerasan bersenjata di lingkungan sekolah Thailand. Pada Februari lalu, seorang guru tewas dan seorang siswa terluka setelah seorang pria bersenjata melepaskan tembakan di sebuah sekolah di Hat Yai, Thailand selatan.
Sebelumnya, pada Oktober 2022, seorang mantan polisi melakukan serangan menggunakan senjata api dan pisau di Provinsi Nong Bua Lamphu. Serangan tersebut menewaskan puluhan orang, termasuk anak-anak.
Polisi Thailand kini masih menyelidiki rangkaian kejadian yang mengarah pada penembakan di Debsirin Nonthaburi School, termasuk motif pelaku, asal senjata, serta bagaimana senjata milik kakeknya dapat digunakan dalam serangan tersebut.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Wahyu Pratama
Editor: Wahyu Pratama
Tag Terkait: