Kredit Foto: Ewindo
Lampung semakin memperkuat perannya dalam rantai pasok hortikultura nasional seiring meningkatnya produktivitas budidaya semangka yang mampu mencapai 33 hingga 39 ton per hektare. Kinerja tersebut menjadikan provinsi ini sebagai salah satu pemasok utama semangka untuk pasar Sumatera dan Pulau Jawa.
Di tengah meningkatnya kebutuhan buah segar, sektor semangka menjadi salah satu komoditas hortikultura yang menopang aktivitas ekonomi pedesaan sekaligus memperkuat distribusi pangan antardaerah. Produksi dari sentra-sentra pertanian di Lampung tidak hanya memenuhi kebutuhan lokal, tetapi juga mengalir ke berbagai pusat konsumsi di luar provinsi.
Peningkatan produktivitas tersebut ditopang oleh adopsi teknologi budidaya yang lebih modern, penggunaan benih unggul, serta pendampingan teknis kepada petani. Perbaikan praktik budidaya memungkinkan petani meningkatkan hasil panen sekaligus menjaga kualitas produk yang dibutuhkan pasar.
Bupati Lampung Tengah I Komang Koheri mengatakan komoditas semangka telah berkembang menjadi salah satu kekuatan ekonomi pertanian daerah yang memiliki pasar luas.
“Komoditas semangka dari Lampung Tengah telah terbukti memiliki kualitas yang luar biasa dan mampu memenuhi kebutuhan pasar, baik lokal maupun nasional,” ujarnya.
Menurut Komang, pemerintah daerah terus mendukung pengembangan sektor tersebut melalui penyediaan sarana produksi, pendampingan penyuluh, serta upaya menjaga stabilitas harga pascapanen guna meningkatkan kesejahteraan petani.
Dari sisi pelaku usaha tani, peningkatan produktivitas dinilai berkaitan erat dengan penerapan inovasi di lapangan. Misno, petani semangka di Desa Simpang Agung, Lampung Tengah, mengatakan penerapan teknik budidaya yang lebih terukur membantu meningkatkan hasil produksi dan efisiensi usaha tani.
“Dulu kami bertani lebih banyak berdasarkan pengalaman. Seiring waktu, kami belajar banyak mengenai cara budidaya yang lebih tepat dan efisien. Dengan penerapan teknologi yang lebih baik, hasil yang kami peroleh juga semakin meningkat,” katanya.
Produktivitas tinggi menjadi faktor penting dalam menjaga daya saing komoditas semangka Lampung. Dalam kondisi budidaya optimal, produksi dapat mencapai 33 hingga 39 ton per hektare dengan bobot buah berkisar 7 hingga 9 kilogram per buah.
Selain hasil panen yang tinggi, umur panen yang relatif singkat sekitar 58 hingga 62 hari setelah tanam memungkinkan petani mempercepat siklus produksi. Kondisi tersebut memberikan peluang peningkatan pendapatan melalui frekuensi panen yang lebih tinggi dalam satu tahun.
Faktor ekonomi lainnya terletak pada efisiensi distribusi. Karakter buah yang memiliki kulit keras dan daya tahan lebih baik membantu menjaga kualitas selama proses pengiriman jarak jauh. Keunggulan ini menjadi penting mengingat sebagian besar produksi semangka Lampung dipasarkan ke berbagai daerah di Sumatera dan Pulau Jawa.
Baca Juga: Dukung Petani, Zulhas Pangkas 145 Aturan Pupuk Jadi 3
Baca Juga: Jelang Musim Giling, Petani Tebu Hadapi Kenaikan Harga Pupuk
Deputy Managing Director PT East West Seed Indonesia (EWINDO), Isak Heryawan, menilai penguatan sentra hortikultura nasional tidak terlepas dari peran petani sebagai penggerak utama produksi pangan.
“Petani adalah bagian yang sangat penting dalam sistem pangan Indonesia. Mereka berada di garis depan dalam memastikan ketersediaan pangan bagi masyarakat,” ujarnya.
Menurut Isak, potensi ekonomi hortikultura masih terbuka lebar apabila didukung inovasi benih, peningkatan produktivitas, serta praktik budidaya yang semakin efisien. Kombinasi faktor tersebut dinilai mampu meningkatkan daya saing produk pertanian domestik sekaligus memperkuat kontribusi sektor hortikultura terhadap perekonomian daerah.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Editor: Annisa Nurfitri
Tag Terkait: