Rupiah Diproyeksi Tembus Rp19.000 dan IHSG Berpotensi Anjlok ke 4.000 di Akhir Juni 2026
Kredit Foto: Sufri Yuliardi
Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) diproyeksi menembus level Rp19.000 per dolar AS pada akhir Juni 2026. Pada pembukaan perdagangan Senin (8/6/2026), rupiah dibuka melemah ke posisi Rp18.129 per dolar AS.
Pengamat pasar uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, mengatakan proyeksi tersebut berdasarkan meningkatnya tekanan dari faktor global maupun domestik yang membayangi pasar keuangan Indonesia.
“Ada kemungkinan besar rupiah kalau saya lihat dari kondisi saat ini level Rp19.000.000 di akhir bulan ini kemungkinan akan tercapai,” kata Ibrahim kepada wartawan, Jakarta, Senin (8/6/2026).
Tidak hanya rupiah, Ibrahim juga menyoroti tekanan yang terjadi di pasar saham domestik. Pada pembukaan perdagangan, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tercatat melemah hampir 2,92% ke level 5.431.
Ia memperkirakan, IHSG berpotensi turun lebih dalam hingga menyentuh level kritis 4.000 pada akhir Juni 2026 apabila sentimen negatif terus berlanjut.
Menurut Ibrahim, pelemahan rupiah dan IHSG dipicu oleh kombinasi faktor eksternal, terutama meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah dan kebijakan moneter AS.
Ibrahim menilai data ketenagakerjaan AS yang lebih kuat dari perkiraan turut memperkuat ekspektasi bahwa bank sentral AS akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama.
“Ini membuat Bank Sentral Amerika di bawah Kevin Warsh kemungkinan besar akan mempertahankan suku bunga tinggi, bahkan akan menaikkan suku bunga satu kali dalam kuartal keempat,” tuturnya.
Dari sisi domestik, Ibrahim menilai kenaikan harga minyak mentah dunia akan meningkatkan kebutuhan dolar AS untuk impor energi. Kondisi tersebut berpotensi memperlebar tekanan terhadap neraca berjalan dan fiskal pemerintah.
“Kalau neraca berjalan berpengaruh, berarti akan mempengaruhi defisit anggaran. Defisit anggaran kemungkinan besar akan mendekati 3%. Nah, di sisi lain pun juga kemarin kita melihat bahwa data untuk implasi pun juga terus mengalami kenaikan, bahkan di bulan Juni ini pun juga akan mengalami kenaikan,” jelasnya.
Ibrahim menyoroti kebutuhan anggaran subsidi bahan bakar minyak (BBM) akibat lonjakan harga minyak dunia dan pelemahan nilai tukar rupiah yang jauh dari asumsi APBN.
Baca Juga: IHSG Dibuka Anjlok Tajam 3,84% ke Level 5.380 di Awal Perdagangan
Baca Juga: Makin Parah, Rupiah Anjlok Sentuh Rp18.137,5 per Dolar AS
“Kita harus tahu bahwa bahan bakar yang disubsidi 85% ini membutuhkan dolar yang cukup besar, harus diingat di APBN itu di Rp16.500. Kemudian minyaknya di Rp70 per barrel, sekarang sudah diangka berapa?,” tuturnya.
Selain itu, sentimen pasar turut dipengaruhi oleh penurunan prospek peringkat utang Indonesia oleh lembaga pemeringkat internasional Moody`s serta spekulasi peninjauan status pasar modal Indonesia oleh MSCI.
“Dan yang terakhir kemarin bahwa simpang-siur bahwa MSCI kemungkinan besar akan menurunkan saham-saham di pasar modal dari emerging market menjadi frontier market, walaupun kita tahu bahwa baru pertengahan Juni ini MSCI akan mengumumkan, tapi ini sudah membuat rupiah dan IHSG mengalami penurunan yang cukup signifikan,” pungkasnya.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Cita Auliana
Editor: Dwi Aditya Putra