Dituduh Jadi Band Pelat Merah, Slank Bereaksi: Kami Nggak Pernah Berubah!
Kredit Foto: Antara/Muhammad Adimaja
Perilisan album terbaru Slank bertajuk Republik Fufufafa ternyata memunculkan perdebatan baru di kalangan publik. Banyak netizen menilai grup musik legendaris tersebut akhirnya kembali ke "setelan pabrik" karena lagi-lagi menghadirkan lagu-lagu bernuansa kritik sosial setelah beberapa tahun dianggap lebih dekat dengan lingkaran kekuasaan.
Tak hanya itu, cap sebagai "band pelat merah" yang sempat melekat pada Slank dalam beberapa tahun terakhir kembali mencuat. Namun, para personel Slank justru menegaskan bahwa mereka tidak pernah meninggalkan identitas lamanya.
Respons tersebut disampaikan usai peluncuran album studio ke-26 mereka, Republik Fufufafa, yang resmi dirilis pada 5 Juni 2026. Album ini berisi 10 lagu yang mengangkat berbagai tema mulai dari cinta, lingkungan, anak muda, hingga kritik sosial yang cukup tajam.
Menanggapi anggapan bahwa Slank baru sekarang kembali kritis, drummer sekaligus motor utama Slank, Bimbim, langsung memberikan jawaban yang cukup menohok.
“Sebenarnya Slank nggak ke mana-mana kok, mereka saja yang berubah,” kata Bimbim dalam konferensi pers peluncuran album Republik Fufufafa, Jakarta Selatan.
Baca Juga: Geger di Balik Konser Dewa 19! Tyo Nugros Dicekal, Al Ghazali Mendadak Jadi Penyelamat
Pernyataan itu seolah menjadi bantahan terhadap narasi yang berkembang bahwa Slank sempat meninggalkan jalur kritik sosial. Menurut mereka, publik yang melontarkan anggapan tersebut justru tidak mengikuti perjalanan musik Slank secara utuh.
Gitaris Slank, Ridho, bahkan secara tegas menolak istilah "kembali ke setelan pabrik" yang ramai digunakan netizen.
“Kalau kata gue, kalian jangan menulis ‘setelan pabrik’, berarti kalian nggak mengerti Slank,” ucap dia.
Ridho menjelaskan bahwa kritik sosial bukan hal baru dalam karya-karya Slank. Jauh sebelum Republik Fufufafa dirilis, mereka juga sudah menyisipkan kritik dalam album Pala Lu Peyang yang meluncur pada 2017 dan album Vaksin pada 2021.
“Di 2017, itu kan periode pertama (Jokowi). Jadi kalau sekarang baru kalian berbicara, berarti kalian nggak mengerti. Nggak mengamati Slank dari 2014,” ujar Ridho.
Album Republik Fufufafa sendiri banyak menarik perhatian karena beberapa lagunya mengangkat isu-isu yang sedang hangat di masyarakat. Salah satunya lagu berjudul "Republik Fufufafa" yang disebut lahir dari berbagai fenomena sosial yang ramai diberitakan media.
Menurut Bimbim, inspirasi lagu tersebut berasal dari berbagai persoalan yang saat ini dihadapi masyarakat Indonesia.
“‘Republik Fufufafa’ bercerita tentang negeri stunting, kurang gizi. Semua itu adalah berita yang ditulis wartawan, lalu kami ambil, kami capture, dan kami jadikan sebuah lagu yang berjudul ‘Republik Fufufafa’,” papar Bimbim.
Baca Juga: Terungkap Sumber Cuan Giorgio Antonio Pacar Sarwendah! Beneran CEO Kaya Raya?
Tak hanya itu, Slank juga melontarkan kritik melalui lagu "PPN 12%" yang lahir dari pengamatan mereka terhadap berbagai aktivitas ekonomi ilegal dengan perputaran uang yang besar. Sementara lagu "Jangan Rakus" juga menjadi medium bagi mereka untuk menyuarakan keresahan terhadap berbagai fenomena sosial yang terjadi saat ini.
Album yang kini ramai dibicarakan tersebut dirilis saat sebagian publik masih menganggap Slank terlalu dekat dengan pemerintah. Namun melalui Republik Fufufafa, mereka menegaskan bahwa kritik sosial tetap menjadi bagian dari DNA band yang telah berdiri lebih dari empat dekade itu.
Bagi Slank, perubahan bukan terjadi pada mereka, melainkan pada cara sebagian orang memandang perjalanan musik mereka selama ini.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Belinda Safitri
Editor: Belinda Safitri
Tag Terkait: