'Israel Mungkin Tak Menyukainya,' Amerika Prioritaskan Kepentingannya Sendiri di Perang Iran
Kredit Foto: Istimewa
Pemerintahan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menegaskan bahwa kepentingan nasional Washington akan menjadi prioritas utama dalam menentukan arah kebijakan terhadap Iran, meskipun posisi tersebut tidak selalu sejalan dengan keinginan Israel.
Pernyataan itu disampaikan Wakil Presiden AS JD Vance di tengah laporan mengenai perbedaan pandangan antara Gedung Putih dan pemerintahan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu terkait penanganan Iran.
Baca Juga: Usai Korupsi Dadan Hindayana, Kini Isu Dana Telat Cair Bikin Mogok Dapur MBG
Menurut Vance, Amerika Serikat dan Israel memang memiliki banyak kepentingan bersama. Namun, ia mengakui terdapat sejumlah isu strategis di mana kepentingan kedua negara tidak selalu identik.
"Israel dan Amerika Serikat memiliki banyak kepentingan bersama. Tetapi ada juga beberapa situasi di mana kepentingan kami berbeda," kata Vance, dikutip Selasa (9/6).
Vance menegaskan bahwa tujuan utama Amerika Serikat dalam persoalan Iran bukanlah mengikuti seluruh agenda keamanan Israel, melainkan memastikan Teheran tidak memiliki senjata nuklir.
Menurutnya, itulah prioritas yang selama ini menjadi dasar kebijakan pemerintahan Trump dalam menangani Iran.
Ia menjelaskan bahwa dalam satu setengah tahun terakhir, Washington merasa telah berhasil menciptakan ruang diplomatik yang memungkinkan tercapainya penyelesaian jangka panjang terhadap program nuklir Iran.
Pemerintahan Trump meyakini jalur tersebut lebih menguntungkan bagi kepentingan Amerika Serikat dibandingkan eskalasi militer yang berkelanjutan.
Vance juga secara terbuka mengakui bahwa pendekatan tersebut belum tentu disukai oleh Israel. Namun menurutnya, penerimaan atau penolakan dari Tel Aviv bukan faktor utama yang menentukan arah kebijakan Washington.
"Israel mungkin menyukainya, mungkin juga tidak menyukainya, tetapi pada dasarnya kami berpikir bahwa ini adalah kepentingan terbaik bagi Amerika Serikat," ujarnya.
Pernyataan itu memperlihatkan semakin jelasnya posisi Gedung Putih yang ingin mengedepankan agenda nasional Amerika di tengah ketegangan kawasan.
Dalam beberapa pekan terakhir, muncul sejumlah laporan mengenai perbedaan pendekatan antara Trump dan Netanyahu terkait Iran.
Trump sebelumnya diketahui mendorong deeskalasi dan menjaga peluang tercapainya kesepakatan baru dengan Teheran, sementara sejumlah tokoh di pemerintahan Israel disebut lebih mendukung langkah yang lebih keras terhadap Iran.
Meski demikian, Vance menegaskan pemerintahan Trump akan tetap melanjutkan strategi yang diyakini paling menguntungkan bagi Amerika Serikat. Menurutnya, itulah mandat yang diberikan pemilih kepada Trump sebagai Presiden Amerika Serikat.
Baca Juga: Tanpa Alasan Jelas, Amerika Serikat Tolak Berikan Visa ke Wasit Piala Dunia 2026
Dengan pernyataan tersebut, Washington mengirim sinyal bahwa hubungan erat dengan Israel tidak otomatis membuat Amerika mengikuti seluruh agenda Tel Aviv dalam konflik Iran. Bagi pemerintahan Trump, kepentingan nasional Amerika tetap menjadi pertimbangan utama dalam menentukan langkah berikutnya di Timur Tengah.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Editor: Aldi Ginastiar
Tag Terkait: