Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        'Sepasang Kekasih Juga Bisa Ribut,' Israel Klaim Masih Mesra dengan Amerika di Tengah Perang Iran

        'Sepasang Kekasih Juga Bisa Ribut,' Israel Klaim Masih Mesra dengan Amerika di Tengah Perang Iran Kredit Foto: Istimewa
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Isu keretakan hubungan antara Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu di tengah konflik Iran dibantah oleh kubu Israel.

        Duta Besar Israel untuk Amerika Serikat, Yechiel Leiter justru menggambarkan dinamika hubungan kedua pemimpin itu layaknya pasangan yang sesekali bertengkar, namun tetap memiliki hubungan yang sangat dekat.

        Baca Juga: 'Saya Tak Pernah Jamin,' Trump Dituduh Lupakan Janji Kampanye Sendiri Gegara Perang Iran-Amerika

        "Kadang-kadang pasangan yang saling mencintai juga bertengkar," kata Leiter, dikutip dari Fox News, Selasa (9/6).

        Pernyataan itu muncul setelah sejumlah laporan menyebut Trump dan Netanyahu berbeda pandangan terkait respons Israel terhadap Iran.

        Sebelumnya, Trump dilaporkan beberapa kali meminta Israel menahan diri agar tidak memperluas konflik dengan Teheran demi menjaga peluang tercapainya kesepakatan jangka panjang terkait isu nuklir Iran.

        Meski demikian, Leiter menegaskan hubungan pribadi Trump dan Netanyahu tetap sangat kuat. Ia mengaku telah mengikuti ratusan percakapan antara kedua pemimpin tersebut dan menyaksikan secara langsung kedekatan mereka.

        Menurut Leiter, persahabatan Trump dan Netanyahu telah terjalin selama hampir empat dekade.

        "Hubungan mereka sangat dalam dan sudah berlangsung sekitar 40 tahun," ujarnya.

        Leiter juga mengungkapkan bahwa Netanyahu memang memilih menurunkan tensi aksi militer terhadap Iran setelah adanya permintaan dari Trump.

        Namun menurut dia, Presiden Amerika Serikat memahami sepenuhnya bahwa Israel tidak mungkin membiarkan serangan rudal balistik terhadap wilayahnya tanpa memberikan respons. Karena itu, perbedaan pendapat yang muncul tidak seharusnya diartikan sebagai keretakan hubungan strategis antara Washington dan Tel Aviv.

        "Sebagian besar yang terjadi adalah kerja sama yang sangat erat antara Amerika Serikat dan Israel, dan ada pemahaman yang sangat besar di antara keduanya," kata Leiter.

        Di sisi lain, sejumlah pengamat juga menilai pernyataan keras Trump kepada Netanyahu belum menunjukkan perubahan nyata dalam hubungan kedua negara.

        Peneliti dari lembaga kajian berbasis di Washington, Phyllis Bennis menilai retorika Trump terhadap Israel sejauh ini belum diikuti langkah konkret. Menurutnya, peringatan Trump kepada Netanyahu lebih banyak bersifat politik dibandingkan perubahan kebijakan substantif.

        Bennis menilai selama Amerika Serikat masih terus memberikan bantuan militer dalam jumlah besar kepada Israel serta tetap memberikan dukungan diplomatik di berbagai forum internasional, maka hubungan kedua negara pada dasarnya tidak mengalami perubahan berarti.

        Ia berpendapat bahwa Netanyahu tidak memiliki alasan kuat untuk menganggap pernyataan keras Trump sebagai ancaman serius selama dukungan militer dan politik Washington tetap berjalan.

        Perdebatan yang muncul terkait Iran, menurut sejumlah pihak, lebih mencerminkan perbedaan taktik antara kedua pemimpin dibandingkan perpecahan strategis.

        Baca Juga: Usai Korupsi Dadan Hindayana, Kini Isu Dana Telat Cair Bikin Mogok Dapur MBG

        Di tengah meningkatnya ketegangan kawasan, baik Washington maupun Tel Aviv masih menunjukkan bahwa hubungan keamanan dan politik keduanya tetap menjadi salah satu kemitraan paling erat di Timur Tengah, meskipun sesekali diwarnai perbedaan pandangan terkait cara menghadapi Iran.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Editor: Aldi Ginastiar

        Bagikan Artikel: