Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        BTN Nilai Kenaikan BI Rate Tepat untuk Cegah Tekanan Inflasi Impor

        BTN Nilai Kenaikan BI Rate Tepat untuk Cegah Tekanan Inflasi Impor Kredit Foto: Dok. BTN
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BTN) menilai keputusan Bank Indonesia (BI) menaikkan suku bunga acuan atau BI Rate sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 5,50% merupakan langkah yang tepat untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah meningkatnya ketidakpastian global.

        Chief Economist BTN, Myrdal Gunarto, mengatakan pelemahan rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dalam beberapa pekan terakhir telah meningkatkan risiko inflasi impor (imported inflation), terutama bagi sektor-sektor yang masih bergantung pada bahan baku, barang modal, dan komponen impor.

        "Oleh karena itu, langkah stabilisasi yang ditempuh Bank Indonesia diharapkan dapat mempercepat proses penyesuaian pasar sekaligus menjaga ekspektasi inflasi tetap terkendali," kata Myrdal dalam keterangannya, Jakarta, Selasa (9/6/2026).

        Menurutnya, kebijakan kenaikan suku bunga tersebut menjadi langkah antisipatif untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah sekaligus mengurangi dampak tekanan eksternal terhadap perekonomian domestik.

        BTN juga mendukung langkah BI dalam memperkuat bauran kebijakan moneter melalui berbagai instrumen pendukung. Kebijakan tersebut meliputi peningkatan daya tarik imbal hasil Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI), pemberian insentif swap lindung nilai bagi investor asing, pembukaan kembali fasilitas repurchase agreement (repo) untuk menjaga kecukupan likuiditas perbankan, serta peningkatan intensitas operasi moneter di pasar rupiah maupun valuta asing.

        Myrdal menilai penguatan bauran kebijakan moneter menjadi penting di tengah meningkatnya volatilitas pasar keuangan global akibat eskalasi ketegangan geopolitik dan pergeseran arus modal internasional.

        Ia berharap, penguatan bauran kebijakan moneter dapat menjaga daya tarik aset keuangan domestik sekaligus memperkuat kepercayaan investor terhadap perekonomian Indonesia.

        Di sisi lain, BTN masih melihat fundamental ekonomi nasional tetap kuat Berbagai sektor yang ditopang oleh aktivitas domestik, pembangunan infrastruktur, sektor perumahan, ketahanan pangan, energi, hilirisasi, serta ekspor berbasis sumber daya alam diperkirakan tetap menjadi motor pertumbuhan ekonomi nasional sepanjang tahun 2026

        Baca Juga: Tekan Rasio Kredit Bermasalah, Begini Strategi BTN

        Baca Juga: Bank Indonesia Tiba-tiba Naikkan Suku Bunga Acuan Jadi 5,50%

        "Dengan dukungan aktivitas investasi dan intermediasi perbankan yang tetap terjaga, pertumbuhan ekonomi Indonesia diperkirakan masih dapat berada pada kisaran 5,2% pada tahun ini," ucapnya.

        Meski demikian, kenaikan suku bunga acuan berpotensi memberikan tekanan terhadap sektor-sektor yang sensitif terhadap biaya pendanaan dan daya beli masyarakat. Oleh karena itu, keseimbangan antara stabilitas makroekonomi dan dukungan terhadap pertumbuhan ekonomi akan tetap menjadi faktor penting dalam arah kebijakan moneter ke depan.

        "Ke depan, kami melihat ruang penyesuaian BI-Rate akan sangat bergantung pada perkembangan nilai tukar Rupiah, inflasi, arus modal asing, serta dinamika ekonomi global," pungkasnya.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Cita Auliana
        Editor: Dwi Aditya Putra

        Bagikan Artikel: