Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Diakui Trump, Amerika Lakukan Operasi Senyap Demi Harga Minyak Tak Meledak ke US$250/Barel

        Diakui Trump, Amerika Lakukan Operasi Senyap Demi Harga Minyak Tak Meledak ke US$250/Barel Kredit Foto: Istimewa
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengungkap operasi rahasia yang menurutnya menjadi alasan utama harga minyak dunia tidak melonjak hingga mencapai US$250 per barel di tengah memanasnya konflik dengan Iran.

        Pengakuan tersebut disampaikan Trump saat berbicara di Oval Office, Kamis (11/6/2026), ketika menjelaskan dampak ketegangan terbaru di Timur Tengah terhadap pasar energi global.

        Baca Juga: Diakui Wakil Trump, Amerika Serikat Tak Bisa Lihat Jelas Ujung Perang Iran

        Menurut Trump, pemerintahannya secara diam-diam telah mengirim puluhan kapal tanker melewati Selat Hormuz dalam beberapa hari terakhir tanpa diketahui Iran. Ia menyebut operasi tersebut dilakukan pada malam hari dengan tingkat kerahasiaan tinggi agar tidak terdeteksi oleh Teheran.

        Trump mengklaim sedikitnya 22 kapal tanker berhasil melewati Selat Hormuz pada malam hari tanpa lampu dan tanpa terdeteksi oleh Iran. Menurutnya, keberhasilan operasi tersebut membuat pasokan minyak dunia tetap terjaga meski kawasan Timur Tengah kembali dilanda ketegangan militer.

        "Jutaan barel minyak berhasil keluar dan itulah sebabnya harga minyak berada di kisaran US$85 hingga US$90 per barel, bukan US$250 per barel," tegas Trump.

        Pernyataan itu muncul saat harga minyak mentah dunia kembali menguat akibat meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap konflik Amerika Serikat dan Iran.

        Harga minyak West Texas Intermediate (WTI) tercatat berada di sekitar US$89,40 per barel atau naik lebih dari 2 persen pada perdagangan saat ini ditulis. Penguatan tersebut dipicu oleh ketegangan geopolitik yang terus berkembang di kawasan Timur Tengah.

        Di saat yang sama, Trump juga kembali mengancam akan melanjutkan serangan terhadap Iran apabila Teheran terus menunda kesepakatan damai yang sedang dinegosiasikan dengan Washington.

        "Kami menghantam mereka dengan keras kemarin dan kami akan menghantam mereka dengan keras lagi hari ini," kata Trump.

        Presiden AS itu menegaskan bahwa pemerintahannya hanya akan menerima kesepakatan yang benar-benar mengikat dan mampu mengakomodasi kepentingan Amerika Serikat dalam jangka panjang.

        Baca Juga: 'Mereka Merasa Sedang Menang,' Iran Berubah Drastis hingga Bikin Retak Hubungan Amerika dan Israel

        Di tengah ancaman eskalasi konflik tersebut, pengakuan Trump mengenai operasi pengiriman minyak rahasia menunjukkan bahwa Washington tidak hanya mengandalkan tekanan militer terhadap Iran, tetapi juga berusaha menjaga stabilitas pasar energi global agar gejolak di Timur Tengah tidak memicu lonjakan harga minyak yang lebih ekstrem.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Editor: Aldi Ginastiar

        Bagikan Artikel: