Diakui Wakil Trump, Amerika Serikat Tak Bisa Lihat Jelas Ujung Perang Iran
Kredit Foto: ChatGPT/Al Musthafa Gustar's
Amerika Serikat (AS) mengklaim semakin dekat dengan kesepakatan besar terkait program nuklir Iran. Namun di tengah optimisme tersebut, Wakil Presiden AS JD Vance mengakui belum ada kepastian kapan konflik dan ketegangan panjang antara Washington dan Teheran benar-benar akan berakhir.
Pernyataan Vance menunjukkan bahwa meski jalur diplomasi masih berjalan, Gedung Putih sendiri belum melihat tanda pasti kapan kesepakatan final dapat dicapai, terlebih setelah kembali muncul insiden militer di kawasan Teluk Hormuz yang memperkeruh situasi.
Baca Juga: Tak Akan Ada Lonjakan Gegara Naiknya Harga Pertamax, Purbaya: Kan Enggak Dipakai Angkutan Barang
Vance mengatakan pemerintah Donald Trump berada pada posisi yang sangat dekat untuk memperoleh kesepakatan yang mampu membatasi program nuklir Iran dalam jangka panjang.
Menurut dia, tujuan utama Washington adalah memastikan Iran tidak pernah memiliki senjata nuklir, bukan hanya selama masa pemerintahan Trump, tetapi juga untuk generasi mendatang.
"Saat ini saya merasa kami berada dalam posisi untuk mendapatkan kesepakatan yang baik bagi Amerika Serikat secara ekonomi dan benar-benar menyelesaikan masalah program nuklir Iran untuk jangka panjang," kata Vance, dikutip dari CBS News, Rabu (10/6).
Meski demikian, ia mengakui masih banyak pekerjaan yang harus diselesaikan sebelum kesepakatan benar-benar terwujud.
"Saya pikir kami sangat dekat untuk mencapai tujuan itu. Tetapi masih ada pekerjaan yang harus dilakukan," ujarnya.
Ketika ditanya mengenai kapan kesepakatan tersebut bisa tercapai, Vance memberikan jawaban yang menunjukkan ketidakpastian proses negosiasi yang masih berlangsung. Ia mengatakan kesepakatan bisa saja tercapai dalam waktu satu pekan ke depan, tetapi tidak menutup kemungkinan baru terealisasi beberapa bulan mendatang.
"Saya pikir kesepakatan itu bisa terjadi minggu depan, tetapi bisa juga baru terjadi beberapa bulan dari sekarang," kata Vance.
Pernyataan tersebut muncul hanya beberapa jam setelah Presiden Donald Trump menyebut negosiasi dengan Iran telah memasuki tahap akhir dan berpotensi menghasilkan kesepakatan dalam dua hingga tiga hari.
Namun optimisme Trump langsung dibayangi perkembangan baru setelah Washington menuduh Iran bertanggung jawab atas jatuhnya helikopter Apache militer AS di dekat Selat Hormuz.
Trump bahkan berjanji akan memberikan respons terhadap insiden tersebut, yang kembali meningkatkan ketegangan di kawasan Timur Tengah.
Meski demikian, Vance menolak anggapan bahwa Iran sengaja mengulur waktu atau mempermainkan proses negosiasi. Menurut dia, sistem politik Iran memang membutuhkan waktu panjang untuk membangun konsensus sebelum mengambil keputusan strategis.
"Saya tidak berpikir mereka sedang mempermainkan Presiden Trump," ujarnya.
Vance menambahkan bahwa pendekatan pemerintahan Trump bukan didasarkan pada rasa percaya kepada Iran, melainkan pada kemampuan negosiasi dan mekanisme pengawasan yang akan dimasukkan ke dalam kesepakatan nantinya.
Ia mengutip pandangan Trump yang selama ini menegaskan bahwa dirinya tidak mempercayai siapa pun dalam proses diplomasi internasional.
"Saya tidak percaya siapa pun. Yang saya percaya adalah kemampuan saya untuk bernegosiasi, kemampuan pemerintahan kami untuk bernegosiasi, dan mekanisme penegakan yang akan kami bangun dalam kesepakatan itu," kata Vance menirukan pernyataan Trump.
Baca Juga: Amerika Tiba-tiba Hentikan Serangan ke Iran, Klaim 'Sudah Puas' Hancurkan Fasilitas dari Teheran
Pernyataan Wakil Presiden AS tersebut memperlihatkan bahwa meskipun Washington dan Teheran diklaim semakin dekat menuju titik temu, jalan menuju perdamaian permanen masih jauh dari kata pasti. Di tengah negosiasi yang terus berlangsung, setiap insiden militer di kawasan berpotensi kembali menggagalkan momentum diplomasi yang sedang dibangun kedua pihak.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Editor: Aldi Ginastiar
Tag Terkait: