Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Aksi Jahit Mulut Aktivis Lampung Sambut Prabowo di Lampung, Ada Maknanya

        Aksi Jahit Mulut Aktivis Lampung Sambut Prabowo di Lampung, Ada Maknanya Kredit Foto: Ist
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Kunjungan kerja Presiden Prabowo Subianto ke Provinsi Lampung diwarnai aksi unjuk rasa ekstrem oleh kelompok mahasiswa. Tiga orang pemuda nekat melakukan aksi teatrikal jahit mulut menggunakan benang medis di Bundaran Tugu Adipura, Bandar Lampung, beberapa hari lalu.

        Ketiga pemuda yang melakukan aksi jahit mulut tersebut diketahui bernama Dzaki Oktarian, Bondol, dan Akbar Sumantri.

        Aksi damai ini digelar oleh Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi (LMND) Eksekutif Wilayah Lampung, bertepatan dengan agenda Presiden Prabowo yang tengah meresmikan sejumlah fasilitas pelayanan publik dan menghadiri pembukaan Musyawarah Nasional (Munas) HIPMI di Lampung.

        Koordinator aksi, Josua Sitorus, menyatakan bahwa aksi jahit mulut ini merupakan simbol dari pembungkaman suara kritis masyarakat sipil di tengah situasi negara yang dinilai semakin otoriter.

        Selain menyoroti isu demokrasi, massa aksi juga mengkritik kondisi perekonomian nasional yang dirasa semakin memberatkan masyarakat.

        Dalam demonstrasi tersebut, LMND Lampung membawa sejumlah tuntutan krusial kepada pemerintah pusat.

        Pertama, mereka mendesak penerapan pajak kekayaan khusus bagi kelompok masyarakat berpenghasilan tinggi guna memangkas ketimpangan ekonomi nasional yang semakin nyata.

        "Kedua, mahasiswa menuntut pemerintah untuk segera mewujudkan akses pendidikan gratis, ilmiah, dan demokratis untuk seluruh rakyat karena akses pendidikan yang setara dinilai masih menjadi persoalan besar di berbagai daerah," kata Josua.

        Ketiga, massa menolak keras apa yang mereka sebut sebagai remiliterisasi, yaitu keterlibatan dan pelibatan militer dalam urusan non-pertahanan atau ruang-ruang sipil yang dianggap perlu segera dievaluasi.

        Selain ketiga poin utama itu, para demonstran juga mendesak pemerintah mencari solusi konkret atas melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat.

        Mereka juga meminta evaluasi mendalam terhadap keberlanjutan anggaran sejumlah program pemerintah, seperti program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa (Kopdes).

        Massa menilai pemerintah saat ini harus lebih fokus pada pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat, terutama pada penguatan sektor pendidikan dan kesehatan.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Editor: Ferry Hidayat

        Bagikan Artikel: