Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Harga Pertamax Naik Drastis 32 Persen, DPR Desak Pemerintah Transparan Soal Formula BBM

        Harga Pertamax Naik Drastis 32 Persen, DPR Desak Pemerintah Transparan Soal Formula BBM Kredit Foto: Ist
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Anggota Komisi XII DPR RI Ratna Juwita mendesak Kementerian ESDM dan PT Pertamina (Persero) untuk membuka mekanisme penentuan harga BBM nonsubsidi kepada publik. Langkah tersebut dinilai sangat perlu dilakukan menyusul adanya lonjakan harga produk Pertamax dan Pertamax Green 95 di pasaran.

        Kebijakan penyesuaian tarif energi tersebut dilaporkan memicu perhatian serta respons kebingungan dari masyarakat luas. Pihak legislatif menilai pemerintah tidak boleh hanya sekadar mengumumkan angka kenaikan harga produk tanpa adanya penjelasan latar belakang.

        "Pemerintah harus menjelaskan secara terbuka faktor-faktor yang menyebabkan kenaikan harga tersebut. Publik berhak mendapatkan informasi yang jelas, rasional, dan dapat dipertanggungjawabkan," ujar Ratna Juwita kepada wartawan.

        Lonjakan harga bahan bakar non-subsidi ini menunjukkan adanya tekanan biaya energi yang sangat kuat di tingkat global. Kondisi tersebut diperparah dengan semakin terbatasnya ruang fiskal pemerintah dalam mempertahankan berbagai skema subsidi energi nasional.

        Anggota dewan perwakilan rakyat dari fraksi PKB tersebut mengaku menerima banyak laporan masyarakat yang terkejut dengan besarnya nilai kenaikan. Dampak kebijakan kenaikan harga ini dinilai berpotensi besar menjalar ke berbagai sektor ekonomi lainnya.

        "Kenaikan harga BBM nonsubsidi berpotensi menimbulkan efek berantai yang cukup luas, terutama bagi kelompok masyarakat kelas menengah yang selama ini menjadi pengguna utama Pertamax," katanya menambahkan.

        Sektor bidang jasa transportasi dan industri logistik menjadi bagian yang paling rentan terkena dampak negatif. Kenaikan biaya operasional distribusi barang di jalan raya dapat memicu lonjakan harga berbagai kebutuhan pokok di pasar domestik.

        Situasi buruk tersebut dikhawatirkan dapat memberikan tekanan tambahan terhadap tingkat daya beli masyarakat umum. Gejala ekonomi ini juga diprediksi akan memberikan kontribusi nyata terhadap kenaikan angka inflasi nasional.

        "Ketika biaya logistik meningkat, maka risiko kenaikan harga barang juga ikut membesar. Dampaknya bisa dirasakan langsung oleh masyarakat dalam aktivitas sehari-hari," ujarnya menegaskan.

        Pemerintah dituntut untuk segera menyiapkan langkah mitigasi yang tepat agar dampak ekonomi akibat kenaikan tarif tidak meluas. Edukasi publik secara berkala dinilai sangat penting untuk mencegah munculnya spekulasi merugikan di tengah masyarakat.

        "Masyarakat saat ini sudah menghadapi berbagai tekanan ekonomi. Karena itu pemerintah harus hadir menjelaskan alasan di balik kenaikan harga tersebut agar tidak menimbulkan spekulasi maupun kepanikan baru," pungkasnya.

        PT Pertamina (Persero) saat ini resmi membanderol produk Pertamax dengan harga baru sebesar Rp16.250 per liter. Nilai tersebut melonjak drastis sebesar Rp3.950 dari patokan harga lama yang berada pada angka Rp12.300 per liter.

        Baca Juga: Huru-Hara Pertamax Naik! Bos Pertamina Ikut Bersuara, Kenapa BBM Tiba-Tiba Melonjak?

        Varian Pertamax Green saat ini juga mengalami penyesuaian tarif menjadi Rp17.000 per liter. Nilai jual produk tersebut tercatat naik sebesar Rp4.100 dari ketentuan harga lama sebesar Rp12.900 per liter.

        Di tengah lonjakan tarif komoditas nonsubsidi tersebut, harga bahan bakar jenis Pertalite dilaporkan masih tetap dipertahankan. Bahan bakar penugasan dengan nilai oktan RON 90 tersebut dipatok stabil pada angka Rp10.000 per liter.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Christian Andy
        Editor: Christian Andy

        Bagikan Artikel: