Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Nyatakan Tidak Terima, Israel Meradang Lihat Kesepakatan Damai Amerika dan Iran

        Nyatakan Tidak Terima, Israel Meradang Lihat Kesepakatan Damai Amerika dan Iran Kredit Foto: Istimewa
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Upaya perdamaian antara Amerika Serikat (AS) dan Iran yang diklaim tinggal selangkah lagi menuju penandatanganan justru memicu kekhawatiran di Israel. Pemerintah Perdana Menteri Benjamin Netanyahu disebut menilai sejumlah poin dalam kesepakatan tersebut berpotensi mengancam kepentingan keamanan Tel Aviv.

        Laporan media Israel, The Times of Israel, menyebut Netanyahu dijadwalkan menggelar rapat kabinet keamanan setelah Presiden AS Donald Trump mengumumkan bahwa perjanjian damai dengan Iran direncanakan ditandatangani pada Minggu (15/6/2026).

        Baca Juga: Dibongkar Pakistan, Perdamaian Iran dan Amerika Tinggal Hitungan Jam Lagi

        Mengutip Channel 12, sejumlah pejabat senior Israel menyatakan syarat-syarat dalam nota kesepahaman (Memorandum of Understanding/MoU) antara Washington dan Teheran dinilai terlalu mengakomodasi tuntutan Iran.

        Mereka bahkan menyebut kesepakatan tersebut dapat membahayakan kepentingan strategis Israel di kawasan Timur Tengah.

        Kekhawatiran Israel muncul di tengah klaim Trump bahwa Washington dan Teheran telah mencapai "kesepakatan besar" untuk mengakhiri konflik yang selama berbulan-bulan memicu ketegangan regional.

        Trump mengatakan dokumen perjanjian telah memasuki tahap akhir dan dapat segera ditandatangani dalam beberapa hari mendatang.

        "Selat Hormuz akan dibuka kembali setelah perjanjian ditandatangani," ujar Trump.

        Namun, bocoran isi MoU yang beredar di media Iran menunjukkan bahwa proses perdamaian tidak hanya menyentuh isu nuklir, tetapi juga mencakup pencabutan sanksi ekonomi, blokade maritim, keamanan kawasan, hingga tuntutan yang secara langsung berkaitan dengan Israel.

        Salah satu poin paling sensitif adalah permintaan Iran agar Israel menghentikan serangan ke Lebanon dan menarik pasukannya dari wilayah tersebut.

        Tuntutan itu sebelumnya telah ditolak mentah-mentah oleh Menteri Pertahanan Israel, yang menegaskan bahwa negaranya tidak akan menarik pasukan dari zona keamanan di Lebanon, Suriah, maupun Gaza, apa pun hasil perundingan AS-Iran.

        Selain itu, Iran juga menginginkan pencabutan penuh blokade angkatan laut AS dalam waktu 30 hari, penangguhan sanksi terhadap ekspor minyak, pencairan dana Iran senilai US$24 miliar atau sekitar Rp427 triliun, serta program rekonstruksi senilai US$300 miliar.

        Teheran juga meminta komitmen Washington untuk tidak menambah pasukan di kawasan, tidak menjatuhkan sanksi baru, dan tidak mencampuri urusan dalam negeri Iran.

        Meski seorang pejabat senior pemerintahan Trump mengatakan draf teks perjanjian telah disepakati kedua pihak, pejabat Iran justru masih menunjukkan sikap hati-hati.

        Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyatakan kesepakatan memang "belum pernah sedekat ini", tetapi proses finalisasi masih berlangsung dan publik diminta tidak berspekulasi mengenai isinya.

        Sementara itu, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmaeil Baghaei menegaskan belum ada kesimpulan akhir meski sebagian besar poin perjanjian telah disetujui.

        Sumber yang dekat dengan tim negosiasi Iran bahkan menyebut kabar mengenai penandatanganan perjanjian final di Jenewa pada akhir pekan ini sebagai informasi yang "sama sekali tidak benar".

        Baca Juga: Tak Hanya Wasit dan Jurnalis, Ini Sasaran Terbaru Aturan Ketat Amerika di Piala Dunia 2026

        Reaksi keras dari Israel menunjukkan bahwa jalan menuju perdamaian AS-Iran masih dipenuhi tantangan. Meski Washington dan Teheran disebut telah mencapai terobosan diplomatik, keberatan Tel Aviv berpotensi menjadi batu sandungan baru bagi upaya mengakhiri konflik yang selama ini mengguncang Timur Tengah dan pasar energi global.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Editor: Aldi Ginastiar

        Bagikan Artikel: