Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        'Waktunya untuk Berubah,' Taiwan Kini Gunakan Taktik Amerika dalam Melawan China

        'Waktunya untuk Berubah,' Taiwan Kini Gunakan Taktik Amerika dalam Melawan China Kredit Foto: Getty Images/Roberto Galan
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Taiwan mulai mengadopsi strategi yang selama ini digunakan Amerika Serikat (AS) dalam menghadapi China. Pemerintah pulau tersebut meluncurkan sebuah situs khusus yang memungkinkan warga negara China membocorkan informasi intelijen secara rahasia kepada otoritas Taiwan.

        Langkah itu diumumkan oleh National Security Bureau of Taiwan pada Minggu (14/6/2026) sebagai respons atas meningkatnya ketidakpuasan masyarakat China terhadap kondisi ekonomi dan politik di negaranya.

        Baca Juga: 'Satukan Negara Teluk,' Amerika Blak-blakan Akui Punya Rencana Buka Gerbang Persahabatan dengan Iran

        Dalam pernyataan resminya, badan intelijen Taiwan menilai perekonomian China tengah menghadapi kesulitan yang semakin besar, sementara kontrol politik pemerintah tetap berjalan secara ketat.

        "Kondisi ini telah memicu ketidakpuasan publik dan semakin banyak individu yang menghubungi lembaga terkait di Taiwan untuk memberikan berbagai jenis informasi," demikian pernyataan badan tersebut, dikutip Rabu (17/6).

        Taiwan dan China selama bertahun-tahun memang terlibat dalam perang intelijen. Namun, Taipei mengaku dalam beberapa tahun terakhir jumlah kasus spionase yang melibatkan agen China mengalami peningkatan signifikan.

        Untuk memperluas sumber informasi, Taiwan kini membuka kanal baru yang memungkinkan warga China, baik yang berada di dalam maupun luar negeri, menyampaikan data intelijen secara aman.

        Menariknya, Taiwan secara terbuka mengakui bahwa strategi tersebut meniru pendekatan yang diterapkan oleh sejumlah negara, termasuk Amerika Serikat, Inggris dan Israel.

        "Saluran ini memungkinkan warga China memberikan informasi terkait intelijen dan memperluas sumber intelijen yang beragam bagi badan keamanan kami," kata badan tersebut.

        Sebagai bagian dari kampanye tersebut, situs baru itu dibuka dengan video promosi berdurasi satu menit yang dibuat menggunakan teknologi kecerdasan buatan (AI).

        Video tersebut menggambarkan seorang pegawai negeri di China yang menyaksikan rekan-rekannya satu per satu diperiksa dan dibawa pergi oleh aparat.

        "Ah, satu orang lagi dibawa pergi," ujar tokoh dalam video tersebut dengan logat khas China utara.

        Narator kemudian mengatakan, "Rekan-rekan lama menghilang satu per satu tanpa alasan yang jelas."

        Di akhir video, tokoh tersebut membeli telepon seluler dan mengetik sebuah pesan sembari mengatakan, "Sekarang adalah waktunya untuk berubah."

        Meski situs itu telah diblokir di China, Taiwan tampaknya tetap optimistis. Sebab, banyak warga China diketahui menggunakan layanan virtual private network (VPN) untuk mengakses situs-situs asing yang dibatasi pemerintah Beijing, termasuk media sosial dan mesin pencari Barat.

        Taiwan pun secara terbuka mengajak warga China untuk berani melakukan perubahan.

        "Kami menyerukan kepada warga negara China di dalam maupun luar negeri untuk secara aktif memberikan informasi dan melakukan perubahan dengan keberanian," ujar badan keamanan tersebut.

        Langkah Taipei ini juga menjadi babak baru dalam persaingan intelijen antara kedua pihak. Sebelumnya pada 2024, pemerintah China juga pernah membuka alamat surat elektronik khusus untuk menerima laporan masyarakat terkait dugaan kejahatan yang dilakukan oleh pihak-pihak yang disebut sebagai "separatis Taiwan".

        Pemerintah Taiwan sendiri terus menolak klaim kedaulatan Beijing atas pulau tersebut dan menegaskan bahwa masa depan Taiwan hanya dapat ditentukan oleh rakyatnya sendiri.

        Baca Juga: Gegara Ulah Amerika, Iran Menjadi Tim Paling Tertindas di Piala Dunia 2026

        Dengan meniru model yang digunakan Amerika Serikat dan sekutunya, Taiwan kini tampak semakin agresif dalam memperluas perang intelijen terhadap Beijing sekaligus mencoba memanfaatkan ketidakpuasan internal di China sebagai sumber informasi strategis.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Editor: Aldi Ginastiar

        Bagikan Artikel: