Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Kementan Bongkar Penyebab Harga Beras Bertahan Tinggi Meski Stok Nasional Capai 5,3 Juta Ton

        Kementan Bongkar Penyebab Harga Beras Bertahan Tinggi Meski Stok Nasional Capai 5,3 Juta Ton Kredit Foto: Bulog
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Pemerintah mengakui harga beras belum menunjukkan penurunan signifikan meski stok beras nasional yang tersimpan di Perum Bulog telah mencapai sekitar 5,3 juta ton.

        Sekretaris Jenderal Kementerian Pertanian, Suwandi, mengatakan kondisi tersebut menunjukkan bahwa harga beras tidak selalu bergerak sesuai teori permintaan dan penawaran (supply-demand). Menurut dia, melimpahnya stok belum otomatis membuat harga turun di tingkat konsumen.

        "Kalau teori ekonomi, ketika stok banyak harusnya harga turun. Tetapi untuk beras tidak selalu demikian," kata Suwandi dalam konferensi pers pemerintah, Rabu (17/6/2026).

        Ia menjelaskan salah satu penyebabnya adalah panjangnya rantai distribusi beras dari produsen hingga konsumen. Dalam praktiknya, beras dapat melewati tujuh hingga sembilan mata rantai perdagangan sebelum sampai ke masyarakat.

        "Karena mata rantainya panjang. Ada tujuh sampai sembilan mata rantai perdagangan. Setiap mata rantai mengambil margin," ujarnya.

        Baca Juga: Inflasi Beras Terkendali, Pemerintah Perluas Pasar Murah untuk Jaga Stabilitas Harga

        Baca Juga: Stok Beras RI Tembus 5,3 Juta Ton, Satgas Pangan Siap Tindak Pedagang Nakal

        Menurut Suwandi, kondisi tersebut membuat harga beras yang diterima konsumen tidak sepenuhnya mencerminkan ketersediaan stok di tingkat nasional. Karena itu, pemerintah tidak hanya fokus meningkatkan produksi dan cadangan beras, tetapi juga membenahi tata niaga dan distribusi pangan.

        Ia menilai perbaikan rantai distribusi menjadi kunci agar peningkatan produksi dan stok beras nasional dapat diikuti dengan harga yang lebih terjangkau bagi masyarakat.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Rahmat Dwi Kurniawan
        Editor: Dwi Aditya Putra

        Bagikan Artikel: