Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Ekonomi Digital RI Diproyeksi Tembus Rp6.408 Triliun pada 2030, Meutya Tak Mau Bocor ke Luar

        Ekonomi Digital RI Diproyeksi Tembus Rp6.408 Triliun pada 2030, Meutya Tak Mau Bocor ke Luar Kredit Foto: Komdigi
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid menegaskan Indonesia perlu bertransformasi dari sekadar pasar ekonomi digital menjadi pencipta sekaligus pemilik nilai dalam ekosistem digital global. Langkah tersebut dinilai penting agar pertumbuhan ekonomi digital nasional menghasilkan nilai tambah yang lebih besar bagi masyarakat dan pelaku usaha di dalam negeri.

        Meutya mengungkapkan Indonesia saat ini merupakan ekonomi digital terbesar di Asia Tenggara dengan nilai sekitar US$100 miliar atau setara Rp1.780 triliun. Nilai tersebut diproyeksikan meningkat menjadi US$360 miliar atau sekitar Rp6.408 triliun pada 2030.

        Meski demikian, ia mengingatkan bahwa besarnya nilai ekonomi digital tidak otomatis mencerminkan kekuatan ekonomi yang sesungguhnya apabila manfaat ekonominya tidak banyak dinikmati oleh masyarakat Indonesia.

        “Indonesia telah menjadi ekonomi digital terbesar di ASEAN dengan nilai sekitar US$100 miliar atau hampir sepertiga dari total kawasan. Namun, besarnya angka tidak otomatis berarti kekuatan yang sesungguhnya,” ujar Meutya dalam Asia Economic Summit di Jakarta Selatan, Rabu (17/6/2026).

        Menurutnya, tantangan Indonesia saat ini bukan lagi sekadar memperluas akses internet dan konektivitas digital, melainkan memastikan seluruh sistem ekonomi digital mampu menciptakan nilai tambah yang berkelanjutan bagi perekonomian nasional.

        Pemerintah karena itu mendorong strategi retensi nilai (value retention) agar manfaat ekonomi digital tidak hanya tercipta di Indonesia, tetapi juga tetap berputar di dalam negeri melalui peningkatan produktivitas, penciptaan lapangan kerja, dan penguatan pelaku usaha lokal.

        “Menghubungkan masyarakat adalah bagian yang cukup mudah. Justru bagian yang jauh lebih sulit dan jauh lebih berharga adalah menghubungkan sistem kita serta mengubah seluruh pertumbuhan itu menjadi kekuatan ekonomi yang berkelanjutan,” katanya.

        Selain ditopang populasi sekitar 281 juta jiwa atau hampir 40% dari total penduduk ASEAN, Indonesia juga memiliki sekitar 220 juta pengguna internet, pertumbuhan ekonomi yang stabil, serta realisasi investasi asing langsung (foreign direct investment/FDI) sebesar US$55 miliar atau sekitar Rp979 triliun sepanjang tahun lalu.

        Menurut Meutya, teknologi digital harus mampu meningkatkan produktivitas sekaligus membuka akses pasar yang lebih luas bagi pelaku usaha kecil, termasuk UMKM, petani, dan nelayan.

        Baca Juga: Indonesia Berpotensi Kuasai US$600 Miliar Ekonomi Digital ASEAN

        Baca Juga: Digitalisasi Bansos Berbasis AI, Luhut Sebut Efisiensi Belanja Negara Bisa Capai Rp260 Triliun

        Ia mencontohkan pemanfaatan platform digital yang memungkinkan nelayan menjual hasil tangkapan langsung kepada konsumen tanpa melalui rantai distribusi yang panjang. Dengan demikian, pendapatan pelaku usaha dapat meningkat dan distribusi manfaat ekonomi menjadi lebih merata.

        "Nelayan kini bisa menjual hasil tangkapan langsung ke pasar melalui aplikasi dan mendapatkan pendapatan jauh lebih besar. Produsen kecil dapat menjangkau pelanggan di seluruh negeri bahkan kawasan tanpa perantara yang mengambil sebagian besar keuntungan. Inilah makna sebenarnya dari transformasi digital," ujarnya.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Yulisha Kirani Rizkya Pangestuti
        Editor: Annisa Nurfitri

        Bagikan Artikel: