Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Perbankan Diminta Waspada, Ancaman Siber Makin Kompleks dan Terarah

        Perbankan Diminta Waspada, Ancaman Siber Makin Kompleks dan Terarah Kredit Foto: Yulisha Kirani Rizkya Pangestuti
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Industri perbankan masih menjadi salah satu target utama serangan siber meski dikenal memiliki investasi keamanan teknologi informasi yang lebih besar dibandingkan banyak sektor lainnya. Tingginya reputasi dan posisi strategis perbankan dalam sistem keuangan membuat sektor ini tetap menjadi sasaran menarik bagi pelaku kejahatan siber.

        Head of Consulting PT Ensign InfoSecurity Indonesia, Adithya Nugraputra, mengatakan dampak dari insiden siber di sektor perbankan tidak hanya mengganggu operasional, tetapi juga berpotensi merusak kepercayaan nasabah dan reputasi institusi keuangan.

        "Bank ini dipakai banyak orang dan reputasinya tinggi. Kalau reputasi itu dicoba dijatuhkan dengan cyber attack, konsekuensinya terhadap keberlangsungan bisnis sangat tinggi," ujar Adithya dalam sesi tanya jawab dengan media di Jakarta, Kamis (18/6/2026).

        Menurutnya, besarnya anggaran keamanan siber yang dimiliki industri perbankan tidak otomatis membuat sektor tersebut kebal terhadap serangan. Ancaman dapat berasal dari berbagai arah, termasuk dari faktor internal organisasi.

        Adithya menjelaskan bahwa kesadaran dan pemahaman karyawan terhadap risiko keamanan digital menjadi salah satu aspek penting dalam mencegah insiden siber.

        "Banyak masuk justru dari dalam. Orang-orang di dalam organisasi harus mengerti mana yang berbahaya, mana yang boleh dilakukan, dan mana yang tidak boleh dilakukan," katanya.

        Selain penguatan sistem dan sumber daya manusia, Ensign menilai koordinasi dengan regulator menjadi bagian penting dalam respons terhadap insiden siber.

        Sesuai ketentuan yang berlaku, lembaga perbankan wajib menyampaikan laporan awal kepada Otoritas Jasa Keuangan (OJK) paling lambat 24 jam setelah insiden siber teridentifikasi.

        Adithya menekankan bahwa hubungan dan komunikasi dengan regulator sebaiknya dibangun sebelum terjadi insiden agar proses penanganan krisis dapat berlangsung lebih cepat dan efektif.

        Baca Juga: Serangan Siber Makin Brutal Capai 5,5 Miliar Kali, Ini Langkah Antisipasinya

        Baca Juga: Elitery Siapkan Ekspansi ke Asia dan Eropa, Fokus Perkuat AI dan Keamanan Siber

        "Jangan pas sudah kena baru mendekati regulator. Saat kondisi normal justru perlu membangun komunikasi karena regulator juga bisa membantu ketika terjadi insiden," ujarnya.

        Di tengah meningkatnya ancaman siber global, Ensign memperkirakan sektor perbankan akan tetap menjadi target utama pelaku serangan karena nilai ekonomi dan dampak strategis yang dimilikinya.

        Karena itu, selain terus berinvestasi pada teknologi keamanan, perbankan juga perlu memperkuat kesiapan sumber daya manusia, meningkatkan kemampuan respons insiden, serta membangun budaya keamanan siber yang berkelanjutan guna menjaga stabilitas operasional dan kepercayaan nasabah.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Yulisha Kirani Rizkya Pangestuti
        Editor: Annisa Nurfitri

        Tag Terkait:

        Bagikan Artikel: