Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Sempat Terkoreksi, IHSG Berhasil Rebound di Sesi Pembukaan

        Sempat Terkoreksi, IHSG Berhasil Rebound di Sesi Pembukaan Kredit Foto: Antara/Hafidz Mubarak A
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) dibuka menguat pada perdagangan akhir pekan, Jumat (19/6/2026). Berdasarkan data dari RTI Business pada pukul 09.01 WIB, IHSG terpantau menguat terbatas sebesar 10,99 poin atau naik 0,18% ke level 6.183,33.

        Pada awal perdagangan sesi I, indeks saham sempat mengalami koreksi sesaat hingga menyentuh level terendah harian di 6.156,92. Namun, IHSG dengan cepat berbalik arah (rebound) dan merangkak naik hingga menyentuh level tertinggi di 6.183,97 setelah dibuka pada level 6.161,45.

        Tercatat sebanyak 267 saham bergerak menguat di zona hijau, 142 saham melemah di zona merah, dan 209 saham lainnya stagnan alias tidak mengalami perubahan harga.

        Volume perdagangan di awal sesi ini telah mencapai 1,05 miliar lembar saham, dengan frekuensi transaksi sebanyak 68.874 kali. Adapun nilai perputaran dana atau total nilai transaksi tercatat sebesar Rp716,52 miliar, dengan nilai kapitalisasi pasar berada di angka Rp10.784,10 triliun.

        Senior Technical AnalystMirae Asset Sekuritas Indonesia, Nafan Aji Gusta, mengatakan pergerakan IHSG diperkirakan menguat terbatas setelah membentuk pola hammer candle. Sementara itu, indikator Stochastics K_D dan RSI masih menunjukkan sinyal positif, namun indikator volume terus mengalami penurunan.

        "Adapun saham-saham big caps tetap menjadi fokus utama pasar untuk melihat arah pergerakan dana asing hari ini," kata dia dalam analisanya.

        Nafan menyebut, para pelaku pasar mencermati rilis Global Market Accessibility Review dari MSCI di mana hasil awal menunjukkan posisi Indonesia relatif aman di Emerging Market walaupun terdapat catatan pada aspek transparansi kepemilikan.

        Kendati demikian, market masih bersikap wait and see menjelang keputusan final Annual Market Classification pada 23–24 Juni mendatang untuk melihat apakah pembekuan penambahan konstituen indeks akan dicabut.

        "Para pelaku pasar juga bersiap mengantisipasi dampak dari agenda FTSE rebalancing yang efektif menjelang akhir pekan," imbuh dia.

        Di sisi lain, Bank Indonesia telah memutuskan untuk kembali menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 bps menjadi 5,75%. Langkah agresif ini diambil demi menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah dan meredam inflasi.

        Saat ini, Rupiah terpantau melemah 0,18% pada Rp17.794 per USD. Penyebabnya ialah bahwa sentimen eksternal masih dipengaruhi oleh hasil pertemuan FOMC di bawah kepemimpinan Kevin Warsh yang dinilai hawkish oleh kalangan market.

        Baca Juga: MSCI Kasih Sederet PR ke Direksi Baru BEI dan OJK

        Baca Juga: Meski Pertahankan Status Emerging Market Indonesia, MSCI Beri Catatan Serius Soal Transparansi

        "Walaupun suku bunga acuan ditahan di level 3,75%, proyeksi median 2026 yang naik ke 3,8% mengindikasikan adanya peluang satu kali kenaikan Fed Rate lagi sebesar 25 bps pada Desember 2026," ungkap dia.

        Beralih ke Timur Tengah, AS dan Iran telah membuka diplomasi baru dengan menandatangani kesepakatan perdamaian sementara untuk mengakhiri operasi militer di semua lini dan segera membuka kembali Selat Hormuz. Perjanjian tersebut akan memulai periode negosiasi selama dua bulan untuk mencapai kesepakatan akhir.

        "Sentimen positif ini tentunya bisa memberikan angin segar bagi market," pungkas dia.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Dwi Aditya Putra
        Editor: Dwi Aditya Putra

        Bagikan Artikel: