Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        PLN Tak Ungkap Posisi HOP di Tengah Kekurangan Pasokan Batu Bara 20 Juta Ton

        PLN Tak Ungkap Posisi HOP di Tengah Kekurangan Pasokan Batu Bara 20 Juta Ton Kredit Foto: Rahmat Saepulloh
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        PT PLN (Persero) belum mengungkap posisi Hari Operasi Pembangkit (HOP) di tengah tantangan pemenuhan pasokan batu bara untuk pembangkit listrik tahun ini.

        Direktur Manajemen Pembangkitan PT PLN (Persero), Rizal Calvary Marimbo, tidak merinci apakah HOP masih berada pada level aman 15-20 hari saat ditanya mengenai kondisi cadangan operasional pembangkit.

        "Challenging. Karena yang paling penting itu kan masih kontrol kita kan," ujar Rizal kepada Warta Ekonomi usai Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) PLN di BP BUMN, Jakarta, Kamis malam (18/6/2026).

        Pernyataan tersebut muncul di tengah belum terpenuhinya kebutuhan batu bara PLN untuk pembangkit listrik. Berdasarkan data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), dari total kebutuhan batu bara PLN sebesar 154 juta ton pada 2026, baru sekitar 134 juta ton yang berhasil dikontrak dengan perusahaan tambang.

        Dengan demikian, masih terdapat kekurangan pasokan sekitar 20 juta ton batu bara yang saat ini masih diupayakan pemenuhannya.

        Rizal mengatakan kekurangan tersebut berasal dari batu bara jenis medium range coal (MRC).

        "Lagi diusahakan dari ESDM. Itu kan sampai akhir tahun. Itu MRC," katanya.

        Tantangan pemenuhan batu bara itu terjadi bersamaan dengan gangguan pasokan listrik di sejumlah wilayah yang mendorong PLN melakukan manajemen beban terbatas.

        Executive Vice President Komunikasi Korporat dan TJSL PLN Gregorius Adi Trianto mengatakan langkah tersebut dilakukan karena adanya kendala teknis operasional pembangkit serta gangguan pada dua unit pembangkit berkapasitas besar.

        "Langkah tersebut dilakukan karena terdapat kendala teknis operasional pembangkit serta ada dua unit pembangkit besar yang mengalami gangguan sehingga tidak beroperasi sementara dan menurunkan kemampuan sistem pasokan listrik," ujar Gregorius kepada Wartawan. 

        Menurut dia, PLN terus mempercepat proses pemulihan, mengoptimalkan pasokan dari pembangkit lain, serta melakukan pengaturan operasi sistem guna menjaga keseimbangan antara pasokan dan kebutuhan listrik.

        "PLN memohon maaf atas ketidaknyamanan yang dialami pelanggan. Manajemen beban ini bersifat sementara dan akan segera dihentikan secara bertahap seiring dengan membaiknya kondisi pasokan sistem," tuturnya.

        Baca Juga: Pemadaman Bergilir Terjadi, PLN Masih Kekurangan Pasokan Batu Bara untuk Pembangkit

        Baca Juga: Beberapa Wilayah Di Bandung Mati Lampu Mendadak, Begini Penjelasan PLN

        Dalam beberapa hari terakhir, sejumlah wilayah di Pulau Jawa dilaporkan mengalami pemadaman bergilir. Dampaknya tidak hanya dirasakan pelanggan rumah tangga, tetapi juga sektor usaha dan layanan publik.

        Di Karawang, misalnya, pemadaman dilaporkan mengganggu operasional fasilitas kesehatan. Sejumlah klinik mengaku kesulitan memberikan pelayanan secara optimal akibat gangguan listrik yang terjadi sejak 17 Juni.

        "Klinik kami berada di Karawang Barat. Sudah sejak 17 Juni hingga hari ini kami tidak bisa melayani pelayanan secara maksimal. Sebagai klinik kandungan, kami tidak bisa melayani persalinan dan harus merujuknya ke rumah sakit terdekat," ujar pemilik salah satu klinik di Duren, Klari, Karawang Barat, yang enggan disebutkan namanya.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Rahmat Dwi Kurniawan
        Editor: Dwi Aditya Putra

        Bagikan Artikel: