Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Lepas dari Jerat Rentenir, 20 Nasabah PNM Mekaar Yogyakarta Tembus Grand Final PFL 2026

        Lepas dari Jerat Rentenir, 20 Nasabah PNM Mekaar Yogyakarta Tembus Grand Final PFL 2026 Kredit Foto: Ist
        Warta Ekonomi, Yogyakarta -

        Ajang Grand Final Pro Futsal League (PFL) 2026 tidak hanya menjadi panggung unjuk gigi bagi para talenta futsal terbaik tanah air, melainkan juga roda penggerak ekonomi akar rumput.

        Sebanyak 20 pelaku usaha ultra mikro yang merupakan nasabah PNM Mekaar Yogyakarta terpilih untuk berjualan langsung di area venue pertandingan nasional tersebut.

        PT Permodalan Nasional Madani (PNM) selaku sponsor utama PFL 2026 sengaja membuka ruang ini agar para pengusaha prasejahtera dapat memperluas akses pasar, meningkatkan skala usaha, sekaligus mentas dari ketergantungan utang terhadap rentenir.

        Direktur Utama PNM, Kindaris, menegaskan bahwa esensi pemberdayaan perempuan ultra mikro tidak boleh berhenti pada pemberian modal finansial semata, melainkan juga harus diiringi dengan pembukaan akses kesempatan kerja yang nyata.

        "Bagi perempuan ultra mikro, modal bukan sekadar uang. Modal adalah kesempatan untuk bernapas lebih lega, berdiri lebih kuat, dan melanjutkan perjuangan dengan harapan baru. Ketika mereka diberi ruang untuk tumbuh, yang bergerak bukan hanya usahanya, tetapi juga keluarganya,” ujar Kindaris dalam keterangannya, Selasa (23/6/2026).

        Kisah Nyata Iin Sutiyani: Dulu Dikejar Rentenir, Kini Jualan di Event Nasional

        Salah satu nasabah PNM Mekaar Yogyakarta yang mendapat kesempatan emas di laga Grand Final PFL 2026 adalah Iin Sutiyani. Di balik meja lapaknya hari ini, Iin menyimpan kisah perjuangan hidup yang tidak mudah dalam menopang perekonomian keluarga.

        Sebelum mengenal sistem pembiayaan kelompok PNM Mekaar, Iin mengaku sempat terjebak dalam lingkaran setan pinjaman harian alias rentenir demi menghidupi usaha kecilnya, terlebih di tengah kondisi sang suami yang sedang jatuh sakit.

        "Dulu, setiap hari rasanya seperti dikejar waktu. Bukan hanya memikirkan dagangan harus laku, tetapi juga tagihan pinjaman harian yang terus datang. Tekanan itu membuat langkah saya terasa berat," kenang Iin.

        Titik balik kehidupannya terjadi setelah ia memutuskan bergabung menjadi nasabah PNM. Perlahan, Iin mendapatkan akses permodalan yang aman, legal, terarah, serta terbebas dari intimidasi tagihan berbunga tinggi.

        "Sekarang, bisa berjualan di Grand Final PFL 2026 menjadi kebanggaan tersendiri, karena saya merasa usaha kecil seperti kami juga punya kesempatan untuk tumbuh dan dihargai,” imbuhnya.

        Bagi masyarakat prasejahtera, kehadiran rentenir di saat mendesak memang kerap terlihat sebagai solusi instan. Namun, beban bunga yang mencekik justru mematikan potensi laba usaha dan memberikan tekanan psikologis berat bagi keluarga kecil.

        Melalui pendampingan terstruktur dan kehadiran 20 nasabah di kancah Grand Final PFL 2026, PNM berkomitmen untuk terus mereplikasi cerita-cerita sukses usaha mikro lainnya agar berani menjauh dari jerat informal dan terus bertumbuh bersama ekosistem ekonomi formal Indonesia.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Editor: Ferry Hidayat

        Bagikan Artikel: