Bintang Baru Mahasiswa dari UI, Fathimah Azzahra yang Berani Debat Utusan Khusus Prabowo Tidak dengan Cara Marah-Marah
Kredit Foto: Ist
Wakil Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Indonesia (BEM UI), Fathimah Azzahra, terlibat debat panas dengan Utusan Khusus Presiden Bidang Komunikasi, Hasan Nasbi, dalam sebuah program talkshow di TV One.
Fathimah mengkritik pendekatan penindakan korupsi pemerintah dan mendesak fokus pada perbaikan sistem.
Perdebatan bermula saat Hasan Nasbi memaparkan klaim komitmen tegas Presiden Prabowo Subianto dalam memberantas korupsi tanpa pandang bulu.
Sebagai contoh, Hasan menyinggung penindakan hukum terhadap Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Dadan Hindayana, yang dikenal sebagai sosok yang sangat dekat dengan Presiden.
"Itu orang yang jaraknya 1 meter dari Presiden. Tanpa tedeng aling-aling. Jadi, ini bentuk komitmen untuk mengedepankan pemberantasan korupsi karena bagian dari Astacita," ujar Hasan.
Hasan menambahkan bahwa pemerintah ingin masyarakat melihat penegakan hukum ini secara utuh dan objektif.
"Pemerintah ingin menjelaskan supaya sudut pandang masyarakat tidak hanya 45 derajat atau 90 derajat, tapi bisa berputar melihat keseluruhan aspek sehingga bisa menimbang dengan adil," lanjutnya.
Menanggapi klaim tersebut, Wakil Ketua BEM UI Fathimah Azzahra langsung melayangkan kritik. Menurut Fathimah, parameter keberhasilan pemberantasan korupsi bagi mahasiswa dan rakyat bukanlah seberapa banyak orang terdekat Presiden yang ditangkap, melainkan hilangnya praktik korupsi itu sendiri melalui sistem yang kuat.
"Parameter bagi pemerintah mungkin adalah menangkap orang yang dekat tanpa tedeng aling-aling. Tapi bagi mahasiswa dan rakyat, keberhasilan itu adalah ketika tidak ada lagi korupsi. Sehingga yang harus dikejar adalah sistem, bukan perorangan," tegas Fathimah.
Fathimah menilai, terjadinya korupsi di lingkaran dalam istana justru menunjukkan adanya kegagalan sistem pencegahan, meskipun Presiden diklaim telah melakukan pengawasan yang ketat.
"Parameter bagi pemerintah mungkin adalah menangkap orang yang dekat tanpa tedeng aling-aling. Tapi bagi mahasiswa dan rakyat, keberhasilan itu adalah ketika tidak ada lagi korupsi. Sehingga yang harus dikejar adalah sistem, bukan perorangan," tegas Fathimah.
Fathimah menilai, terjadinya korupsi di lingkaran dalam istana justru menunjukkan adanya kegagalan sistem pencegahan, meskipun Presiden diklaim telah melakukan pengawasan yang ketat.
"Ketika orang terdekat Presiden saja bisa melakukan korupsi padahal Presidennya se-watchful (sewaspada) itu, gimana yang jauh di sana? Jadi, adanya korupsi dan ditangkap itu bukan bukti keberhasilan, tapi bukti bahwa sistem yang dibentuk masih gagal menghindarkan kita dari kerugian korupsi," cetusnya.
Meski terdapat perbedaan pandangan yang tajam, kedua belah pihak dinilai mampu saling mendengarkan dengan baik sebelum diskusi dilanjutkan bersama narasumber lainnya.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Ferry Hidayat
Editor: Ferry Hidayat
Tag Terkait: