Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Membangun Kota yang Sehat Dimulai dari Sistem Transportasinya

        Membangun Kota yang Sehat Dimulai dari Sistem Transportasinya Kredit Foto: Rena Laila Wuri
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Bagi banyak pekerja di Jabodetabek, hari tidak dimulai ketika tiba di kantor.

        Hari dimulai sejak mereka meninggalkan rumah.

        Sebagian harus berangkat sebelum matahari terbit agar terhindar dari kemacetan. Sebagian lainnya harus menempuh perjalanan berjam-jam menggunakan kendaraan pribadi maupun transportasi umum demi mencapai tempat kerja tepat waktu.

        Ketika hari kerja selesai, perjalanan panjang itu harus diulang kembali.

        Tak jarang seseorang baru tiba di rumah ketika anak-anaknya sudah tertidur. Waktu bersama keluarga berkurang, waktu istirahat semakin sempit, sementara energi yang tersisa semakin sedikit.

        Di balik rutinitas tersebut, muncul pertanyaan yang semakin relevan bagi kota-kota besar: berapa harga yang harus dibayar masyarakat untuk sebuah perjalanan setiap hari?

        Ternyata jawabannya tidak hanya soal uang.

        Tetapi juga soal kesehatan.

        Dampak yang Tidak Selalu Terlihat

        Kemacetan sering diukur melalui panjang antrean kendaraan atau jumlah waktu yang terbuang di jalan.

        Namun dampaknya terhadap kesehatan sering kali jauh lebih besar dibanding yang terlihat di permukaan.

        Ekonom dan praktisi kebijakan publik Wijayanto Samirin menilai perjalanan harian yang terlalu panjang menciptakan tekanan psikologis yang signifikan bagi masyarakat perkotaan.

        Menurutnya, banyak pekerja di kawasan Jabodetabek menghabiskan dua hingga empat jam setiap hari untuk perjalanan pergi dan pulang bekerja.

        Waktu tersebut pada dasarnya diambil dari waktu istirahat, waktu keluarga, dan waktu untuk diri sendiri.

        “Dampak kesehatan mentalnya luar biasa. Tidak hanya bagi pekerja, tetapi juga bagi keluarga dan anak-anak mereka,” ujar Wijayanto.

        Kondisi tersebut menciptakan tekanan yang berlangsung terus-menerus.

        Perjalanan yang tidak pasti, kemacetan yang berkepanjangan, dan kelelahan akibat waktu tempuh yang panjang dapat memengaruhi kondisi emosional seseorang dalam jangka panjang.

        Ketika Macet Menjadi Beban Psikologis

        Berbagai penelitian menunjukkan adanya hubungan antara durasi perjalanan dan kesehatan mental.

        Semakin lama seseorang menghabiskan waktu di perjalanan, semakin tinggi risiko munculnya stres, kecemasan, hingga depresi.

        Wijayanto mengutip studi yang menunjukkan bahwa pekerja dengan waktu perjalanan lebih lama memiliki potensi lebih tinggi mengalami depresi dibanding mereka yang memiliki waktu tempuh lebih singkat.

        Fenomena tersebut mudah dipahami.

        Kemacetan membuat seseorang kehilangan kendali atas waktunya sendiri. Jadwal menjadi tidak pasti. Aktivitas keluarga terganggu. Kesempatan untuk beristirahat berkurang.

        Dalam jangka panjang, kondisi tersebut dapat menurunkan kualitas hidup secara keseluruhan.

        Karena itu, persoalan transportasi bukan hanya persoalan infrastruktur, tetapi juga persoalan kesehatan masyarakat.

        Udara Kota dan Ancaman yang Terhirup Setiap Hari

        Selain kesehatan mental, kualitas udara menjadi tantangan lain yang dihadapi masyarakat perkotaan.

        Ribuan kendaraan bermotor yang beroperasi setiap hari menghasilkan polusi yang terus terakumulasi di udara.

        Paparan tersebut tidak selalu terasa secara langsung. Namun dampaknya terhadap tubuh berlangsung setiap hari.

        Wijayanto mengutip studi yang menunjukkan bahwa paparan polusi yang diterima pengendara sepeda motor dalam aktivitas sehari-hari di Jakarta dan sekitarnya setara dengan dampak mengonsumsi sekitar 10 batang rokok per hari.

        Polusi udara diketahui meningkatkan risiko penyakit pernapasan, gangguan kardiovaskular, hingga berbagai masalah kesehatan kronis lainnya.

        Bagi kota-kota besar, persoalan ini menjadi tantangan serius karena menyangkut kualitas hidup jutaan warga.

        Bergerak Lebih Banyak, Hidup Lebih Sehat

        Menariknya, solusi terhadap persoalan tersebut tidak selalu harus rumit.

        Salah satu manfaat yang sering luput dari perhatian adalah bagaimana transportasi publik mendorong masyarakat untuk lebih aktif bergerak.

        Berbeda dengan penggunaan kendaraan pribadi yang membawa seseorang dari pintu rumah langsung ke tujuan, transportasi publik mengharuskan pengguna berjalan menuju halte, stasiun, atau titik transit.

        Aktivitas sederhana tersebut memberikan manfaat kesehatan yang nyata.

        Menurut Wijayanto, pengguna transportasi publik di Jakarta rata-rata berjalan sekitar satu hingga satu setengah kilometer setiap hari sebagai bagian dari perjalanan mereka.

        Jumlah tersebut mungkin terlihat kecil, tetapi jika dilakukan secara konsisten setiap hari, manfaatnya sangat besar bagi kesehatan fisik.

        Aktivitas berjalan kaki membantu menjaga kebugaran tubuh, meningkatkan kesehatan jantung, dan mengurangi risiko berbagai penyakit tidak menular.

        Dengan diperluasnya akses transportasi publik melalui pengembangan program Buy The Service (BTS) yang pada awalnya diinisiasi oleh Kementerian Perhubungan, saat ini telah mampu diteruskan pengelolaannya secara mandiri oleh beberapa Pemerintah Daerah seperti  Makassar, Denpasar, dan Purwokerto serta beberapa layanan di kota lainnya.

        Melalui sistem transportasi umum massal yang lebih nyaman dan terintegrasi, artinya semakin besar pula peluang masyarakat memiliki pilihan perjalanan. Hal ini menjadikan kendaraan pribadi bukan lagi menjadi pilihan utama untuk masyarakat berpindah tempat dan perlahan beralih memanfaatkan angkutan umum massal.

        Kota yang Lebih Sehat untuk Semua

        Pengalaman berbagai kota dunia menunjukkan bahwa kota yang memiliki sistem transportasi publik yang baik umumnya juga memiliki kualitas hidup yang lebih tinggi.

        Trotoar yang nyaman, ruang publik yang ramah pejalan kaki, konektivitas antarmoda yang baik, serta perjalanan yang lebih dapat diprediksi menciptakan lingkungan yang lebih sehat bagi masyarakat.

        Karena itu, investasi pada transportasi publik sesungguhnya merupakan investasi pada kualitas hidup.

        Bukan hanya untuk mengurangi kemacetan hari ini, tetapi juga untuk menciptakan generasi yang lebih sehat di masa depan.

        Sebab pada akhirnya, ukuran keberhasilan sebuah kota bukan hanya seberapa cepat orang dapat bergerak dari satu tempat ke tempat lain.

        Tetapi juga seberapa baik kota tersebut menjaga kesehatan, kebahagiaan, dan kualitas hidup warganya.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Azka Elfriza
        Editor: Annisa Nurfitri

        Bagikan Artikel: