Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Indonesia Tawarkan Empat Peluang Investasi Industri kepada Mitra Eurasia di INNOPROM 2026

        Indonesia Tawarkan Empat Peluang Investasi Industri kepada Mitra Eurasia di INNOPROM 2026 Kredit Foto: Kemenprin
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Indonesia memanfaatkan ajang INNOPROM 2026 di Yekaterinburg, Rusia, untuk memperluas kerja sama investasi industri dengan kawasan Eurasia. Sebagai Official Partner Country, pemerintah menawarkan empat peluang kemitraan strategis yang mencakup investasi, alih teknologi, hilirisasi mineral, hingga pengembangan industri agro.

        Direktur Jenderal Ketahanan Perwilayahan dan Akses Industri Internasional (KPAII) Kementerian Perindustrian Tri Supondy mengatakan keikutsertaan Indonesia dalam pameran industri terbesar di Rusia tersebut merupakan langkah untuk memperkuat posisi Indonesia sebagai mitra industri jangka panjang bagi negara-negara Eurasia.

        "Tujuan utama keikutsertaan Indonesia di INNOPROM 2026 adalah untuk memperkuat posisi Indonesia sebagai mitra industri jangka panjang bagi kawasan Eurasia. Pada pameran ini, Indonesia akan memperkenalkan SBIN yang memungkinkan Indonesia membangun ekosistem manufaktur yang terstruktur, transparan, dan lebih terbuka bagi kolaborasi internasional," ujar Tri dalam keterangannya.

        Peluang kerja sama pertama yang ditawarkan adalah kemitraan teknologi dan alih teknologi. Pemerintah membuka peluang bagi perusahaan yang memiliki keunggulan di bidang mesin industri, sistem otomasi, petrokimia, dan material untuk berkolaborasi dengan industri nasional yang tengah mempercepat modernisasi proses produksi.

        Kerja sama tersebut akan difokuskan pada sektor industri logam, mesin, alat transportasi, dan elektronika (ILMATE), serta industri kimia, farmasi, dan tekstil (IKFT).

        Peluang kedua adalah investasi langsung di kawasan industri yang telah siap beroperasi dan dikelola secara profesional. Pemerintah menilai kawasan industri di Indonesia kini semakin menarik karena didukung arah kebijakan industrialisasi yang lebih jelas.

        Selain itu, Indonesia juga menawarkan kolaborasi dalam pengembangan rantai pasok hilirisasi komoditas strategis seperti nikel, bauksit, tembaga, kobalt, dan litium. Sektor tersebut dinilai masih membutuhkan dukungan teknologi pengolahan maupun rekayasa material.

        Baca Juga: Indonesia Pamerkan Strategi Industrialisasi Baru di INNOPROM 2026, Bidik Kemitraan Global

        Peluang terakhir datang dari sektor agro dan pangan bernilai tambah. Melalui zona paviliun AGRO, Indonesia membuka kesempatan kerja sama di bidang teknologi pengolahan pangan, logistik, hingga pengembangan jaringan distribusi.

        Sebagai negara manufaktur terbesar di Asia Tenggara, Indonesia datang ke INNOPROM dengan modal yang cukup kuat. Nilai tambah manufaktur (Manufacturing Value Added/MVA) Indonesia mencapai USD265 miliar dan menempati peringkat ke-13 dunia. Sementara itu, ekspor manufaktur nonmigas hingga Agustus 2025 tercatat sebesar USD147,9 miliar atau hampir 80 persen dari total ekspor nasional.

        Pada pameran tersebut, Indonesia juga membawa lebih dari 50 pelaku industri untuk menjajaki peluang bisnis dan investasi bersama mitra dari kawasan Eurasia.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Ilham Nurul Karim
        Editor: Fajar Sulaiman

        Bagikan Artikel: