Hamas Tiba-tiba Bubarkan Pemerintahannya di Gaza, Israel Curiga: Ada Sandiwara?
Kredit Foto: Reuters
Di tengah upaya mencari jalan keluar bagi masa depan Gaza pascaperang, Hamas mengumumkan langkah mengejutkan dengan membubarkan pemerintahan sipilnya. Namun, alih-alih disambut positif, keputusan itu justru memicu kecurigaan dari Israel yang menilai Hamas masih berupaya mempertahankan pengaruhnya.
Pengumuman tersebut dinilai berpotensi menjadi ujian bagi rencana pemerintahan Gaza pascaperang yang didukung Amerika Serikat. Meski demikian, sejumlah pihak meragukan bahwa langkah itu benar-benar berarti Hamas melepas kendali.
Hamas pada Senin mengumumkan pembubaran komite darurat yang selama ini mengawasi pemerintahan sipil di Jalur Gaza. Langkah tersebut diakui dapat membuka peluang bagi pembentukan pemerintahan baru yang didukung Amerika Serikat untuk mengelola urusan sipil di wilayah tersebut.
Pemerintahan yang diusulkan dikenal dengan nama Komite Nasional Administrasi Gaza (NCAG), sebuah badan yang didukung AS dan dirancang untuk mengawasi administrasi sipil Gaza setelah perang berakhir.
Baca Juga: Trump Larang Israel Membalas Iran, Netanyahu Tutup Semua Pintu Gaza
Hamas sendiri telah menguasai Gaza sejak merebut wilayah itu pada 2007. Kelompok yang oleh Amerika Serikat ditetapkan sebagai organisasi teroris asing tersebut juga menjadi aktor utama dalam serangan ke Israel pada 7 Oktober 2023 yang memicu perang berkepanjangan.
Sejak awal konflik, Israel menegaskan Hamas tidak boleh lagi memiliki peran, baik dalam pemerintahan maupun kekuatan militer, di Gaza setelah perang usai.
Meski demikian, sejumlah pengamat menilai pembubaran pemerintahan sipil belum tentu berarti Hamas benar-benar melepaskan kekuasaan. Kelompok itu disebut masih dapat mempertahankan senjata, aparat keamanan, serta pengaruhnya di lapangan.
Pemimpin Redaksi media pan-Arab Jusoor News, Hadeel Oueis, bahkan menyebut pengumuman tersebut hanya sebagai langkah simbolis.
Menurutnya, keputusan Hamas kemungkinan bertujuan mengirim sinyal kepada Presiden Amerika Serikat Donald Trump bahwa kelompok tersebut telah memenuhi tuntutan tertentu, sehingga kini giliran Israel yang dianggap menghambat kelanjutan rencana tersebut.
"Ini hanya sandiwara dan tidak mengubah apa pun di lapangan dalam kenyataan," kata Oueis kepada Fox News Digital.
Baca Juga: Israel Ngamuk Gegara Amerika Serikat Pilih Dekati Turki: Jangan Beri Erdogan Jet Tempur F-35
Kecurigaan serupa juga disampaikan Menteri Luar Negeri Israel Gideon Sa'ar. Ia menilai Hamas berusaha meniru pola yang selama ini diterapkan Hizbullah di Lebanon, yakni tetap mempertahankan kekuatan militer meski urusan pemerintahan sipil dijalankan oleh pihak lain.
"Mereka tidak peduli jika pihak lain mengumpulkan sampah, menyediakan layanan kota, dan mengelola urusan sipil, asalkan Hamas tetap menjadi kekuatan militer dominan," kata Sa'ar saat bertemu Menteri Luar Negeri Jerman Johann Wadephul, Selasa.
Dengan demikian, pengumuman pembubaran pemerintahan sipil Hamas masih memunculkan tanda tanya besar. Di satu sisi, langkah tersebut dinilai dapat membuka jalan bagi pemerintahan baru di Gaza. Namun di sisi lain, Israel dan sejumlah pengamat meyakini Hamas belum benar-benar melepas kendali atas wilayah tersebut.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Belinda Safitri
Editor: Belinda Safitri