Eropa Tertawakan Kemampuan Rusia di Perang Ukraina: 4 Tahun Invasi Hanya Mampu Maju 60 Kilometer
Kredit Foto: Istimewa
Eropa menyoroti kemampuan militer dari Rusia di Ukraina. Hal tersebut menjadi bahan olok-olok sejumlah pemimpin kawasan euro di Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) di Ankara, Turki.
Presiden Finlandia Alexander Stubb menyindir laju invasi negara tersebut yang dinilainya sangat lambat. Pasukan Rusia menurutnya hanya mampu bergerak maju sekitar 60 kilometer setelah lebih dari empat tahun perang. Capaian tersebut jauh dari target yang diharapkan ketika invasi skala penuh dimulai oleh Moskow.
Baca Juga: Demi Keuntungan, Iran Diam-diam Sengaja Pancing Kemarahan Trump: Mereka Sedang Memperolok Amerika
Ukraina menurutnya justru telah memenangkan perang dari sisi strategis karena tetap mampu mempertahankan kemerdekaan, kedaulatan dan eksistensi negaranya meski menghadapi tekanan militer Rusia selama bertahun-tahun.
"Lihatlah dari perspektif Moskow. Dalam empat tahun perang aktif, mereka hanya maju 60 kilometer. Pada Perang Dunia II mereka bergerak dari Moskow ke Berlin, sejauh 1.400 kilometer. Jadi Anda harus bertanya, siapa yang menang dan siapa yang kalah? Saya katakan Ukraina yang menang," ujar Alexander Stubb, dikutip Rabu (8/7).
Keberhasilan Ukraina bertahan dari invasi merupakan bukti bahwa tujuan utama musuh belum tercapai. Stubb karena itu menilai dukungan aliansi terhadap mereka harus terus diperkuat, terutama dalam bidang pertahanan udara.
"Ya, Eropa memang harus meningkatkan kemampuannya. Ukraina membutuhkan NATO. NATO juga membutuhkan Ukraina," tegasnya.
Nada serupa disampaikan Perdana Menteri Swedia Ulf Kristersson. Menurut Kristersson, Rusia telah gagal memperoleh kemenangan cepat seperti yang diperkirakan ketika invasi dimulai pada 2022.
"Rusia jelas tidak sedang memenangkan perang melawan Ukraina. Ukraina justru mencatat keberhasilan yang luar biasa. Rusia sama sekali tidak menjalankan perang ini seperti yang mereka perkirakan di awal," kata Kristersson.
Komentar kedua pemimpin tersebut muncul ketika para anggota aliansi berkumpul untuk membahas masa depan dari Ukraina. Mereka juga menyoroti keamanan serta penguatan kemampuan pertahanan negara-negara anggota, menyusul ancaman dari Rusia .
Stubb mengingatkan bahwa aliansi kini memasuki fase baru dengan tanggung jawab pertahanan yang lebih besar diemban negara-negara dari Eropa. Ia menyebut perubahan tersebut sebagai bagian dari konsep "NATO 3.0"
"Karena itulah kita berbicara tentang NATO 3.0. Kita berbicara mengenai pergeseran tanggung jawab dari Amerika Serikat ke Eropa," jelas Stubb.
Stubb, meski optimistis terhadap posisi Ukraina, mengingatkan bahwa mereka masih membutuhkan bantuan militer dalam jumlah besar, khususnya sistem pertahanan udara untuk menghadapi serangan rudal dari Rusia.
"Kita tidak boleh hanya tersenyum. Zelensky membutuhkan sistem pertahanan udara, dan di situlah kita harus membantu Ukraina semaksimal mungkin," katanya.
Adapun Kristersson menilai musuh kini berharap waktu akan berpihak kepada mereka dengan mengandalkan kelelahan negara-negara kawasan euro dalam mendukung Ukraina.
"Saat ini waktu tidak berada di Rusia. Rusia berharap kami lelah menghadapi perang ini, memiliki prioritas lain, atau merasa takut. Namun sejauh ini justru yang terjadi adalah sebaliknya," ujarnya.
Baca Juga: Lewat Surat, Jokowi Akan Serbu Pengadilan usai Roy Suryo Menang di Praperadilan Kasus Ijazah
Pernyataan Stubb dan Kristersson mencerminkan semakin kuatnya keyakinan negara-negara kawasn euro bahwa musuh belum mampu mencapai tujuan strategisnya di Ukraina. NATO juga berupaya memastikan dukungan militer kepada negara terkait agar tetap berlanjut agar keseimbangan kekuatan di medan perang tidak berubah dan tekanan terhadap musuh terus dipertahankan.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Aldi Ginastiar
Editor: Aldi Ginastiar