Kredit Foto: Ilham Nurul Karim
BAIC Indonesia mengungkap alasan di balik keputusan mengganti nama Arcfox T1 menjadi BAIC T1 saat dipasarkan di Indonesia. Langkah tersebut bukan sekadar pergantian identitas, tetapi merupakan bagian dari strategi perusahaan untuk memperkuat merek BAIC di pasar otomotif nasional.
Chief Operating Officer PT JIO Distribusi Indonesia, Dhani Yahya, mengatakan, penggunaan nama BAIC T1 dipilih setelah melalui pembahasan bersama prinsipal di China. Menurutnya, BAIC ingin memanfaatkan ekuitas merek (brand equity) yang selama ini telah dibangun di Indonesia.
"Strategi kami melihat brand equity BAIC sudah cukup kuat. Karena itu kami memutuskan menggunakan nama BAIC T1," ujar Dhani.
Padahal, di pasar global mobil listrik tersebut dikembangkan oleh Arcfox, sub-brand BAIC Group yang fokus mengembangkan kendaraan listrik berbasis teknologi pintar.
Meski demikian, BAIC Indonesia menilai penggunaan merek Arcfox justru berpotensi membingungkan konsumen karena harus membangun identitas baru dari awal.
Hindari Investasi Ganda di Dealer
Dhani menjelaskan, jika Arcfox dipasarkan sebagai merek terpisah, jaringan dealer harus melakukan investasi tambahan, mulai dari papan nama (signage), area showroom khusus, hingga identitas merek yang berbeda.
"Kalau menggunakan Arcfox, berarti dealer harus membuat shop in shop, ada signage Arcfox dan berbagai kebutuhan branding lainnya. Kami melihat akan lebih efektif jika semuanya menggunakan nama BAIC," katanya.
Baca Juga: BAIC T1 Siap Dirakit di Indonesia pada 2027, Bidik TKDN 60 Persen
Dengan strategi tersebut, seluruh lini kendaraan, baik bermesin konvensional, hybrid, maupun listrik, akan berada di bawah satu identitas merek sehingga lebih mudah dikenali konsumen.
Menurut Dhani, langkah tersebut juga membuat BAIC memiliki jangkauan pasar yang lebih luas.
"Orang mengenal BAIC bukan hanya sebagai merek off-road. Kami ingin menunjukkan bahwa BAIC Group juga memiliki kendaraan listrik, SUV, hingga berbagai model lainnya," ujarnya.
Jadi Contoh bagi Negara Lain
Keputusan BAIC Indonesia ternyata mendapat respons positif dari prinsipal di China. Bahkan, menurut Dhani, strategi rebranding tersebut mulai dilirik oleh sejumlah negara lain.
"Setelah kami komunikasikan dengan prinsipal, ada beberapa negara yang akhirnya ingin mengikuti langkah kami. Mereka melihat strategi ini cukup baik," kata Dhani.
Meski saat ini seluruh kendaraan dipasarkan dengan merek BAIC, ia tidak menutup kemungkinan Arcfox akan hadir sebagai merek tersendiri di masa mendatang apabila pasar kendaraan listrik di Indonesia terus berkembang.
"Kalau ke depan memang potensinya semakin besar, bukan tidak mungkin nanti ada showroom khusus kendaraan listrik. Tapi untuk saat ini kami menilai strategi menggunakan nama BAIC merupakan pilihan yang paling tepat," ujarnya.
BAIC Ingin Perkuat Identitas Merek
Selama ini BAIC dikenal lewat model-model SUV dan kendaraan berpenggerak empat roda seperti BJ40 Plus maupun BJ30 Hybrid.
Melalui kehadiran BAIC T1, perusahaan ingin memperluas citra mereknya agar tidak hanya identik dengan kendaraan off-road, tetapi juga sebagai produsen yang memiliki portofolio kendaraan elektrifikasi.
Baca Juga: Intip Spesifikasi BAIC T1, Mobil Listrik Baru Penantang di Segmen Hatchback Crossover
Dhani optimistis lini kendaraan listrik akan menjadi salah satu penopang utama pertumbuhan BAIC di Indonesia.
"Ke depan saya rasa mobil listrik akan menjadi salah satu tulang punggung bisnis BAIC di Indonesia. Selain T1, kami juga telah menyiapkan model-model listrik lainnya untuk memperkuat pertumbuhan penjualan," katanya.
Dengan strategi tersebut, BAIC berharap dapat memperkuat posisi mereknya di Indonesia sekaligus mempermudah konsumen mengenali seluruh jajaran produknya, baik kendaraan bermesin konvensional maupun kendaraan listrik.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Ilham Nurul Karim
Editor: Fajar Sulaiman