Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        AFTECH Petakan Lima Transisi Besar yang Akan Menentukan Masa Depan Industri Fintech Indonesia

        AFTECH Petakan Lima Transisi Besar yang Akan Menentukan Masa Depan Industri Fintech Indonesia Kredit Foto: Sufri Yuliardi
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Industri fintech Indonesia tengah memasuki fase pendewasaan setelah lebih dari satu dekade bertumbuh secara ekspansif. Dalam fase baru ini, daya saing industri tidak lagi semata ditentukan oleh kecepatan pertumbuhan, tetapi juga oleh kekuatan fundamental bisnis, kepastian regulasi, kepercayaan digital, hingga kontribusi nyata terhadap perekonomian dan masyarakat.

        Hal tersebut menjadi temuan utama Annual Members Survey (AMS) 2025–2026 yang dilakukan Asosiasi Fintech Indonesia (AFTECH). Survei ini melibatkan 141 perusahaan anggota AFTECH yang berasal dari sektor sistem pembayaran, pembiayaan digital, aset digital, layanan teknologi finansial, serta berbagai platform pendukung ekosistem.

        Ketua Umum AFTECH, Pandu Sjahrir, mengatakan hasil AMS tahun ini menunjukkan bahwa indikator daya saing industri fintech terus berkembang seiring meningkatnya kematangan industri.

        "Industri fintech Indonesia sedang memasuki fase pendewasaan. Daya saing ke depan tidak hanya ditentukan oleh seberapa cepat perusahaan tumbuh, tetapi oleh seberapa kuat fundamental bisnisnya, seberapa konsisten regulasi dapat diimplementasikan, seberapa besar kepercayaan digital yang bisa dibangun, serta seberapa nyata dampaknya bagi masyarakat dan perekonomian," ujar Pandu.

        Lima Transisi Struktural Industri Fintech

        Berdasarkan hasil AMS 2025–2026, AFTECH mengidentifikasi lima transisi struktural yang akan membentuk arah perkembangan industri fintech Indonesia ke depan.

        Pertama, dari pertumbuhan menuju penguatan fundamental bisnis. Setelah melewati periode ekspansi yang pesat, fokus industri kini bergeser pada profitabilitas, efisiensi, dan kualitas model bisnis. Hal ini tercermin dari 77% responden yang menjadikan kemitraan strategis sebagai strategi pertumbuhan utama, sementara 97% tidak mengubah model bisnisnya dalam satu tahun terakhir.

        Kedua, dari regulasi menuju kepastian implementasi. Seiring semakin matangnya kerangka regulasi, kebutuhan industri kini bergeser pada konsistensi, harmonisasi, dan kepastian penerapan aturan. Sebanyak 84% responden menilai kepastian dan stabilitas regulasi sebagai bentuk dukungan pemerintah yang paling dibutuhkan.

        Ketiga, dari infrastruktur digital menuju kepercayaan digital. Infrastruktur tidak lagi hanya berfungsi mempercepat konektivitas dan transaksi, tetapi juga menjadi fondasi dalam membangun keamanan dan kepercayaan masyarakat. Sebanyak 53% responden menempatkan penguatan identitas digital sebagai prioritas utama pengembangan infrastruktur.

        Keempat, dari adopsi teknologi menuju penguatan kapabilitas. Seiring semakin luasnya pemanfaatan teknologi, tantangan berikutnya adalah memastikan kesiapan sumber daya manusia dan organisasi untuk mengoptimalkannya. Sebanyak 48% responden menyebut talenta di bidang data, kecerdasan buatan (AI), dan analitik sebagai kategori tenaga kerja yang paling sulit direkrut.

        Kelima, dari inklusi menuju dampak yang lebih berkelanjutan. Setelah perluasan akses menjadi fokus utama, tantangan berikutnya adalah memastikan masyarakat mampu memahami, memanfaatkan, dan memperoleh manfaat nyata dari layanan keuangan digital. Sebanyak 71% responden menilai rendahnya literasi keuangan masih menjadi hambatan utama dalam memperluas inklusi keuangan.

        "Lima transisi ini menunjukkan bahwa fintech semakin menjadi bagian penting dari arsitektur ekonomi digital Indonesia. Karena itu, kolaborasi antara industri, regulator, pemerintah, lembaga keuangan, penyedia teknologi, dan institusi pendidikan menjadi semakin penting untuk memastikan pertumbuhan yang sehat dan berkelanjutan," tambah Pandu.

        Sementara itu, Sekretaris Jenderal AFTECH, Firlie Ganinduto, mengatakan hasil AMS 2025–2026 juga menunjukkan penguatan dari sisi kinerja bisnis, tata kelola, dan kesiapan teknologi.

        Sebanyak 43% responden telah membukukan laba, sementara 81% telah menjalin kemitraan aktif dengan pelaku ekosistem lainnya. Selain itu, 86% responden menilai kerangka regulasi saat ini mendukung inovasi, dan 81% menilai regulasi telah mendukung pertumbuhan industri.

        "Data AMS memperlihatkan bahwa industri tidak hanya tumbuh lebih besar, tetapi juga semakin siap, tertata, dan bertanggung jawab. Hal ini terlihat dari profitabilitas yang mulai menguat, kolaborasi ekosistem yang semakin luas, serta persepsi positif terhadap arah regulasi," ujar Firlie.

        Dari sisi teknologi, adopsi AI juga semakin masif. Sebanyak 83% responden telah menggunakan atau menguji coba AI dalam operasional perusahaan, mulai dari analitik data, layanan pelanggan, otomatisasi proses, deteksi fraud, hingga penilaian kredit dan manajemen risiko.

        Sementara itu, pada aspek inklusi dan keberlanjutan, 50% responden menyatakan produk atau layanannya dirancang untuk menjangkau masyarakat unbanked maupun underserved, 81% menjalankan program literasi keuangan, dan 56% telah memiliki atau sedang mengembangkan program Environmental, Social, and Governance (ESG).

        Melalui AMS 2025–2026, AFTECH menegaskan komitmennya untuk terus mendorong industri keuangan digital yang inovatif, aman, inklusif, dan bertanggung jawab. Dengan fondasi yang semakin kuat, industri fintech Indonesia diharapkan mampu memperluas akses keuangan, meningkatkan kepercayaan publik, serta memberikan kontribusi yang lebih besar terhadap pertumbuhan ekonomi nasional.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Editor: Sufri Yuliardi

        Bagikan Artikel: