Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Dikomandoi Trump, Serangan Terbaru Amerika ke Iran Mengubur Diplomasi Timur Tengah

        Dikomandoi Trump, Serangan Terbaru Amerika ke Iran Mengubur Diplomasi Timur Tengah Kredit Foto: ChatGPT/Al Musthafa Gustar's
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Dunia menyoroti gelombang serangan terbaru yang dilancarkan oleh Amerika Serikat (AS) ke Iran. Hal tersebut memunculkan kekhawatiran baru terhadap masa depan diplomasi kedua negara di Timur Tengah.

        Pemerintah Iran secara terbuka mengecam serangan terbaru tersebut dan menilai tindakan itu telah menggagalkan seluruh proses diplomasi yang sebelumnya berlangsung. Teheran bahkan menyebut langkah tersebut telah membuat berbagai upaya penyelesaian damai menjadi tidak lagi memiliki nilai di tengah situasi kawasan yang semakin memanas.

        Baca Juga: Dibongkar Ahli Hukum, Polisi Bisa Kalah Sidang Lawan Febrie Adriansyah di Korupsi TPPU

        Kementerian Luar Negeri Iran menyebutkan bahwa serangan tersebut telah "membuat sia-sia seluruh upaya diplomatik beberapa bulan terakhir" karena membuat diplomasi kehilangan makna menyusul konflik kembali diselesaikan melalui kekuatan senjata.

        Iran juga menuding keterlibatan militer dan serangan tersebut memperburuk stabilitas di Selat Hormuz. Ia merupakan jalur pelayaran strategis yang menjadi salah satu urat nadi perdagangan energi dunia.

        "Pemerintah Amerika Serikat juga telah menyebabkan kembalinya ketidakamanan di Selat Hormuz. Ia telah mengganggu pelayaran komersial internasional dengan secara terbuka mencampuri proses kami dalam menerapkan pengaturan yang diperlukan di Selat Hormuz," demikian isi pernyataan Kementerian Luar Negeri Iran, dikutip Senin (13/7).

        Adapun Militer Amerika Serikat menegaskan operasi militer tersebut merupakan respons atas serangan terhadap sejumlah lokasi di Teluk. Washington menyebut operasi dilakukan untuk mengurangi kemampuan musuh menyerang kapal-kapal sipil maupun kapal dagang yang melintasi Selat Hormuz.

        Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) melalui akun resminya di platform X menyatakan bahwa operasi militer telah dimulai sebagai bagian dari instruksi langsung Presiden Amerika Serikat, Donald Trump.

        "Kami telah meluncurkan lebih banyak serangan terhadap mereka untuk terus mengurangi kemampuan mereka menyerang pelaut sipil dan kapal komersial yang melintas bebas di Selat Hormuz. Panglima Tertinggi telah memerintahkan serangan ini untuk meminta pertanggungjawaban pasukan Iran," ungkap CENTCOM.

        Pernyataan kedua negara tersebut semakin memperlihatkan bahwa ruang dialog kini semakin menyempit. Alih-alih mengedepankan penyelesaian melalui jalur diplomasi, kedua pihak kembali menunjukkan pendekatan militer sebagai respons atas eskalasi yang terus meningkat.

        Media pemerintah Iran melaporkan sejumlah ledakan terdengar di beberapa wilayah strategis, termasuk Pulau Qeshm, Jask, Sirik hingga Bandar Abbas. Wilayah-wilayah tersebut berada di sekitar dari Selat Hormuz.

        Situasi ini meningkatkan kekhawatiran komunitas internasional terhadap keamanan pelayaran global. Gangguan di Selat Hormuz berpotensi memengaruhi rantai pasok energi internasional mengingat sekitar seperlima perdagangan minyak dunia melewati jalur tersebut.

        Bagi Timur Tengah, perkembangan terbaru ini dinilai menjadi sinyal bahwa berbagai kesepakatan dan jalur negosiasi yang sebelumnya diupayakan semakin sulit dipertahankan. Ketika aksi militer kembali menjadi pilihan utama, kepercayaan antarnegara terhadap proses diplomasi berisiko terus menurun.

        Baca Juga: Kasus Febrie Adriansyah Bikin Ucapan 'Baju Hijau dan Coklat Suka Bekingi Mafia' Prabowo Viral Lagi

        Jika eskalasi terus berlanjut tanpa adanya ruang dialog baru, bukan hanya stabilitas keamanan kawasan yang dipertaruhkan, tetapi juga kredibilitas berbagai perjanjian internasional yang selama ini menjadi landasan penyelesaian konflik di Timur Tengah. Kondisi tersebut dikhawatirkan akan memperpanjang ketidakpastian geopolitik sekaligus meningkatkan risiko terhadap perdagangan global, khususnya sektor energi yang sangat bergantung pada keamanan Selat Hormuz.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Aldi Ginastiar
        Editor: Aldi Ginastiar

        Bagikan Artikel: