Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Berawal dari Minyak Jelantah, FIFGROUP Mojokerto Ubah Limbah Jadi Souvenir hingga Sumber Dana Sosial

        Berawal dari Minyak Jelantah, FIFGROUP Mojokerto Ubah Limbah Jadi Souvenir hingga Sumber Dana Sosial Kredit Foto: ChatGPT/Al Musthafa Gustar's
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Bagi sebagian besar rumah tangga, minyak jelantah biasanya berakhir di saluran air atau tempat sampah. Namun di FIFGROUP Cabang Mojokerto, limbah dapur tersebut justru diubah menjadi produk bernilai ekonomi sekaligus sarana edukasi lingkungan.

        Program itu bermula dari survei internal yang dilakukan tim cabang pada 2025. Hasilnya menunjukkan sebagian besar karyawan belum mengetahui cara mengelola minyak jelantah dengan benar sehingga limbah tersebut umumnya langsung dibuang setelah digunakan.

        "Kami melakukan pemetaan terlebih dahulu. Ternyata kebanyakan minyak jelantah memang dibuang begitu saja, padahal itu mencemari lingkungan," kata People Area Support Jatim 4 FIFGROUP Cabang Mojokerto, Maria Ulfa saat ditemui di Sukabumi, Sabtu (11/7/2026).

        Temuan tersebut mendorong FIFGROUP Mojokerto menggandeng Bank Sampah Kota Mojokerto dan Dinas Lingkungan Hidup untuk memberikan pelatihan mengenai pengolahan minyak jelantah. Dari berbagai alternatif yang dipelajari, cabang akhirnya memilih mengolah limbah tersebut menjadi sabun pembersih dan lilin aromaterapi karena dinilai paling mudah diterapkan dalam skala kecil.

        Sebelum diolah, minyak jelantah yang dikumpulkan dari rumah para karyawan terlebih dahulu dimurnikan menggunakan arang aktif agar warna, bau, dan kandungan pengotornya berkurang. Proses pemurnian dilakukan di luar kantor demi alasan keselamatan, sedangkan praktik pembuatan sabun dan lilin dilaksanakan bersama para karyawan.

        FIFGROUP kemudian membentuk kelompok-kelompok kecil berisi tiga orang untuk mengikuti kelas pengolahan minyak jelantah secara bergiliran. Program tersebut melibatkan sekitar 24 karyawan dari berbagai fungsi, baik yang bekerja di kantor maupun di lapangan.

        "Kami ingin karyawan tidak hanya belajar mengolah limbah, tetapi juga menjadi agen edukasi di keluarga dan lingkungan tempat tinggalnya," ujar Maria.

        Baca Juga: Dari Manisnya Gula Aren, FIFGROUP Belajar tentang Keberlanjutan dari Desa Gedepangrango

        Hasilnya cukup signifikan. Ratusan lilin aromaterapi dan sabun berhasil diproduksi dari minyak jelantah yang sebelumnya dianggap tidak memiliki nilai. Lilin dibuat dengan berbagai bentuk, seperti bunga mawar, serta diberi aroma terapi agar tampil lebih menarik.

        Produk tersebut kemudian dimanfaatkan sebagai suvenir bagi pelanggan FIFGROUP yang memiliki riwayat pembayaran baik. Cara itu sekaligus menjadi media edukasi bahwa minyak jelantah dapat diolah menjadi produk yang bermanfaat.

        "Customer banyak yang tidak percaya kalau bahannya berasal dari minyak jelantah. Setelah dijelaskan proses pembuatannya, mereka justru tertarik," katanya.

        Tidak berhenti di lingkungan perusahaan, FIFGROUP juga mengajak warga di sekitar kantor mengikuti demonstrasi pengolahan minyak jelantah. Edukasi dilakukan agar masyarakat tidak lagi membuang limbah minyak ke saluran air yang dapat menyumbat drainase dan mencemari lingkungan.

        Program ini bahkan berkembang menjadi kolaborasi dengan pelaku UMKM. Produk sabun dan lilin mulai dipasarkan sebagai suvenir, termasuk suvenir pernikahan, melalui mitra UMKM dan kanal penjualan daring.

        Menariknya, keuntungan dari penjualan produk tidak menjadi pendapatan perusahaan. Seluruh hasil penjualan dikembalikan untuk mendukung berbagai kegiatan sosial karyawan, seperti bantuan bagi karyawan yang sakit, melahirkan, mengalami musibah, maupun kegiatan internal lainnya.

        "Prinsip kami adalah dari karyawan, oleh karyawan, dan untuk karyawan. Jadi manfaatnya kembali lagi kepada mereka," tutur Maria.

        Baca Juga: Astra Ajak Generasi Muda NTB Jadi Agen Perubahan melalui SATU Indonesia Awards 2026

        Menurutnya, tantangan terbesar justru bukan pada proses produksi, melainkan membangun kesadaran karyawan mengenai pentingnya mengelola minyak jelantah. Karena itu, tim lebih dulu melakukan sosialisasi dan membentuk komunitas belajar sebelum program dijalankan.

        Pendekatan tersebut membuahkan hasil. Program ini mendapat dukungan dari Dinas Lingkungan Hidup, Bank Sampah Kota Mojokerto, hingga menjadi bahan studi banding sejumlah instansi, termasuk Polres Mojokerto yang ingin mengembangkan program serupa bersama Bhayangkari.

        Ke depan, FIFGROUP Mojokerto belum berfokus menjadikan produk tersebut sebagai bisnis komersial berskala besar. Prioritas utama perusahaan adalah memperluas budaya pengelolaan limbah minyak jelantah ke cabang-cabang lain sehingga semakin banyak karyawan dan masyarakat yang memahami bahwa limbah rumah tangga pun dapat diubah menjadi produk yang memiliki nilai ekonomi sekaligus memberikan manfaat bagi lingkungan.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Ilham Nurul Karim
        Editor: Fajar Sulaiman

        Bagikan Artikel: