Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Bos BTN Ungkap Penarikan Dana SAL Picu Bank Berebut Likuiditas

        Bos BTN Ungkap Penarikan Dana SAL Picu Bank Berebut Likuiditas Kredit Foto: Sufri Yuliardi
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BTN) sempat menghadapi tekanan likuiditas setelah Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa menarik dana penempatan Saldo Anggaran Lebih (SAL) di Himpunan Bank Milik Negara (Himbara) beberapa waktu lalu.

        Kondisi tersebut terjadi di tengah ketatnya likuiditas perbankan yang dipicu kenaikan suku bunga dan persaingan penghimpunan dana.

        Direktur Utama BTN, Nixon LP Napitupulu, mengatakan penarikan dana SAL sebelumnya bertepatan dengan kenaikan BI Rate dan imbal hasil Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI), sehingga likuiditas perbankan menjadi sangat ketat.

        "Kemarin kan agak sedikit masalah, karena BI rate naik, SRBI naik, likuiditas ketat, terus duit harus kembali. Itu sebenarnya terjadi crossing, berebut akhirnya, itu yang terjadi," kata Nixon di Menara BTN 2, Jakarta, Kamis (16/7/2026). 

        Ia menilai penarikan dana secara bersamaan dengan instrumen lain, seperti SRBI dan penerbitan Surat Berharga Negara (SBN), membuat perbankan harus berebut likuiditas di pasar. Kondisi tersebut mendorong bank-bank menaikkan suku bunga deposito untuk menarik dana masyarakat.

        “Karena kalau semua bersamaan nyedot, udah pasti bank kalah. SRBI nyedot dan sebagainya, SBN juga keluar, bank pasti kalah, terus bank harus membalikkan duit juga,” jelasnya.

        Nixon menambahkan, persoalan tersebut telah dibahas bersama Kementerian Keuangan dan DPR. Menurutnya, situasi serupa sebenarnya dapat dihindari apabila terdapat koordinasi yang lebih baik, terutama terkait waktu penarikan dana pemerintah.

        "Cuma ini kan udah berhasil diatasi, kita semua menghadap Menteri Keuangan, dipanggil DPR, udah kita jelasin bahwa situasi ini bisa dicegah kalau ada koordinasi yang baik, terutama timing penarikannya," ujarnya.

        Nixon juga mengusulkan agar mekanisme penghimpunan dana oleh Badan Layanan Umum (BLU) lebih terkoordinasi agar tidak semakin mendorong persaingan bunga deposito.

        Baca Juga: Purbaya Beberkan Alasan Penempatan SAL di Bank, Sebut Data Likuiditas KSSK Keliru

        Baca Juga: Naik 40,8%, Laba BTN Capai Rp2,40 Triliun pada semester I 2026

        Lebih lanjut, BTN menargetkan biaya dana (cost of fund/CoF) tetap terjaga hingga akhir tahun. Pada Semester I 2026, CoF BTN tercatat sebesar 3,01%.

        "Soal cost of fund BTN akan menjaga di kisaran 3,1 sampai 3,33 (hingga akhir tahun)," tutup Nixon.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Cita Auliana
        Editor: Dwi Aditya Putra

        Bagikan Artikel: