Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        DBS Ungkap Ledakan AI Bisa Jadi Mesin Baru Pertumbuhan Ekonomi Indonesia

        DBS Ungkap Ledakan AI Bisa Jadi Mesin Baru Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Kredit Foto: Istimewa
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Perkembangan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) dan meningkatnya kebutuhan global terhadap mineral strategis dinilai membuka peluang baru bagi pertumbuhan ekonomi Indonesia dalam jangka menengah. Di tengah persaingan Amerika Serikat dan Tiongkok yang semakin intensif, Indonesia dipandang berada pada posisi yang diuntungkan berkat kekayaan sumber daya alam dan penguatan hilirisasi.

        PT Bank DBS Indonesia menilai perubahan lanskap ekonomi global tidak lagi hanya dipengaruhi oleh faktor geopolitik, tetapi juga oleh perlombaan penguasaan teknologi AI, pergeseran rantai pasok global, serta kebutuhan bahan baku industri masa depan.

        Head of Market Intelligence PT Bank DBS Indonesia Boy Suhendry mengatakan meningkatnya investasi global di sektor AI diperkirakan akan mendorong permintaan terhadap komoditas mineral strategis yang menjadi keunggulan Indonesia, seperti nikel, tembaga, dan bauksit.

        "Saat ini Amerika Serikat masih menunjukkan ketahanan ekonomi yang baik, sementara Asia terus mencatat momentum pertumbuhan yang positif. Indonesia memiliki sejumlah keunggulan struktural yang menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi, mulai dari sumber daya alam yang melimpah, konsumsi domestik yang kuat, bonus demografi, hingga program hilirisasi yang terus meningkatkan nilai tambah industri nasional," ujar Boy dalam keterangan resmi, Selasa (21/7/2026).

        Menurutnya, meningkatnya kebutuhan mineral untuk mendukung pengembangan AI berpotensi menjadi katalis baru bagi pertumbuhan ekonomi Indonesia dalam jangka menengah.

        Persaingan Amerika Serikat dan Tiongkok yang kini meluas dari sektor militer ke ekonomi, teknologi, hingga diplomasi juga dinilai mengubah arah investasi global. Kondisi tersebut mendorong investor untuk lebih memperhatikan tren struktural jangka panjang dibandingkan hanya sentimen jangka pendek.

        Head of Investment & Insurance Products Consumer Banking Group PT Bank DBS Indonesia Djoko Sulistyo mengatakan perkembangan AI menjadi salah satu faktor utama yang akan memengaruhi keputusan investasi ke depan.

        "Amerika Serikat masih menjadi pemimpin dalam inovasi teknologi, khususnya AI. Tiongkok berhasil mengakselerasi pemanfaatan AI ke berbagai sektor industri sehingga meningkatkan produktivitas, sementara Asia, termasuk Indonesia, memperoleh manfaat dari pergeseran rantai pasok global dan pertumbuhan ekonomi regional," katanya.

        Ia menambahkan, selain memiliki prospek pertumbuhan ekonomi yang kuat, Asia juga memainkan peran penting dalam rantai pasok industri masa depan. Indonesia dinilai memiliki posisi strategis sebagai pemasok utama berbagai mineral yang dibutuhkan dalam pengembangan teknologi dan infrastruktur AI.

        DBS mencatat kondisi ekonomi global masih menunjukkan dinamika yang beragam. Berdasarkan Economic Surprise Index Bloomberg per pertengahan Juli 2026, Amerika Serikat mencatat indeks 55,0 yang menunjukkan kinerja ekonomi lebih baik dari ekspektasi. Sebaliknya, Tiongkok berada pada level minus 20,8, sedangkan kawasan Asia Pasifik masih mencatatkan indeks positif sebesar 51,5.

        Baca Juga: Indonesia Jadi Anggota Pendiri Organisasi AI Dunia di Bawah Naungan PBB

        Baca Juga: Elon Musk Diam-diam Beli APR Energy Rp18 Triliun demi AI Grok

        Baca Juga: Airlangga Gandeng AS Hingga China Kembangkan AI dan Ekosistem Digital

        Menurut DBS, kombinasi ketahanan ekonomi kawasan Asia, pergeseran rantai pasok global, serta meningkatnya permintaan terhadap mineral strategis memberikan peluang bagi Indonesia untuk memperkuat daya saing industri dan menarik investasi baru.

        Di tengah perubahan tersebut, investor juga dinilai perlu memperhatikan kekuatan fundamental masing-masing kawasan. DBS melihat Amerika Serikat, Tiongkok, serta Asia, termasuk Indonesia, masih menjadi kawasan utama yang layak dicermati dalam strategi investasi jangka menengah hingga panjang.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Yulisha Kirani Rizkya Pangestuti
        Editor: Annisa Nurfitri

        Bagikan Artikel: