Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        BI Salurkan Insentif KLM Rp431,9 Triliun, Bidik Pertumbuhan Kredit Kisaran 8-12%

        BI Salurkan Insentif KLM Rp431,9 Triliun, Bidik Pertumbuhan Kredit Kisaran 8-12% Kredit Foto: Antara/Indrianto Eko Suwarso
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Bank Indonesia (BI) telah menyalurkan insentif melalui Kebijakan Insentif Likuiditas Makroprudensial (KLM) sebesar Rp431,9 triliun hingga minggu pertama Juli 2026. Langkah ini dilakukan untuk memperkuat penyaluran kredit dan pembiayaan perbankan, khususnya ke sektor-sektor prioritas yang mendukung pertumbuhan ekonomi.

        Gubernur BI, Perry Warjiyo, mengatakan insentif tersebut disalurkan melalui dua skema, yakni lending channel sebesar Rp369,0 triliun dan interest rate channel sebesar Rp62,9 triliun.

        “Hingga minggu pertama Juli 2026, insentif KLM yang diperoleh bank tercatat sebesar Rp431,9 triliun dengan alokasi pada lending channel sebesar Rp369,0 triliun serta interest rate channel sebesar Rp62,9 triliun,” kata Perry dalam konferensi pers di Jakarta, Rabu (22/7/2026). 

        Berdasarkan kelompok bank, KLM disalurkan masing-masing kepada bank BUMN sebesar Rp219,6 triliun, BUSN sebesar Rp172,5 triliun, BPD sebesar Rp31,7 triliun, dan KCBA sebesar Rp8,1 triliun. 

        Secara sektoral, KLM telah disalurkan kepada sektor-sektor prioritas, mencakup sektor Pertanian, Industri, dan Hilirisasi, sektor Jasa termasuk Ekonomi Kreatif, sektor Konstruksi, Real Estate, dan Perumahan, serta sektor UMKM, Koperasi, Inklusi, dan Berkelanjutan. 

        Perry menegaskan, ke depan, Bank Indonesia terus memperkuat implementasi kebijakan makroprudensial yang akomodatif antara lain melalui penguatan KLM untuk mendukung pendalaman pasar uang, serta kebijakan Rasio Intermediasi Makroprudensial (RIM) dan Rasio Pendanaan Luar Negeri Bank (RPLN) yang telah dimanfaatkan oleh bank sejak 1 Juli 2026.

        “Untuk meningkatkan fleksibilitas perbankan dalam memperoleh pendanaan guna terus mendukung penyaluran kredit atau pembiayaan perbankan,” tambahnya. 

        Baca Juga: Bank Indonesia Umumkan Cadangan Devisa Naik, Tembus 145,6 Miliar Dollar AS

        Baca Juga: Perkuat Daya Saing UMKM, Bank Indonesia Kembali Gelar Karya Kreatif Sumatera Utara 2026

        Perry mengatakan, koordinasi dengan Pemerintah, KSSK, dan perbankan juga diperkuat untuk menjaga ketahanan likuiditas dan mendorong pertumbuhan kredit/pembiayaan perbankan. 

        Upaya tersebut mulai tercermin pada kinerja intermediasi perbankan. Pertumbuhan kredit pada Juni 2026 tercatat sebesar 12,67% secara tahunan (year on year/yoy), meningkat dibandingkan Mei 2026 yang tumbuh 11,51% (yoy).

        Ke depan, Bank Indonesia memperkirakan pertumbuhan kredit sepanjang 2026 tetap berada dalam kisaran 8-12%.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Cita Auliana
        Editor: Dwi Aditya Putra

        Tag Terkait:

        Bagikan Artikel: