Kredit Foto: Reuters/Washington Alves
PT Vale Indonesia Tbk mencatat tonggak baru dalam pengembangan proyek High Pressure Acid Leaching (HPAL) Sambalagi di Morowali, Sulawesi Tengah, dengan tibanya autoclave sebagai peralatan utama pengolahan bijih nikel limonit.
Kehadiran peralatan tersebut menjadi tahapan penting menuju penyelesaian konstruksi fasilitas pengolahan nikel yang ditargetkan mencapai first mechanical completion pada akhir 2026.
Autoclave merupakan komponen inti dalam teknologi HPAL yang digunakan untuk mengolah bijih limonit melalui kombinasi suhu tinggi, tekanan tinggi, dan asam sulfat sehingga menghasilkan Mixed Hydroxide Precipitate (MHP), bahan baku utama industri baterai kendaraan listrik.
Fasilitas HPAL Sambalagi dirancang memiliki kapasitas produksi sekitar 90.000 ton kandungan nikel per tahun dalam bentuk MHP dengan pasokan sekitar 10,4 juta ton bijih limonit per tahun dari tambang PT Vale di Bahodopi.
Presiden Direktur dan Chief Executive Officer PT Vale Indonesia Tbk, Bernardus Irmanto, mengatakan kedatangan autoclave menandai kemajuan nyata pembangunan proyek sekaligus mempertegas komitmen perusahaan terhadap hilirisasi mineral berkelanjutan.
"Kedatangan autoclave ini merupakan tonggak penting dalam Proyek HPAL Sambalagi. Sebagai jantung dari proses HPAL, autoclave akan memungkinkan pengolahan bijih limonit menjadi produk bernilai tambah tinggi yang mendukung rantai pasok global kendaraan listrik".
"Momentum ini mencerminkan komitmen PT Vale bersama para mitra untuk menghadirkan industri pengolahan nikel yang berdaya saing, mengedepankan prinsip keberlanjutan, keselamatan kerja, serta memberikan manfaat jangka panjang bagi Indonesia dan masyarakat di sekitar wilayah operasi," tuturnya.
Sebagai Proyek Strategis Nasional (PSN), HPAL Sambalagi dikembangkan melalui PT Bahodopi Nickel Smelting Indonesia (BNSI), perusahaan patungan PT Vale, GEM Co. Ltd., dan EcoPro.
Proyek yang berlokasi di Indonesia Green Industrial Park (IGIP), Morowali, itu menjadi bagian dari agenda pemerintah untuk mempercepat hilirisasi nikel sekaligus memperkuat ekosistem kendaraan listrik nasional.
Selain fasilitas pengolahan, proyek tersebut juga mengintegrasikan berbagai solusi rendah karbon.
Baca Juga: ESI Proyeksikan Limbah HPAL RI Capai 1,4 Miliar Ton di 2035
Baca Juga: Perkuat Ketahanan Energi, Pertamina Pacu Produksi Migas dari Regional 1 Zona 4
Kebutuhan listrik operasional akan didukung oleh Waste Heat Recovery Power Generation (WHRPG) yang memanfaatkan panas sisa proses produksi, serta pengembangan pembangkit listrik tenaga surya untuk meningkatkan penggunaan energi bersih di kawasan industri.
PT Vale juga membangun berbagai infrastruktur pendukung, mulai dari dermaga logistik, fasilitas utilitas, kawasan hunian pekerja, hingga fasilitas sosial.
Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM, Rosan Perkasa Roeslani, menilai proyek tersebut menjadi standar baru dalam pengembangan hilirisasi nasional.
"HPAL Sambalagi hari ini menempatkan standar baru, bukan sekadar mengikuti standar yang sudah ada. Proyek ini adalah bukti nyata bahwa kolaborasi lintas negara—Indonesia, Korea Selatan, dan Tiongkok—dapat berjalan selaras dengan kepentingan nasional kita, yaitu membangun kedaulatan sumber daya, membuka lapangan kerja, dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” ujar Rosan.
Ia menambahkan, kedatangan autoclave bukan sekadar menandai pembangunan fasilitas industri, melainkan bagian dari upaya membangun ekosistem hilirisasi yang terintegrasi.
“Hari ini kita memang menyambut kedatangan autoclave di HPAL Sambalagi. Namun yang sesungguhnya sedang kita bangun bukan hanya sebuah fasilitas industri. Kita sedang membangun ekosistem hilirisasi yang lengkap dan masa depan yang lebih baik bagi masyarakat Sulawesi Tengah dan Indonesia. Inilah makna sesungguhnya dari hilirisasi: menciptakan nilai, menciptakan kesempatan, dan menciptakan harapan,” tambahnya.
Dukungan juga datang dari Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah dan Pemerintah Kabupaten Morowali. Wakil Gubernur Sulawesi Tengah, Reny Arniwaty Lamadjido, menilai pengembangan kawasan industri tersebut tidak hanya mendorong pertumbuhan ekonomi melalui hilirisasi, tetapi juga membuka ruang bagi UMKM lokal serta meningkatkan akses masyarakat terhadap berbagai fasilitas pendukung.
Sementara itu, Bupati Morowali , ksan Baharudin Abdul Rauf, menyebut proyek HPAL Sambalagi berpotensi membuka lapangan kerja, menggerakkan sektor usaha lokal, dan menciptakan efek berganda bagi perekonomian daerah.
PT Vale menyatakan kedatangan autoclave menjadi fondasi menuju tahap pemasangan peralatan utama, commissioning, hingga operasional fasilitas HPAL Sambalagi.
Melalui proyek tersebut, perusahaan bersama mitranya menargetkan peningkatan nilai tambah mineral nasional sekaligus memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok global industri baterai dan transisi energi.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Rahmat Dwi Kurniawan
Editor: Dwi Aditya Putra
Tag Terkait: