Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        IHSG Anjlok Lebih dari 1% di Awal Perdagangan, Sentimen Global Tekan Pasar

        IHSG Anjlok Lebih dari 1% di Awal Perdagangan, Sentimen Global Tekan Pasar Kredit Foto: Antara/Akbar Nugroho Gumay
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami pelemahan yang cukup tajam pada pembukaan awal perdagangan Jumat (24/7/2026). Tekanan datang dari meningkatnya kewaspadaan investor terhadap berbagai sentimen global, mulai dari kenaikan harga minyak dunia dan aturan tarif baru yang diumumkan Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump.

        Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), IHSG dibuka di level 6.266,98 dan terus bergerak di zona negatif. Hingga pukul 09.00 WIB, indeks turun 79,50 poin atau 1,26% ke posisi 6.235,81.

        Pada awal perdagangan, sebanyak 312 saham tercatat melemah, 115 saham menguat, sedangkan 538 saham bergerak stagnan.

        Aktivitas transaksi di BEI mencatat nilai perdagangan sebesar Rp678,8 miliar dengan volume 1,288 miliar saham yang berpindah tangan dalam sekitar 107,5 ribu kali transaksi.

        Dalam risetnya, Phintraco Sekuritas menyebut kenaikan harga minyak mentah masih menjadi sentimen negatif bagi pasar saham. 

        "Jika IHSG turun menembus level moving average (MA) 5 di sekitar 6.280, indeks berpeluang melanjutkan koreksi menuju area 6.200-6.250," tulis riset dari Phintraco Sekuritas.

        Di sisi makroekonomi, jumlah uang beredar dalam arti luas (M2) di Indonesia tercatat tumbuh 8,7% secara tahunan atau year on year (yoy) menjadi Rp10.432,8 triliun pada Juni 2026. Meski masih meningkat, laju pertumbuhannya melambat dibandingkan Mei 2026 yang mencapai 10,8%.

        Pertumbuhan likuiditas tersebut didorong oleh kenaikan uang beredar sempit (M1) sebesar 9,8% dan uang kuasi sebesar 6,9%. Di saat yang sama, pertumbuhan kredit justru meningkat menjadi 12,67% YoY, menunjukkan aktivitas penyaluran kredit masih cukup kuat.

        Baca Juga: BEI Pantau Keras Saham JELI Akibat Anjlok Parah

        Baca Juga: BRI, BNI, dan Mandiri Resmi Lepas Anak Usaha Manajer Investasi ke Danantara

        Baca Juga: IHSG Berpeluang Menuju 6.850, Saham Ini Bisa Jadi Pilihan

        Phintraco juga menyoroti laporan S&P yang menyebut pelemahan nilai tukar dapat memberikan dampak berbeda bagi korporasi di Asia, termasuk Indonesia. Perusahaan berorientasi ekspor berpotensi memperoleh keuntungan dari depresiasi mata uang, sementara emiten yang bergantung pada impor diperkirakan menghadapi tekanan akibat kenaikan biaya.

        S&P mengelompokkan 69 emiten korporasi dan infrastruktur di Indonesia, India, dan Korea berdasarkan tingkat eksposurnya terhadap risiko nilai tukar. Beberapa perusahaan dinilai lebih rentan terhadap pelemahan mata uang karena adanya ketidaksesuaian antara pendapatan operasional dan kewajiban pembiayaan dalam valuta asing.

        "Secara historis, depresiasi mata uang yang tajam cenderung mengurangi kemampuan emiten dengan peringkat spekulatif dalam memenuhi kewajiban keuangannya," ungkap Phintraco Sekuritas.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Dian Ihsan
        Editor: Annisa Nurfitri

        Bagikan Artikel: